Faktor yang ketiga menurut Yusfitriadi, tim pemenangan dan partai politik tidak bekerja. Karena sebelumnya sudah pernah disampaikan bahwa sebelum menjadi paslon, dalam survei Personal Branding, suara Ade Ruhandi berada di 56% (persen). Sementara Rudy berada di 19% (persen), maka jika digabungkan, akan lebih dari 70 persen.
“Artinya, kemenangan Rudy-Ade di angka 71% (persen) lebih, suara Rudy dan Ade tidak ada suara partainya. Berarti partai politik pengusung tidak memberikan insentif elektoral terhadap kemenangan Rudy-Ade,” katanya.
Yusfitriadi juga mengatakan, berdasarkan hasil pantauan LS-Vinus ada beberapa hal yang penting untuk menjadi perhatian penyelenggara. Di antaranya, partisipasi pemilih di setiap TPS yang terpantau sepi.
“Tidak antri, tidak membludak, tidak juga terlihat padat. Padahal, logikanya 2 TPS dijadikan satu menjadi 600 pemilih, minimal itu akan terlihat ramai. Faktanya nyaris tidak ada satu pun TPS yang terlihat ramai” ucapnya.
Itu menandakan, sambungnya, bahwa antusiasme menurun, sementara skeptifitas pemilih untuk datang ke TPS sangat tinggi. Sehingga dalam partisipasi pemilih ini, walau belum menemukan angka yang pasti, teman-teman LS-Vinus di lapangan berdasarkan survei dari ratusan orang menyatakan partisipasi pemilih di bawah 60% (persen).













