5 Gejala Khas Influenza Tipe A pada Anak dan 4 Langkah Penanganan Efektif di Rumah

Orang tua mendampingi anak yang sedang demam sebagai ilustrasi gejala influenza dan perawatan anak di rumah.
Orang tua mendampingi anak yang sedang demam, gejala influenza dan perawatan di rumah. Dok: Ilustrasi

DINEWS.ID – Anak yang biasanya aktif bermain tiba-tiba demam, tubuhnya lemas, dan kehilangan selera makan. Kondisi seperti ini kerap membuat orang tua khawatir, terlebih ketika disertai batuk, pilek, atau sakit kepala. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah influenza, infeksi saluran pernapasan yang perlu dikenali sejak dini agar anak mendapatkan perawatan sesuai kebutuhannya.

Influenza sering dianggap sama dengan selesma atau batuk pilek biasa. Padahal, keduanya memiliki penyebab yang berbeda. Influenza disebabkan oleh virus influenza, terutama tipe A dan B, sedangkan selesma umumnya disebabkan oleh virus lain, seperti rhinovirus.

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, gejala influenza cenderung muncul secara mendadak, seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan. Sementara itu, gejala selesma umumnya lebih ringan dan berkembang secara bertahap.

Meski begitu, gejala saja tidak selalu cukup untuk memastikan seseorang terinfeksi influenza tipe A. Pemeriksaan tenaga kesehatan dan, jika diperlukan, tes laboratorium dapat membantu memastikan diagnosis.

Bagi orang tua, mengenali tanda-tanda yang umum muncul menjadi langkah awal untuk menentukan perawatan yang tepat sekaligus mengetahui kapan anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

image 8ab3201f

5 Gejala Influenza yang Perlu Diwaspadai pada Anak

Gejala influenza dapat berbeda pada setiap anak. Ada yang mengalami demam dan nyeri tubuh cukup berat, sementara anak lainnya lebih banyak menunjukkan keluhan batuk dan pilek.

Berikut lima gejala yang umum ditemukan pada anak yang mengalami influenza.

1. Demam yang Muncul Mendadak

Salah satu tanda khas influenza adalah demam yang muncul secara tiba-tiba. Anak yang sebelumnya terlihat sehat dapat mendadak merasa tidak nyaman, menggigil, atau mengalami peningkatan suhu tubuh.

Demam bisa disertai penurunan aktivitas. Anak mungkin lebih banyak berbaring, tidak tertarik bermain, atau menjadi lebih rewel dari biasanya.

Orang tua sebaiknya memantau suhu tubuh dan kondisi umum anak. Perhatikan pula apakah anak masih mau minum, buang air kecil seperti biasa, serta merespons ketika diajak berinteraksi.

Jangan hanya terpaku pada angka di termometer. Kondisi anak secara keseluruhan juga penting untuk menentukan apakah ia membutuhkan pemeriksaan medis.

2. Nyeri Otot dan Tubuh Terasa Sangat Lemas

Influenza dapat menimbulkan nyeri otot dan sendi, sakit kepala, serta rasa lelah yang cukup berat. Keluhan ini membuat anak kehilangan tenaga dan enggan melakukan aktivitas yang biasanya disukai.

Pada anak yang lebih kecil, rasa nyeri mungkin tidak disampaikan secara jelas. Orang tua dapat melihat perubahan perilaku, misalnya anak lebih sering meminta digendong, enggan berjalan, atau memilih tidur.

Istirahat yang cukup membantu anak melewati masa pemulihan. Namun, jika kelemahan terlihat sangat berat, anak sulit dibangunkan, atau kondisinya memburuk, segera cari pertolongan medis.

3. Batuk dan Sakit Tenggorokan

Batuk, yang sering kali kering, merupakan gejala umum influenza. Anak juga dapat mengeluhkan tenggorokan terasa sakit atau tidak nyaman ketika menelan.

Keluhan tersebut bisa membuat anak enggan makan dan minum. Karena itu, orang tua perlu menawarkan cairan secara berkala dan memberikan makanan sesuai kemampuan anak untuk menelan.

Batuk akibat influenza dapat bertahan lebih lama dibandingkan gejala lainnya. Namun, jika batuk disertai sesak napas, napas cepat, atau dada tampak tertarik saat bernapas, jangan menunda pemeriksaan.

4. Sakit Kepala dan Hidung Berair

Sakit kepala dapat muncul bersamaan dengan demam dan nyeri tubuh. Sebagian anak juga mengalami hidung berair, hidung tersumbat, atau bersin.

Gejala-gejala tersebut dapat mengganggu tidur dan membuat anak merasa semakin tidak nyaman. Upayakan agar anak beristirahat di ruangan yang nyaman dengan sirkulasi udara yang baik.

Jika anak masih mampu minum dan tidak menunjukkan tanda bahaya, perawatan suportif dapat dilakukan sambil memantau perkembangannya. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan perubahan gejala dari waktu ke waktu.

5. Mual, Muntah, atau Diare

Selain menyerang saluran pernapasan, influenza terkadang disertai gangguan pencernaan, terutama pada anak-anak yang lebih kecil. Gejalanya dapat berupa mual, muntah, atau diare.

Keluhan ini perlu diperhatikan karena anak dapat kehilangan cairan, terlebih jika demam juga terjadi.

Berikan cairan sedikit demi sedikit tetapi lebih sering. Pada bayi, pemberian ASI atau susu sesuai kebiasaan dan anjuran tenaga kesehatan tetap penting. Jika anak terus muntah, tidak mampu minum, atau menunjukkan tanda dehidrasi, segera bawa ke fasilitas kesehatan.

Perlu diingat, kelima gejala tersebut bukan bukti pasti bahwa anak mengalami influenza tipe A. Sejumlah infeksi pernapasan lain dapat menimbulkan keluhan serupa.

4 Langkah Penanganan Influenza pada Anak di Rumah

Sebagian besar orang yang mengalami influenza tanpa komplikasi dapat pulih dengan perawatan suportif. Namun, anak kecil, terutama yang berusia di bawah lima tahun, memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi sehingga orang tua perlu lebih waspada.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perawatan influenza ringan berfokus pada istirahat, pemenuhan cairan, penanganan gejala, serta upaya mengurangi penularan.

Berikut langkah yang dapat dilakukan di rumah.

1. Pastikan Anak Beristirahat dan Mendapat Cairan yang Cukup

Ketika sakit, anak membutuhkan waktu untuk beristirahat. Kurangi aktivitas yang menguras tenaga dan biarkan anak tidur sesuai kebutuhannya.

Pastikan anak tetap mendapatkan cairan yang cukup. Air putih, kuah sup, ASI, atau cairan lain yang sesuai dengan usia dapat membantu menjaga kebutuhan cairan tubuh.

Jika anak kehilangan nafsu makan, tawarkan makanan bergizi dalam porsi kecil sesuai toleransinya. Jangan memaksa anak menghabiskan makanan ketika sedang tidak nyaman, tetapi tetap pantau asupan cairan dan frekuensi buang air kecil.

Perawatan di rumah perlu dievaluasi jika kondisi anak tidak membaik atau justru semakin lemah.

2. Gunakan Obat Penurun Demam secara Tepat

Jika demam membuat anak tidak nyaman, obat penurun panas seperti parasetamol dapat digunakan sesuai petunjuk tenaga kesehatan atau aturan dosis pada kemasan yang sesuai dengan usia dan berat badan anak.

Jangan memberikan dosis berdasarkan perkiraan semata. Perhatikan pula kandungan obat lain yang mungkin digunakan agar anak tidak menerima bahan aktif yang sama secara berlebihan.

Hindari pemberian aspirin kepada anak tanpa instruksi dokter karena berkaitan dengan risiko efek samping serius. Jangan pula memberikan antibiotik untuk mengobati influenza tanpa indikasi medis karena penyakit ini disebabkan oleh virus.

Obat antivirus, seperti oseltamivir, tidak diperlukan untuk setiap kasus influenza. Dokter dapat mempertimbangkannya, terutama pada anak dengan gejala berat atau risiko komplikasi. Penanganan antivirus umumnya paling bermanfaat jika dimulai sedini mungkin.

3. Cegah Penularan kepada Anggota Keluarga

Virus influenza dapat menyebar melalui partikel pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara, atau berada berdekatan dengan orang lain.

Ajarkan anak menutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau siku bagian dalam ketika batuk dan bersin. Buang tisu bekas ke tempat sampah, kemudian cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.

Jika memungkinkan, kurangi kontak dekat anak yang sedang sakit dengan anggota keluarga lain, terutama bayi, lansia, dan orang yang memiliki penyakit kronis. Pastikan ruangan memiliki sirkulasi udara yang baik.

Anak yang sedang sakit sebaiknya beristirahat di rumah dan tidak mengikuti kegiatan bersama sampai kondisinya membaik.

4. Pertimbangkan Vaksinasi Influenza Tahunan

Vaksinasi merupakan salah satu upaya penting untuk mengurangi risiko influenza dan komplikasinya. Perlindungan vaksin tidak bersifat mutlak, sehingga anak yang sudah divaksinasi masih mungkin terinfeksi.

WHO menjelaskan bahwa virus influenza terus mengalami perubahan. Karena itu, vaksin influenza diperbarui secara berkala dan vaksinasi tahunan dianjurkan untuk memberikan perlindungan yang sesuai dengan virus yang diperkirakan beredar.

Vaksin influenza dapat diberikan mulai usia enam bulan, dengan jadwal dan jumlah dosis yang disesuaikan berdasarkan usia, riwayat vaksinasi, serta rekomendasi tenaga kesehatan.

Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter atau fasilitas kesehatan untuk mengetahui jadwal vaksinasi yang sesuai bagi anak.

Kapan Anak Harus Segera Dibawa ke Dokter?

Perawatan di rumah tidak berarti orang tua harus menunggu sampai semua gejala mereda. Ada sejumlah tanda bahaya yang memerlukan pemeriksaan segera.

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami:

  • Napas cepat, sesak napas, atau dada tertarik ketika bernapas.
  • Bibir atau wajah tampak kebiruan.
  • Sulit dibangunkan, mengalami penurunan kesadaran, atau kejang.
  • Tidak mampu minum, terus-menerus muntah, atau menunjukkan tanda dehidrasi.
  • Demam yang berlangsung lebih dari tiga hari atau kondisi yang semakin memburuk.
  • Gejala sempat membaik, kemudian kembali memburuk.

Pada bayi berusia di bawah tiga bulan, demam dengan suhu 38 derajat Celsius atau lebih memerlukan penilaian medis segera.

Jangan menunda pertolongan hanya karena anak sebelumnya terlihat sehat atau masih dapat beraktivitas. Jika orang tua merasa kondisi anak tidak seperti biasanya, pemeriksaan medis merupakan langkah yang lebih aman.

Kenali Gejala, Jangan Menebak Diagnosis

Influenza pada anak sering kali dapat pulih dengan perawatan yang tepat. Meski demikian, gejala yang menyerupai flu tidak selalu disebabkan oleh virus influenza tipe A, dan kondisi setiap anak dapat berbeda.

Orang tua dapat membantu pemulihan dengan memastikan anak beristirahat, mencukupi kebutuhan cairan, menggunakan obat secara tepat, serta mencegah penularan di rumah. Vaksinasi juga berperan dalam mengurangi risiko penyakit dan komplikasi.

Hal terpenting adalah mengenali tanda bahaya dan tidak ragu mencari pertolongan ketika kondisi anak memburuk. Dengan pemantauan yang cermat dan penanganan sesuai kebutuhan, orang tua dapat mendampingi anak melewati masa sakit dengan lebih aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *