- Lalu lintas Kota Bogor semrawut
Rini menyebut, kondisi lalu lintas Bogor lebih semrawut dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Kendaraan Biskita yang ditujukan untuk menggantikan angkot pun jumlahnya juga belum signifikan.
“Perlu ada pengaturan lalu lintas yang lebih tepat sehingga kendaraan tidak menumpuk di satu lokasi yang menyebabkan kemacetan yang dapat menambah polutan di udara, misalnya dengan penerapan kembali jumlah angkot yang beredar bergantian siang atau malam, car free day, dan upaya meningkatkan kedisiplinan pengendara,” katanya.
Salah satu cara untuk mengatasi polusi, kata Rini misalnya melalui pengaturan lalu lintas yang tepat menjadi salah satu kunci untuk menurunkan sumber polusi udara di Bogor. Dosen IPB University itu menerangkan, saat pandemi tidak ada musim kemarau yang kering karena bersamaan dengan periode La Nina.
- Peristiwa El Nino
Saat ini musim kemarau diperparah oleh peristiwa El Nino sehingga terjadi kemarau kering dibandingkan kondisi normalnya. Tidak hanya itu, angin laut siang hari dari wilayah pantai barat dan utara Jakarta akan melewati Cibinong, Citeureup, Gunung Putri, dan sekitarnya menuju ke jajaran gunung yang mengelilingi kota Bogor. Hal ini memungkinkan membawa polutan ke kota dan kabupaten Bogor.
Pada kasus kelembaban udara tinggi, jelas Rini, polutan ini dapat bersifat sebagai inti higroskopis dalam pembentukan awan sehingga meningkatkan potensi hujan. Tetapi saat ini kelembaban udara tidak cukup tinggi untuk membentuk awan yang potensial.
Sementara, sumber polutan terus ada, jadi saat ini partikel tetap berada di udara menjadi polutan padahal hujan yang turun kurang cukup untuk mencuci polutan.







