3 Gunung Api Berstatus Siaga Hari Ini, Apa Bedanya dengan Awas?

Gunung Anak Krakatau, Gunung Merapi, dan Gunung Semeru yang aktivitas vulkaniknya dipantau PVMBG.
Gunung Anak Krakatau, Gunung Merapi, dan Gunung Semeru yang aktivitas vulkaniknya dipantau PVMBG. Dok: Ilustrasi

DINEWS.ID – Masyarakat perlu mengetahui status aktivitas gunung api di Indonesia, terutama ketika sejumlah gunung menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Istilah Waspada, Siaga, dan Awas kerap muncul dalam pemberitaan, tetapi ketiganya memiliki arti berbeda dan berkaitan dengan tingkat aktivitas serta rekomendasi keselamatan.

Berdasarkan informasi pada laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per Selasa, 20 Oktober 2026, pukul 13.50 WIB, terdapat tiga gunung api berstatus Siaga atau Level III, 24 gunung api berstatus Waspada atau Level II, serta 42 gunung api berstatus Normal atau Level I. Tidak ada gunung api yang tercatat berstatus Awas dalam rekap tersebut.

Tiga gunung api yang menjadi perhatian dalam laporan aktivitas hari ini adalah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta Gunung Semeru di Jawa Timur.

Meski sama-sama berada pada Level III, kondisi aktivitas dan potensi bahaya setiap gunung tidak selalu sama. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan rekomendasi khusus yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), bukan hanya melihat angka levelnya.

Screenshot 7

1. Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Lampung, kembali mengalami erupsi pada Selasa, 20 Oktober 2026.

Mengutip laporan Katadata yang merujuk pada informasi PVMBG melalui aplikasi MAGMA Indonesia, erupsi terjadi pada pukul 12.28 WIB. Dalam sepekan terakhir, aktivitas erupsi gunung tersebut juga kembali teramati.

Pada pengamatan kegempaan pukul 06.00-12.00 WIB, tercatat 13 kali gempa letusan atau erupsi, 10 kali gempa hembusan, dan tiga kali gempa frekuensi rendah.

Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tercatat berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.

Rekomendasi ini perlu diperhatikan karena aktivitas vulkanik dapat berubah. Masyarakat juga dianjurkan mengikuti informasi resmi dan tidak menyebarkan kabar mengenai potensi bencana yang belum terverifikasi.

Informasi aktivitas terbaru dapat diperiksa melalui MAGMA Indonesia.

2. Gunung Merapi Masih Berstatus Siaga

Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah juga tercatat berada pada Level III atau Siaga.

Salah satu potensi bahaya yang perlu diperhatikan dari aktivitas Merapi adalah guguran lava dan awan panas guguran. Bahaya tersebut dapat mengancam wilayah pada sektor tertentu, terutama kawasan yang berada di jalur aliran material vulkanik.

Karena karakter bahaya setiap gunung berbeda, rekomendasi keselamatan Merapi tidak bisa disamakan begitu saja dengan Anak Krakatau atau Semeru.

Masyarakat di sekitar Merapi perlu memperhatikan batas kawasan yang direkomendasikan untuk dihindari, termasuk jalur sungai yang berpotensi dilalui material vulkanik. Ketika hujan turun, potensi lahar juga perlu diwaspadai sesuai informasi dari otoritas setempat.

Status Siaga bukan berarti seluruh wilayah di sekitar Merapi harus dikosongkan. Pembatasan kegiatan dan keputusan evakuasi mengikuti kondisi di lapangan serta rekomendasi resmi dari pihak berwenang.

Warga sebaiknya tidak mendekati kawasan berbahaya hanya untuk melihat aktivitas gunung dari jarak dekat.

3. Gunung Semeru Berstatus Siaga, Sektor Tenggara Perlu Dihindari

Gunung Semeru di Jawa Timur juga tercatat berada pada Level III atau Siaga.

Dalam rekomendasi aktivitasnya, PVMBG meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Pembatasan ini berkaitan dengan potensi bahaya aktivitas vulkanik yang dapat memengaruhi kawasan tersebut.

Masyarakat juga perlu memperhatikan perkembangan aktivitas Semeru melalui laporan berkala, terutama jika terjadi erupsi, guguran, atau hujan yang meningkatkan potensi lahar.

Bagi warga yang tinggal di kawasan rawan bencana, memahami jalur evakuasi dan mengikuti arahan pemerintah daerah merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko.

Status Siaga menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik meningkat secara nyata atau gunung sedang mengalami erupsi. Namun, status tersebut tidak berarti seluruh lereng gunung berada dalam tingkat bahaya yang sama. Penentuan kawasan berisiko tetap mengacu pada karakteristik dan rekomendasi khusus masing-masing gunung.

Apa Perbedaan Status Waspada, Siaga, dan Awas?

PVMBG menggunakan empat tingkat aktivitas gunung api, mulai dari Level I hingga Level IV. Setiap level ditetapkan berdasarkan hasil pengamatan visual, kegempaan, dan parameter lain yang dianalisis oleh petugas.

Berikut penjelasan sederhananya.

Level I – Normal

Aktivitas gunung api berada pada tingkat dasar atau normal berdasarkan pengamatan. Meski demikian, masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi karena kondisi gunung dapat berubah.

Level II – Waspada

Aktivitas gunung api menunjukkan peningkatan di atas kondisi normal. Perubahan dapat terlihat melalui pengamatan visual maupun instrumental. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi rekomendasi kawasan yang harus dihindari.

Level III – Siaga

Peningkatan aktivitas semakin nyata atau gunung mengalami erupsi. Masyarakat di sekitar kawasan rawan harus meningkatkan kesiapsiagaan, memperhatikan arahan petugas, serta menghindari zona bahaya yang ditetapkan.

Level IV – Awas

Level IV merupakan tingkat aktivitas tertinggi. Kondisi gunung dinilai menunjukkan aktivitas yang dapat membahayakan masyarakat di kawasan tertentu, sehingga pembatasan aktivitas dan evakuasi dapat diberlakukan sesuai rekomendasi otoritas.

Perlu dipahami bahwa status gunung api bukan alat untuk memastikan kapan letusan besar akan terjadi. Status merupakan hasil evaluasi aktivitas berdasarkan data pemantauan, dan dapat berubah ketika kondisi gunung menunjukkan perkembangan baru.

Mengapa Status Gunung Api Bisa Berubah?

Status gunung api dapat dinaikkan atau diturunkan berdasarkan hasil evaluasi aktivitas vulkanik.

PVMBG memantau sejumlah parameter, antara lain frekuensi gempa vulkanik, perubahan bentuk tubuh gunung, pengamatan visual, dan gejala lain yang dapat mengindikasikan perubahan aktivitas di dalam gunung.

Jika data menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan, status dapat dinaikkan agar langkah mitigasi bisa dilakukan lebih awal. Sebaliknya, ketika aktivitas menunjukkan penurunan dan hasil evaluasi mendukung perubahan tersebut, status dapat diturunkan.

Meski begitu, penurunan status tidak selalu berarti seluruh potensi bahaya telah hilang. Masyarakat tetap perlu mematuhi rekomendasi keselamatan yang masih berlaku.

Informasi yang digunakan juga harus memiliki waktu pembaruan yang jelas. Data aktivitas gunung api dapat berubah dalam hitungan jam, sehingga informasi yang beredar pada hari sebelumnya belum tentu menggambarkan kondisi terbaru.

Masyarakat Diminta Mengikuti Informasi Resmi

Dengan adanya tiga gunung api berstatus Siaga dalam rekap ESDM per 20 Oktober 2026, masyarakat di sekitar kawasan rawan perlu memahami kondisi wilayah masing-masing dan mengikuti arahan petugas.

Masyarakat tidak perlu panik hanya karena sebuah gunung berada pada Level III. Namun, status tersebut juga tidak boleh diabaikan, terutama ketika otoritas telah menetapkan kawasan yang harus dihindari.

Hindari memasuki zona bahaya, jangan mendekati kawah untuk menyaksikan erupsi, dan jangan menjadikan unggahan media sosial yang belum terverifikasi sebagai dasar mengambil keputusan.

Untuk memantau perubahan status, masyarakat dapat mengakses MAGMA Indonesia dan informasi dari Kementerian ESDM.

Memahami perbedaan Waspada, Siaga, dan Awas membantu masyarakat mengambil langkah yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Yang paling penting bukan hanya mengetahui status sebuah gunung, melainkan memahami rekomendasi keselamatan yang menyertainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *