DINEWS.ID – Kota Bogor yang selama ini dikenal sebagai Kota Hujan dengan udara sejuk kini mulai mengalami peningkatan suhu udara. Fenomena tersebut merupakan dampak kombinasi perubahan iklim global, fenomena El Nino, serta pesatnya urbanisasi yang mengurangi ruang terbuka hijau.
Pakar sekaligus dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Givo Alsepan, menjelaskan bahwa secara klimatologis suhu rata-rata di wilayah Bogor berada pada kisaran 25,5 hingga 27 derajat Celsius. Namun, dalam beberapa tahun terakhir masyarakat merasakan suhu siang hari yang lebih tinggi akibat pengaruh berbagai faktor iklim.
“Secara klimatologis, suhu udara rata-rata di wilayah Bogor berkisar antara 25,5 hingga 27 derajat Celsius. Namun, dalam periode tertentu kondisi tersebut dapat berubah akibat pengaruh fenomena iklim global, terutama El Nino-Southern Oscillation (ENSO),” ujar Givo.
Menurutnya, El Nino menyebabkan berkurangnya pasokan uap air ke wilayah Indonesia sehingga curah hujan menurun dan tutupan awan berkurang. Akibatnya, radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi menjadi lebih besar sehingga suhu udara terasa lebih panas.
“Saat ini El Nino sedang berkembang di Samudra Pasifik tropis dan diprediksi berlangsung hingga akhir tahun 2026. Pergeseran awan dari wilayah Indonesia menuju Pasifik menyebabkan tutupan awan berkurang sehingga radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi,” jelasnya.
Meski demikian, Givo menegaskan bahwa El Nino hanya menjadi faktor pemicu dalam jangka pendek. Penyebab utama meningkatnya suhu udara adalah perubahan iklim global yang telah mendorong tren kenaikan suhu secara konsisten selama beberapa dekade terakhir.
Data klimatologi menunjukkan suhu rata-rata tahunan di wilayah Bogor terus mengalami peningkatan sejak sekitar tahun 1990. Tren tersebut sejalan dengan kenaikan suhu rata-rata bumi akibat pemanasan global.
“Perubahan iklim dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya suhu udara di Bogor. Jika tidak ada upaya mitigasi yang serius, tren pemanasan ini akan terus berlanjut,” katanya.
Selain faktor iklim global, perubahan tata guna lahan juga memperburuk kondisi tersebut. Berkurangnya ruang terbuka hijau dan meningkatnya kawasan terbangun memicu fenomena urban heat island, yakni kondisi ketika kawasan perkotaan memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.
Mengacu pada penelitian Nurwanda dan Honjo (2018), ekspansi kawasan perkotaan di Bogor berlangsung pesat, terutama pada periode 1997–2007. Perbedaan suhu antara kawasan perkotaan dan pinggiran kota meningkat dari sekitar 1,36 derajat Celsius pada 1990 menjadi hampir 2,26 derajat Celsius pada 2017.
Menurut Givo, temuan tersebut menunjukkan pentingnya menjaga tutupan vegetasi dan ruang terbuka hijau sebagai bagian dari strategi pembangunan kota yang berkelanjutan. Upaya mitigasi perubahan iklim di tingkat lokal dinilai menjadi langkah penting untuk menekan laju peningkatan suhu udara di Kota Bogor. (Red)













