DINEWS.ID – Warga Palestina di Jalur Gaza merayakan Iduladha di tengah kehancuran akibat perang berkepanjangan dan blokade yang menyebabkan krisis kemanusiaan. Perayaan yang biasanya identik dengan penyembelihan hewan kurban dan makanan melimpah berlangsung dalam keterbatasan ekstrem.
Selama lebih dari tiga bulan terakhir, tidak tersedia daging segar di Gaza akibat blokade ketat Israel. Pembatasan tersebut diberlakukan sejak serangan 7 Oktober 2023 yang memicu perang antara Israel dan Hamas. Hampir seluruh ternak lokal, termasuk domba, kambing, dan sapi, mati akibat serangan udara dan darat.
Di kamp pengungsian Muwasi, Gaza selatan, hanya tersisa sedikit hewan kurban di kandang darurat. Namun, tingginya harga membuat banyak warga tak mampu membeli. “Saya bahkan tidak bisa membeli roti, apalagi daging atau sayur,” ujar Abdel Rahman Madi, salah seorang pengungsi.
Harga kebutuhan pokok melonjak drastis sejak blokade dilonggarkan dua pekan lalu. Pasokan daging, buah, dan sayuran masih langka. Di pasar Khan Younis, yang tersedia hanya mainan berbentuk domba dan pakaian bekas. Sebagian besar warga pulang tanpa belanja karena harga tak terjangkau.
“Dulu suasana Iduladha meriah, anak-anak senang. Namun sekarang tidak ada tepung, tidak ada pakaian, tidak ada kegembiraan,” kata Hala Abu Nqeira, dikutip dari beritasatu..com.
Menurut laporan terbaru FAO, 96 persen ternak dan 99 persen unggas di Gaza telah mati. Sebanyak 95 persen lahan pertanian mengalami kerusakan atau berada di zona militer yang tak dapat diakses. Selama lebih dari dua bulan, Israel sempat melarang seluruh makanan dan bantuan masuk ke Gaza. Meski bantuan mulai masuk kembali melalui koordinasi PBB, distribusinya terhambat pembatasan militer dan penjarahan.
Saat ini, lebih dari dua juta warga Palestina mengungsi dan sebagian besar telah berpindah tempat berulang kali. Di tengah keterbatasan, beberapa keluarga tetap berusaha memberikan kebahagiaan kecil bagi anak-anak mereka.
Rasha Abu Souleyma, pengungsi dari Rafah, menyelinap kembali ke rumahnya untuk mengambil pakaian lama dan beberapa barang pribadi sebagai hadiah bagi kedua putrinya. “Saya tidak bisa membelikan mereka baju baru atau makanan enak. Sekarang roti pun sulit,” katanya.
Anak-anak Gaza mencoba merayakan hari besar ini dengan bermain di ayunan darurat dari tali seadanya di tengah reruntuhan.
“Sudah empat hari raya terakhir kami lalui tanpa kurban, tanpa kue, tanpa pakaian baru,” kata Karima Nejelli, pengungsi lainnya dari Rafah.













