DINEWS.ID – Pemerintah Kota Bogor mulai menggenjot sosialisasi proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi mengatasi darurat sampah. Sosialisasi perdana digelar bersama insan pers di Kantor PWI Kota Bogor, Selasa (26/5/2026).
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengatakan persoalan sampah nasional sudah masuk kategori darurat dan tidak bisa lagi ditangani secara parsial. Diperlukan pendekatan terintegrasi dengan dukungan teknologi modern agar pengelolaan berjalan efektif.
“Indonesia sekarang berada dalam kondisi darurat sampah. Kalau penanganannya sporadis dan berjalan sendiri-sendiri, tidak akan mungkin efektif,” ujar Dedie.
Teknologi yang dipilih adalah _Waste to Energy_ berbasis insinerator. Sistem ini khusus membakar sampah residu yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi, sehingga tidak mengganggu peran bank sampah dan TPS 3R.
“Konsepnya adalah membakar sampah yang sama sekali tidak punya nilai ekonomi lagi. Jadi yang masih bernilai tetap dikelola melalui TPS 3R dan bank sampah,” jelasnya.
Teknologi yang digunakan dirancang dengan standar tinggi mengusung konsep _zero emission_ dan _zero odor_. Proses pembakaran diklaim tidak menimbulkan bau maupun emisi berbahaya bagi lingkungan sekitar.
Director Project and Stakeholder Management Danantara Waste Energy, Maulana Muhammad, menjelaskan proses kerja PSEL dimulai dari pengumpulan sampah residu yang kemudian dibakar dalam ruang bakar bersuhu tinggi untuk menghasilkan energi panas.
“Panas dari proses pembakaran itu kemudian diubah menjadi energi listrik melalui turbin, dan listriknya disalurkan ke PLN,” terangnya.
Teknologi insinerator ini mampu mengurangi volume sampah hingga 90-100 persen. Sisa pembakaran berupa _fly ash_ dan _bottom ash_ akan dimanfaatkan kembali sebagai bahan konstruksi.
Proyek PSEL di Kota Bogor juga didukung skema pembiayaan pemerintah pusat melalui regulasi terbaru. Dengan skema ini, biaya pengolahan tidak dibebankan pada APBD, melainkan ditopang dari penjualan energi listrik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, Denni Wismanto, menambahkan fasilitas berkapasitas 1.000 ton per hari dapat mengurangi sekitar 180 ribu ton emisi CO₂ per tahun dan menekan penggunaan batu bara.
Ketua PWI Kota Bogor, Herman Indrabudi, menyatakan dukungan terhadap program tersebut dan siap membantu mengawal sosialisasi agar informasi tersampaikan utuh kepada masyarakat.
“Kami siap membantu mengawal sekaligus menyosialisasikan program ini agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang benar,” ujarnya.
Proyek PSEL direncanakan dibangun di dua lokasi, Galuga dan Kayu Manis, dengan skema kerja sama antardaerah. Fasilitas ini ditargetkan mengurangi ketergantungan pada TPA konvensional serta mengatasi keterbatasan lahan dan pencemaran lingkungan akibat sampah. (Red/***)













