Dinkes Kota Bogor Gelar Lokakarya Kesiapsiagaan Hadapi Penyakit Zoonotik

WhatsApp Image 2026 07 07 at 16.30.36
Ketua Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCI), Rizky Ka Syafitri

DINEWS.IDDinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor menggelar lokakarya kesiapsiagaan penyakit zoonotik sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari mulai Selasa (7/7/2026) itu melibatkan tenaga kesehatan, pemerintah, media, hingga masyarakat dalam memperkuat sistem kesiapsiagaan menghadapi potensi wabah.

Lokakarya ini bertujuan meningkatkan kapasitas seluruh pemangku kepentingan dalam mendeteksi, mencegah, dan merespons penyakit zoonotik secara cepat dan terkoordinasi. Dengan sistem yang telah dipersiapkan sejak dini, penanganan diharapkan dapat dilakukan sebelum penyebaran penyakit meluas.

Ketua Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCI), Rizky Ka Syafitri, mengatakan kesiapsiagaan masyarakat dan koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mencegah munculnya wabah.

“Tujuan kegiatan ini adalah bagian dari upaya kesiapsiagaan Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi penyakit-penyakit zoonotik yang menular dari hewan ke manusia dan berpotensi menjadi wabah. Persiapan harus dilakukan sebelum ada kasus maupun sebelum penyebaran terjadi,” ujar Rizky, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, masyarakat perlu memahami langkah-langkah pencegahan, mengetahui tindakan yang harus dilakukan apabila menemukan dugaan kasus infeksi, serta mengenali fasilitas kesehatan rujukan untuk mendapatkan penanganan maupun vaksinasi.

Soroti Ancaman Leptospirosis hingga Flu Burung

Dalam lokakarya tersebut, Dinkes Kota Bogor membahas sejumlah penyakit zoonotik yang berpotensi mengancam masyarakat, di antaranya rabies, flu burung, antraks, dan leptospirosis.

Rizky menjelaskan, leptospirosis menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai, terutama saat musim hujan. Penyakit ini dapat menyebar melalui genangan air yang terkontaminasi urine tikus. Sementara itu, rabies, flu burung, dan antraks juga memerlukan penanganan cepat agar tidak berkembang menjadi wabah.

“Kalau tidak dipersiapkan sejak dini, ketika wabah terjadi semua akan gagap. Penularannya bisa berlangsung sangat cepat sehingga sistem harus dibangun lebih dulu agar semua sektor sudah siap ketika ada kasus,” katanya.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Dinkes Kota Bogor bersama Portal Kesehatan Masyarakat (Porkesmas) yang tergabung dalam Pokja RCCI sebagai upaya memperkuat komunikasi risiko kepada masyarakat.

Masyarakat Diminta Lawan Hoaks dan Aktif Melapor

Selain meningkatkan kesiapsiagaan, Dinkes Kota Bogor juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menyaring informasi kesehatan di era digital. Warga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama saat terjadi wabah penyakit.

Rizky mengimbau masyarakat untuk memastikan kebenaran informasi melalui sumber resmi, seperti rccie.id, microsite informasi kesehatan pemerintah, maupun cekhoax.id.

Ia juga mengingatkan para peternak agar segera melaporkan kepada petugas Kesehatan Hewan (Keswan) apabila menemukan hewan ternak yang mati mendadak dalam jumlah banyak.

“Kalau ada hewan mati mendadak dalam jumlah besar harus segera dilaporkan ke Keswan. Nantinya akan dilakukan investigasi penyebab kematiannya agar tidak menyebar ke tempat lain,” tegasnya.

Menurut Rizky, sistem pelaporan dini membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk insan pers, agar potensi penyebaran penyakit dapat ditangani secepat mungkin.

“Risikonya bukan hanya ditanggung peternak, tetapi juga masyarakat luas. Karena itu warga maupun wartawan juga bisa ikut melaporkan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” pungkasnya. (Yis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *