Konflik Memanas, Biksu Bertahan di Garis Depan Perbatasan Thailand

Thailand
Konflik Memanas, Biksu Bertahan di Garis Depan Perbatasan Thailand. Foto : Ilustrasi.

DINEWS.ID – Ketegangan lama di perbatasan antara Kamboja dan Thailand kembali memanas dan berubah menjadi konflik bersenjata. Bentrokan yang meletus sejak Kamis (24/7/2025) telah menewaskan puluhan orang dari kedua negara, serta memaksa puluhan ribu warga sipil mengungsi dari wilayah perbatasan.

Hingga Minggu (27/7/2025) pagi, kedua belah pihak saling menyalahkan atas insiden awal yang memicu pertempuran dan belum menunjukkan itikad untuk berdialog. Sejumlah seruan gencatan senjata dari negara-negara tetangga dan organisasi internasional sejauh ini belum membuahkan hasil.

Di tengah kondisi genting, inisiatif solidaritas warga di kedua sisi perbatasan terus bermunculan. Di Provinsi Surin, Thailand, sebuah vihara membangun bunker perlindungan dari pipa beton untuk melindungi para biksu dan warga sekitar dari tembakan artileri.

“Kami takut, tapi kami tetap tinggal demi warga dan hewan yang kami rawat,” ujar kepala vihara, Phut Analayo, dikutip dari AP.

Warga sipil di Surin juga turut membantu para pengungsi. Klub dansa ballroom lansia di kota tersebut membagikan pakaian, selimut, dan perlengkapan mandi kepada sekitar 1.000 pengungsi. “Warga mengungsi tanpa membawa apa pun. Kami hanya ingin membantu sebisa mungkin,” kata Chadaporn Duchanee, guru dansa berusia 62 tahun.

Sementara itu di wilayah Kamboja, relawan muda Chhar Sin mendirikan pos darurat di Distrik Srey Snam, Provinsi Siem Reap, untuk membagikan makanan dan air bersih kepada para pengungsi dan tentara.

“Kami akan terus berbagi makanan kepada mereka yang datang hanya dengan pakaian di badan,” ujarnya.

Di lokasi yang sama, seorang pemilik warung bernama Kim Muny (45) menutup tokonya untuk memasak nasi bagi tentara dan warga.

“Kami bantu karena tahu mereka tak punya waktu memasak,” katanya.

Di Samrong, ibu kota Provinsi Oddar Meanchey, hanya tujuh dari 40 biksu yang masih bertahan di Vihara Wat Prasat Samrong Thom. Kepala biksu Tho Thoross menyatakan tetap tinggal demi menjaga vihara tertua di kota itu dan membantu para pengungsi yang singgah.

“Pertempuran kali ini sepuluh kali lebih besar dari konflik 2008 dan 2011,” ujarnya, sembari menyerukan kedua negara untuk segera mencari solusi damai.  ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *