DINEWS.ID – Lebih dari 14 ribu warga Taiwan mengungsi setelah Topan Bavi mendekati wilayah utara pulau tersebut pada Sabtu (11/7).
Otoritas setempat memperingatkan hujan ekstrem, angin kencang, dan gelombang hingga 10 meter, sementara badai itu diperkirakan menjadi salah satu topan terbesar yang menghantam Taiwan dalam lebih dari tiga dekade.
Topan Bavi sebelumnya menghantam Guam, Kepulauan Mariana Utara, serta pulau-pulau terpencil di barat daya Jepang yang menyebabkan pemadaman listrik massal di Okinawa. Kini badai tersebut bergerak menuju Taiwan sebelum diperkirakan melanjutkan perjalanannya ke China.
Kota pelabuhan Keelung di Taiwan utara menjadi salah satu wilayah yang diperkirakan menerima dampak paling besar. Jalanan di kota itu tampak lengang karena sebagian besar warga memilih bertahan di dalam rumah.
“Semua orang takut akan cuaca buruk dan memilih tinggal di dalam rumah, tetapi saya hanya keluar karena ada pesanan,” kata seorang pemilik toko bernama Tsai kepada AFP.
“Beberapa orang sedang bertugas dan tidak akan punya makanan, jadi saya masih perlu mengantarkan makanan kepada mereka,” ujar pria berusia 50 tahun tersebut.
Badan Meteorologi Pusat Taiwan (CWA) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai hujan deras ekstrem di wilayah utara serta gelombang tinggi yang dapat mencapai sekitar 10 meter di sepanjang pesisir.
“Dampak topan akan lebih signifikan pada siang hari ini,” ujar peramal cuaca CWA, Jasong Cheng.
Menurut Cheng, periode dengan dampak paling besar diperkirakan berlangsung hingga sore hari.
Meski kekuatannya telah melemah dari kategori topan saat melintasi Samudra Pasifik, Bavi masih membawa angin berkecepatan maksimum sekitar 144 kilometer per jam dengan hembusan mencapai 180 kilometer per jam.
Otoritas Taiwan memperkirakan Bavi berpotensi menjadi topan terbesar yang melanda wilayah tersebut dalam lebih dari 30 tahun, sehingga masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti arahan pemerintah setempat. (Red)







