DINEWS.ID — Kabar menggembirakan datang dari upaya konservasi badak Sumatra di Indonesia. Dua badak Sumatra betina bernama Ratu dan Delilah yang berada di Suaka Rhino Sumatera (SRS) Taman Nasional Way Kambas, Lampung, saat ini tengah bunting dan diproyeksikan melahirkan pada 2027.
Kabar tersebut menjadi perhatian dalam upaya pelestarian satwa langka, terutama karena Ratu berpeluang mencetak rekor reproduksi badak Sumatra di fasilitas penangkaran jika proses kebuntingan dan persalinannya berjalan lancar.

Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI), Jansen Manansang, menyampaikan harapannya agar kedua badak tersebut dapat melahirkan dengan selamat dan menghasilkan anak yang sehat.
“Berarti kurang lebih 7-8 bulan lagi harapannya mereka bisa melahirkan dengan selamat dan anaknya sehat,” ujar Jansen dalam acara Rhino Talk di Taman Safari Indonesia, Bogor, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Ratu Mengandung Anak Keempat, Delilah Anak Kedua
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, mengungkapkan bahwa Ratu saat ini tengah mengandung anak keempat. Usia kebuntingan Ratu telah mencapai sekitar 7–8 bulan.
Sementara itu, Delilah yang merupakan anak Ratu juga sedang bunting. Delilah kini mengandung anak kedua dengan usia kebuntingan mencapai 8,3 bulan.
Kondisi tersebut menjadi kabar penting bagi upaya pengembangbiakan badak Sumatra di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas.
Ahmad menjelaskan bahwa kelahiran anak Delilah nantinya akan menjadi generasi berikutnya dalam keluarga badak Sumatra tersebut.
“Delilah ini anaknya Ratu juga. Jadi Delilah sedang bunting, berarti nanti yang lahir adalah cucunya Ratu. Delilah sekarang usia kebuntingannya 8,3 bulan,” jelas Ahmad.
Dengan dua badak betina yang tengah bunting, tim konservasi kini menantikan perkembangan kehamilan keduanya hingga waktu persalinan.
Ratu Berpotensi Cetak Rekor Dunia
Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam kabar kebuntingan ini adalah peluang Ratu mencetak rekor reproduksi badak Sumatra di fasilitas penangkaran.
Jika berhasil melahirkan anak keempat, Ratu berpotensi melampaui capaian reproduksi yang pernah tercatat sebelumnya.
Ahmad Munawir menjelaskan bahwa rekor kelahiran hingga tiga anak badak Sumatra di fasilitas penangkaran pernah dicapai di Cincinnati, Amerika Serikat.
“Kalau anak yang dilahirkan Ratu nanti yang keempat, maka ini bisa menjadi rekor dunia. Karena yang pernah ada sampai tiga anak itu ada di Cincinnati, Amerika Serikat,” ungkap Ahmad.
Peluang tersebut menjadikan proses kebuntingan Ratu sebagai salah satu perkembangan yang dinantikan dalam konservasi badak Sumatra.
Meski demikian, capaian itu masih bergantung pada kelancaran proses kebuntingan dan persalinan. Karena itu, pemantauan kesehatan serta kondisi kedua induk menjadi bagian penting dalam tahapan konservasi berikutnya.
Kelahiran Diproyeksikan pada April hingga Mei 2027
Badak Sumatra memiliki masa gestasi atau kehamilan sekitar 15–16 bulan. Dengan usia kebuntingan Ratu dan Delilah saat ini, kelahiran keduanya diproyeksikan berlangsung pada April hingga Mei 2027.
Menjelang perkiraan waktu persalinan, tim dokter hewan di Suaka Rhino Sumatera terus melakukan pemantauan secara intensif setiap hari.
Pemantauan tersebut dilakukan dengan menerapkan pola pemeliharaan semi-alami. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi badak selama masa kebuntingan hingga persalinan.
Harapan agar kedua badak dapat melahirkan dengan selamat juga disampaikan oleh Jansen Manansang. Menurutnya, kelahiran anak badak yang sehat menjadi hal penting dalam upaya konservasi satwa langka tersebut.
Kolaborasi Jadi Kunci Konservasi Badak Sumatra
Wakil Dewan Pembina YABI, Hadi S. Alikodra, menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung upaya konservasi badak Sumatra di Suaka Rhino Sumatera.
Ia menyebut keberhasilan pengelolaan yang melibatkan 10 individu badak di SRS tidak terlepas dari kerja sama melalui pendekatan Triple Helix.
Kolaborasi tersebut melibatkan unsur universitas, Yayasan Badak Indonesia, serta pemangku kebijakan.
“Kami enggak sendirian. Yang disebut dengan Triple Helix itu antara universitas, kemudian YABI, dan pemangku kebijakan. Kita menuju kepada populasi yang akurat, sehat, dan well-managed,” tutur Hadi.
Pendekatan kolaboratif tersebut menjadi bagian dari upaya mengelola populasi badak Sumatra secara terarah, dengan memperhatikan kesehatan dan pengelolaan satwa.
Kebuntingan Ratu dan Delilah menambah harapan bagi perkembangan konservasi badak Sumatra di Taman Nasional Way Kambas. Jika keduanya dapat melahirkan dengan selamat pada 2027, kelahiran tersebut akan menjadi perkembangan penting bagi upaya pelestarian satwa langka Indonesia.
Terlebih, Ratu berpeluang mencetak rekor dunia apabila berhasil melahirkan anak keempatnya. Saat ini, tim dokter hewan terus melakukan pemantauan intensif untuk mendukung kesehatan kedua badak hingga waktu persalinan tiba.







