Kamboja Desak Gencatan Senjata dengan Thailand Usai Bentrokan Tewaskan 16 Orang

Kamboja
Kamboja Desak Gencatan Senjata dengan Thailand. Foto : Kolase bendera Kamboja dan Thailand. (Reuters)

DINEWS.ID – Pemerintah Kamboja menyerukan gencatan senjata segera dkamban tanpa syarat dengan Thailand, menyusul dua hari bentrokan bersenjata di wilayah perbatasan yang telah menewaskan sedikitnya 16 orang dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi.

Seruan tersebut disampaikan oleh Duta Besar Kamboja untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Chhea Keo. Ia menyatakan Phnom Penh menginginkan penyelesaian damai atas konflik yang semakin memanas.

“Kamboja mendesak gencatan senjata tanpa syarat dan penyelesaian damai,” kata Keo dalam pernyataan tertulis, Sabtu (26/7/2025).

Sementara itu, pemerintah Thailand belum memberikan tanggapan resmi terhadap permintaan tersebut. Namun, otoritas Bangkok telah menetapkan status darurat militer di delapan distrik yang berbatasan langsung dengan Kamboja.

Bentrokan yang terjadi di sejumlah titik, termasuk Surin, Ubon Ratchathani, dan Srisaket, menewaskan sedikitnya 14 warga sipil dan satu tentara Thailand. Pemerintah provinsi Kamboja juga melaporkan satu korban jiwa dari pihak sipil.

Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, memperingatkan bahwa konflik bisa “bergerak menuju perang”. Ia menyebutkan pertempuran telah meluas ke 12 titik perbatasan dan melibatkan penggunaan senjata berat.

Thailand menuduh Kamboja memicu bentrokan dengan menerbangkan drone pengintai di atas wilayah militer Thailand. Sebaliknya, Kamboja menuding pasukan Thailand melanggar kesepakatan batas wilayah dengan memasuki area sengketa di sekitar kuil Khmer-Hindu. Kamboja juga menuduh Thailand menggunakan bom curah, senjata yang telah dilarang di banyak negara karena risiko tinggi terhadap warga sipil. Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Thailand atas tuduhan tersebut.

Di tengah eskalasi konflik, Menteri Luar Negeri Thailand menolak tawaran mediasi dari pihak ketiga, meskipun sejumlah pemimpin dunia telah menyerukan penghentian kekerasan.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, dalam kapasitasnya sebagai ketua ASEAN, telah menawarkan diri untuk memfasilitasi dialog damai antara kedua negara. Amerika Serikat juga menyampaikan keprihatinan dan mendesak penghentian permusuhan serta perlindungan terhadap warga sipil.

Perseteruan antara Thailand dan Kamboja berakar pada sengketa perbatasan yang telah berlangsung lebih dari satu abad, terutama di sekitar kawasan kuil kuno yang disengketakan sejak masa penjajahan Prancis di Kamboja. Bentrokan serupa pernah terjadi pada 2008 dan 2011, dan kembali memanas sejak Mei 2025 setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam insiden perbatasan.

Situasi terkini menempatkan hubungan kedua negara pada titik terendah dalam lebih dari satu dekade. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *