DINEWS.ID – Tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kota Bogor yang kini mencapai sekitar 6.000 anak berhadapan langsung dengan minimnya minat belajar peserta didik di lapangan.
Kurangnya motivasi untuk kembali mengenyam pendidikan serta minimnya dorongan dari pihak orang tua menjadi benteng utama yang menghambat proses pengentasan ATS di wilayah tersebut.
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Forum Komunikasi (FK) PKBM Kota Bogor, Hasan, saat ditemui di PKBM Citra Pakuan, Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Jumat (24/7/2026).
”Di Kelurahan Tegallega saja, terdata ada 141 ATS, dan saat ini baru sekitar 35 anak yang berhasil masuk ke data kami. Kesulitan utama di lapangan bukan pada koordinasi antar instansi, melainkan minimnya minat belajar anak. Ketika didatangi, banyak yang menolak bersekolah dengan alasan lebih memilih bekerja mencari uang, dan sayangnya hal ini sering kali kurang mendapat dorongan dari orang tua,” ungkap Hasan, Jumat (24/7/2026).
Padahal, pihak FK PKBM bersama Pemkot Bogor terus melakukan penjangkauan secara masif, salah satunya lewat Gebyar PKBM serentak di seluruh kecamatan pada awal Juli lalu yang berhasil menggaet 800-an warga belajar baru.
Berbagai kemudahan dan fleksibilitas juga disiapkan, mulai dari penyediaan modul belajar mandiri hingga layanan guru kunjung ke rumah bagi anak berkebutuhan khusus.
Hasan mengungkapkan bawah saat ini, setidaknya terdapat 52 lembaga PKBM aktif di Kota Bogor yang menampung lebih dari 15.000 peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan kesetaraan (Paket A, B, dan C).
Kendati fasilitas dan sistem integrasi Dapodik sudah berjalan optimal, faktor kesadaran anak untuk mau bersekolah kembali menjadi tantangan paling krusial.
Selain masalah minat belajar, Hasan juga menyoroti adanya kendala pendataan di lapangan. Dalam beberapa kasus verifikasi silang bersama Dinas Pendidikan, ditemukan anak yang terbukti putus sekolah namun namanya tidak tercatat dalam basis data ATS pusat (Puspendik).
”Menjadi ironi ketika di Kota Bogor yang notabene kota maju dan akses pendidikannya dekat di mana-mana, kenyataannya masih banyak anak yang tidak sekolah. Kami terus berkomitmen mengawal dan memastikan keberlanjutan pendidikan mereka, baik di jenjang Paket A, B, C, maupun menjembatani mereka untuk kembali ke sekolah formal,” tegas Hasan. (Yis)













