Canva Pangkas 1.271 Karyawan, Pesangon 6 Bulan Gaji hingga Hibah Rp160 Juta Jadi Sorotan

Canva terdampak restrukturisasi yang menyasar 1.271 karyawan.
Canva terdampak restrukturisasi yang menyasar 1.271 karyawan. Dok: Pexels

DINEWS.ID – Perusahaan teknologi desain grafis Canva mengumumkan restrukturisasi yang berdampak pada 1.271 karyawan atau sekitar 22 persen dari total tenaga kerjanya. Kebijakan tersebut mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK) dan permintaan relokasi bagi sebagian pekerja.

Mengutip laporan Inc.com, perusahaan asal Australia itu menyebut perubahan dilakukan untuk menyederhanakan struktur bisnis yang dinilai semakin terfragmentasi seiring pertumbuhan perusahaan. Canva juga ingin meningkatkan kolaborasi secara langsung dengan menjadikan Sydney, Australia, sebagai pusat aktivitas kerja.

Meski keputusan tersebut berdampak pada lebih dari seperlima tenaga kerjanya, paket kompensasi yang ditawarkan kepada karyawan terdampak menjadi perhatian. Canva menyiapkan sejumlah dukungan bagi mereka yang harus meninggalkan perusahaan, mulai dari pesangon, perlindungan kesehatan, bantuan mencari pekerjaan baru, hingga hibah untuk membangun usaha atau proyek sosial.

pexels mutecevvil 17681366

Karyawan Terdampak Mendapat Minimal Enam Bulan Gaji

Salah satu bagian yang paling disorot dari kebijakan tersebut adalah paket kompensasi bagi karyawan yang keluar dari perusahaan.

Canva menyatakan setiap karyawan yang terdampak dan meninggalkan perusahaan akan menerima kompensasi setidaknya setara enam bulan gaji, termasuk hak-hak sesuai ketentuan perundang-undangan. Ketentuan ini berlaku tanpa memandang lokasi tempat karyawan bekerja.

Selain itu, karyawan yang terkena PHK sebelum menyelesaikan satu tahun masa kerja tidak akan kehilangan saham atau hak kepemilikan ekuitas yang telah diberikan kepada mereka.

Canva juga tetap memberikan perlindungan layanan kesehatan selama satu tahun. Karyawan terdampak masih dapat mengakses Canva Care, yaitu program bantuan bagi karyawan atau Employee Assistance Program (EAP), yang juga mencakup anggota keluarga.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk membantu pekerja melewati masa transisi setelah tidak lagi bekerja di Canva.

Bantuan Mencari Pekerjaan hingga Laptop Tetap Dimiliki

Tidak hanya memberikan kompensasi finansial, Canva juga menyiapkan dukungan karier bagi karyawan yang terdampak restrukturisasi.

Perusahaan menawarkan pendampingan karier secara individual, persiapan wawancara kerja, serta akses LinkedIn Premium selama satu tahun.

Sebagian tim Talent Acquisition Canva juga akan ditugaskan membantu meninjau resume dan melakukan latihan wawancara bersama para pekerja terdampak. Perusahaan turut menyiapkan direktori alumni yang dapat dibagikan secara sukarela kepada investor, mitra, dan jaringan profesional di industri.

Menariknya, karyawan yang keluar juga diperbolehkan mempertahankan MacBook yang sebelumnya diberikan perusahaan untuk menunjang pekerjaan mereka.

Berbagai bentuk dukungan tersebut membuat paket pelepasan karyawan Canva mendapat perhatian karena tidak hanya berfokus pada pembayaran pesangon, tetapi juga memberikan bantuan untuk mempersiapkan langkah karier berikutnya.

Canva Siapkan Hibah 10.000 Dolar AS untuk Proyek Sosial

Salah satu program yang paling menonjol dalam paket dukungan tersebut adalah Canva Collective Fund.

Melalui program ini, Canva menawarkan hibah sebesar 10.000 dolar AS kepada setiap karyawan terdampak yang ingin memulai bisnis atau mengembangkan proyek yang memberikan manfaat bagi komunitas.

Perusahaan juga menyatakan tidak akan mengambil kepemilikan saham atau ekuitas dari bisnis maupun proyek yang dibuat menggunakan dana hibah tersebut.

Kebijakan ini mendapat respons positif dari sejumlah pihak. Jasveer Singh, salah satu pendiri sekaligus CEO KnotDating, menyebut langkah Canva sebagai contoh penanganan PHK yang sangat baik.

Dr. V melalui platform X juga menyampaikan bahwa meskipun tidak ada cara mudah untuk memberhentikan begitu banyak karyawan, Canva layak mendapat apresiasi atas pendekatannya.

Namun, tidak semua tanggapan bernada positif. Sebagian pihak mempertanyakan ketentuan lebih lanjut di balik program hibah tersebut. Akun SocialistMAD, misalnya, menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan adanya persyaratan tertentu apabila bisnis penerima hibah mulai menghasilkan pendapatan dalam jumlah besar.

Restrukturisasi Berjalan di Tengah Pengembangan Teknologi AI

Di sisi lain, restrukturisasi Canva berlangsung ketika perusahaan terus memperluas penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam produknya.

CEO Canva, Melanie Perkins, menyebut pertumbuhan perusahaan mulai melambat untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Meski demikian, Canva masih mencatatkan profitabilitas dan memperkirakan pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 20 persen. Tahun 2026 juga diproyeksikan menjadi tahun ke-10 berturut-turut perusahaan membukukan keuntungan.

Perkins menjelaskan bahwa perkembangan teknologi baru ikut menjadi konteks perubahan perusahaan. Namun, ia menegaskan posisi karyawan yang terdampak restrukturisasi tidak sedang digantikan oleh AI.

Dalam pengumumannya, Perkins menyatakan bahwa teknologi baru mengubah hal-hal yang dapat diciptakan manusia, cara mereka menciptakannya, serta ekspektasi terhadap produk yang digunakan.

Sepanjang 2026, Canva telah memperkenalkan sejumlah fitur berbasis AI. Pada April, perusahaan meluncurkan Canva AI 2.0 yang memungkinkan pengguna menghasilkan desain berlapis dan dapat diedit melalui perintah teks. Fitur tersebut juga dilengkapi alur kerja mandiri untuk membantu tugas seperti riset web, penjadwalan, dan pemrograman.

Canva menyebut peluncuran tersebut sebagai evolusi produk paling signifikan sejak perusahaan berdiri pada 2013.

Pada Oktober, perusahaan memperkenalkan Craft, model pembuat gambar yang dikembangkan oleh laboratorium AI internal Canva. Selanjutnya, Canva juga mengumumkan Canva Brush yang dirancang untuk membantu proses penyuntingan desain.

Menurut perusahaan, teknologi tersebut mampu mempercepat pengerjaan tugas penyuntingan desain standar hingga 69 persen dan menekan biaya per tugas sebesar 46 persen dibandingkan agen desain sebelumnya.

Pengembangan AI tersebut turut mendorong pertumbuhan penggunaan produk Canva. Sejak September dan peluncuran Canva AI 2.0, jumlah pengguna disebut meningkat dua kali lipat. Pengguna yang menemukan Canva melalui asisten AI juga tercatat berlangganan layanan berbayar dengan tingkat konversi dua kali lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Meski demikian, Perkins menegaskan bahwa Canva memandang AI sebagai teknologi untuk mengubah dan membantu pekerjaan karyawan, bukan sebagai sarana untuk mengotomatisasi seluruh pekerjaan dan menghilangkan kebutuhan terhadap tenaga manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *