DINEWS.ID – Di Korea Selatan, pemandangan warga mendorong kereta dorong kini tak lagi eksklusif untuk bayi. Semakin banyak orang menggunakan stroller anjing peliharaan mereka, fenomena yang mencerminkan perubahan gaya hidup urban sekaligus krisis demografi yang tengah melanda Negeri Ginseng.
Data pada 2023 menunjukkan lonjakan signifikan dalam tren ini. Untuk pertama kalinya, penjualan kereta dorong anjing melampaui kereta bayi. Hingga akhir September, pangsa pasar stroller hewan peliharaan mencapai 58%, sedangkan stroller bayi hanya 42%. Padahal, pada 2022 angkanya masih 36%, dan 34% pada 2021.
Fenomena ini memicu perdebatan luas di tengah masyarakat yang kian cemas akan angka kelahiran rendah—terendah di dunia. Beberapa pihak mempertanyakan logika tren ini, seperti komentar yang kerap muncul di media sosial: “Kenapa mendorong anjing? Bukankah mereka bisa jalan sendiri?”
Namun, pakar menjelaskan bahwa stroller justru menawarkan kenyamanan bagi anjing kecil—jenis yang paling banyak dipelihara di Korea—terutama saat dibawa ke ruang publik seperti kafe atau saat cuaca ekstrem.
“Tempat yang berlabel ramah hewan peliharaan di Korea justru sering kali mengharuskan anjing berada di kereta dorong,” tulis seorang pemilik anjing di media sosial.
Pusat perbelanjaan seperti Starfield di Seoul bahkan menyediakan layanan sewa kereta dorong anjing, tempat sampah khusus hewan, hingga ruang tunggu khusus. Beberapa kafe juga menawarkan area terpisah antara anjing dan pemiliknya, menunjukkan bagaimana infrastruktur kota ikut beradaptasi.
Menurut Profesor Kim Young-yeon dari Calvin College, tren ini sebenarnya dipengaruhi oleh budaya Jepang dan gaya hidup masyarakat perkotaan Korea yang tinggal di apartemen kecil. Anjing kecil seperti Maltese, yang menyumbang hampir 20% populasi anjing di Seoul menjadi favorit, disusul pudel, pomeranian, dan shih tzu.
Tren ini juga beririsan dengan gaya hidup pamer dan status sosial. Banyak pemilik menganggap hewan peliharaannya sebagai anggota keluarga, bahkan menyebut mereka dengan istilah Korea “maknae” (adik bungsu). Di media sosial, pencarian kata “maknae” kini lebih sering merujuk pada anjing peliharaan daripada bayi manusia.
Harga kereta dorong anjing pun bervariasi, dari US$75 (sekitar Rp 1,2 juta) hingga model premium di atas US$1.100 (sekitar Rp 17,8 juta). Produk ini kini bukan sekadar alat bantu, melainkan simbol kasih sayang sekaligus status.
Profesor Lee Woong-jong dari Universitas Yonam menyebut bahwa meningkatnya pengeluaran untuk hewan peliharaan berakar dari tren warga Korea yang enggan memiliki anak, tetapi tetap membutuhkan figur “keluarga” untuk dirawat.
“Kereta dorong anjing telah menjadi simbol status dan kasih sayang. Ini adalah cara masyarakat menunjukkan perhatian terhadap hewan peliharaan yang dianggap sebagai bagian dari keluarga,” ujarnya.
Contoh paling ekstrem dari tren ini bisa ditemukan di sebuah restoran omakase khusus anjing di Seoul, yang hanya menerima reservasi dan menyajikan delapan hidangan khusus dengan harga US$43 untuk anjing kecil dan hampir US$60 untuk anjing besar.







