DINEWS.ID – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Denny Mulyadi, membuka workshop bertema Mental Sehat di Masa Emas, Creating Toxic-Free Environment at Work di Paviliun BSI, Jalan Pajajaran, Kota Bogor, Jumat (22/5/2026).
Workshop ini menjadi penting, mengingat permasalahan kesehatan mental terus mengalami peningkatan, mulai dari gangguan ringan hingga berat. Kecemasan dan depresi pun semakin banyak dialami, terutama oleh kelompok usia produktif dan para pekerja.
Dalam sambutannya, Denny Mulyadi menyampaikan sejumlah langkah penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Langkah tersebut dimulai dari membangun budaya saling menghormati melalui penerapan etika komunikasi yang sopan dan profesional, serta menghindari budaya saling menyalahkan dengan tetap menghargai perbedaan pendapat.
“Selanjutnya, kepemimpinan yang sehat melalui keteladanan pemimpin, terbuka terhadap kritik, dinamis, adil dalam pembagian tugas, dan tidak otoriter. Transparansi komunikasi juga penting, yakni menyampaikan informasi pekerjaan dengan jelas dan terukur waktunya,” kata Denny Mulyadi.
Ia menambahkan, sistem penilaian yang adil, pencegahan bullying dan pelecehan, serta menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Selain itu, kolaborasi perlu dibangun sebagai super team, bukan kompetisi yang tidak sehat, serta perlunya evaluasi organisasi yang dilakukan secara berkala.
Direktur Utama RSUD Kota Bogor, Sri Nowo Retno, dalam laporannya menyampaikan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar, angka gangguan emosional di tingkat nasional mencapai 9,8 persen dan mayoritas dialami perempuan maupun laki-laki usia produktif. Sementara itu, prevalensi depresi di Jawa Barat berada pada angka 3,3 persen.
“Hasil skrining Pamong Walagri semester II tahun 2025 menunjukkan dari 17.730 ASN yang diperiksa, faktor penyakit tidak menular masih menempati posisi terbanyak. Mulai dari kurang aktivitas fisik sebesar 40,04 persen, gejala masalah kesehatan jiwa sebesar 1,37 persen, konsumsi garam berlebih sebesar 36,67 persen, obesitas IMT sebesar 38,25 persen, kurang konsumsi buah dan sayur sebesar 37,29 persen, serta hiperkolesterol sebesar 34 persen,” jelas Retno.
Meski persentase gangguan kesehatan jiwa relatif kecil, Retno menegaskan hal tersebut tetap harus menjadi perhatian agar tercipta lingkungan kerja yang sehat, kondusif, dan bebas dari budaya toxic.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menerapkan pola hidup sehat, di antaranya mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), memperbanyak konsumsi buah dan sayur, serta rutin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari selama lima hari dalam sepekan.
Sebagai informasi, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi RSUD Kota Bogor dan BKPSDM Kota Bogor yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 Tahun 2026.
Workshop diikuti oleh para sekretaris perangkat daerah, kepala seksi umum dan kepegawaian, perwakilan TP PKK Kota Bogor, serta Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Bogor. (*)













