4 Strategi UMKM Jaga Keuntungan Saat Harga Bahan Baku Naik

Pelaku UMKM menghitung biaya bahan baku dan mencatat keuangan usaha untuk menjaga arus kas serta keuntungan bisnis.
Pelaku UMKM menghitung biaya bahan baku dan mencatat keuangan usaha untuk menjaga arus kas serta keuntungan bisnis. Dok: Pexels

DINEWS.ID – Harga bahan baku yang berubah-ubah bisa menjadi ujian serius bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Bagi pemilik usaha makanan, minuman, hingga kerajinan, kenaikan harga minyak goreng, tepung, gula, atau bahan kemasan dapat langsung memengaruhi biaya produksi. Jika tidak diantisipasi, keuntungan yang selama ini terkumpul bisa semakin tipis, meskipun penjualan terlihat tetap ramai.

Situasi tersebut membuat pelaku usaha perlu melihat bisnis bukan hanya dari jumlah omzet, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan pengeluaran dan menjaga ketersediaan uang tunai. Omzet yang meningkat belum tentu membuat usaha lebih sehat apabila biaya produksi, utang kepada pemasok, dan pengeluaran operasional ikut membesar.

Karena itu, pengelolaan keuangan menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlangsungan UMKM. Bank Indonesia menyediakan pedoman pencatatan transaksi keuangan bagi usaha mikro dan kecil untuk membantu pelaku usaha memahami kondisi keuangan, menyusun laporan, serta mengelola aktivitas bisnis secara lebih terukur.

Dilansir dari laman resmi Bank Indonesia, pencatatan keuangan yang baik membantu pelaku UMKM mengetahui kondisi usaha dan menyediakan informasi yang dibutuhkan ketika mengajukan pembiayaan. Prinsip ini relevan ketika harga bahan baku bergerak tidak menentu karena keputusan bisnis perlu didasarkan pada catatan biaya, penjualan, dan arus kas yang jelas.

Lantas, bagaimana cara UMKM menjaga keuangan agar operasional tetap berjalan ketika biaya produksi meningkat? Berikut empat strategi yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing usaha.

pexels shvets production 9052479

1. Pisahkan Uang Pribadi dan Keuangan Usaha

Salah satu fondasi pengelolaan keuangan adalah memisahkan uang pribadi dari uang bisnis. Pada usaha berskala kecil, pemilik sering merangkap sebagai pengelola, pembeli bahan baku, pencatat transaksi, sekaligus orang yang menerima pembayaran pelanggan.

Kondisi tersebut membuat uang usaha mudah tercampur dengan kebutuhan rumah tangga. Ketika uang di rekening masih terlihat banyak, pemilik mungkin menganggap bisnis sedang menghasilkan keuntungan, padahal sebagian dana itu seharusnya digunakan untuk membeli bahan baku, membayar karyawan, atau memenuhi kewajiban operasional.

Solusinya, gunakan rekening atau pencatatan terpisah untuk transaksi bisnis. Catat setiap pemasukan dari penjualan dan setiap pengeluaran, termasuk pembelian bahan baku, biaya pengiriman, listrik, sewa, serta kebutuhan operasional lainnya.

Pemilik usaha juga dapat menetapkan jumlah pengambilan uang untuk kebutuhan pribadi secara terencana. Dengan begitu, penggunaan modal kerja tidak berubah-ubah mengikuti kebutuhan rumah tangga.

Bank Indonesia menyediakan Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK) yang dapat membantu UMKM mencatat transaksi dan menghasilkan laporan keuangan secara digital.

Pencatatan tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit. Buku kas sederhana atau aplikasi pencatatan dapat menjadi langkah awal, asalkan digunakan secara konsisten.

Ketika biaya bahan baku naik, catatan tersebut membantu pemilik mengetahui seberapa besar tambahan pengeluaran yang harus ditanggung dan apakah kondisi kas masih cukup untuk menjalankan operasional.

2. Siapkan Lebih dari Satu Pemasok Bahan Baku

Mengandalkan satu pemasok untuk seluruh kebutuhan produksi dapat membuat usaha lebih rentan ketika harga berubah, barang sulit diperoleh, atau pengiriman mengalami kendala.

Karena itu, pelaku UMKM dapat membangun hubungan dengan beberapa pemasok yang memenuhi standar kualitas dan kebutuhan usaha. Pilihan ini memberikan ruang untuk membandingkan harga, ketersediaan barang, biaya pengiriman, dan ketentuan pembayaran.

Namun, memilih pemasok tidak sebaiknya hanya berpatokan pada harga termurah. Kualitas bahan baku, konsistensi pasokan, waktu pengiriman, serta kesesuaian barang dengan kebutuhan produksi juga perlu dipertimbangkan.

Sebagai contoh, usaha makanan yang menggunakan bahan baku mudah rusak perlu memperhitungkan kemampuan penyimpanan sebelum membeli dalam jumlah besar. Diskon pembelian tidak akan menguntungkan apabila sebagian bahan akhirnya terbuang karena melewati masa penggunaan yang layak.

Sementara itu, bahan yang tahan lama dapat dibeli dalam jumlah lebih besar apabila perhitungan kebutuhan, kapasitas penyimpanan, dan kondisi arus kas memungkinkan.

Pelaku usaha juga perlu menghitung apakah pembelian grosir benar-benar menghasilkan penghematan setelah memperhitungkan biaya penyimpanan dan risiko barang tidak terpakai.

Strategi lainnya adalah mengevaluasi kebutuhan bahan baku secara berkala. Dengan mengetahui bahan yang paling banyak menyerap biaya, pemilik dapat memprioritaskan negosiasi harga dan mencari alternatif pemasok untuk komponen tersebut.

Tujuannya bukan sekadar mendapatkan harga murah, melainkan menjaga kelancaran produksi tanpa mengorbankan kualitas produk.

pexels noursakina 37303230

3. Hitung Ulang Harga Jual dan Kendalikan Porsi Produk

Ketika biaya bahan baku meningkat, mempertahankan harga jual tanpa melakukan perhitungan ulang dapat mempersempit margin keuntungan. Namun, menaikkan harga secara mendadak juga berpotensi memengaruhi keputusan pelanggan.

Karena itu, pelaku UMKM perlu memahami biaya produksi per produk sebelum menentukan langkah berikutnya.

Perhitungan sebaiknya mencakup bahan baku, kemasan, tenaga kerja, serta biaya operasional lain yang relevan. Setelah itu, bandingkan biaya tersebut dengan harga jual dan margin yang ingin dipertahankan.

Jika biaya meningkat, ada beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan. Pemilik dapat menegosiasikan harga dengan pemasok, mengurangi pemborosan bahan, memperbaiki proses produksi, atau menyesuaikan harga jual berdasarkan hasil perhitungan.

Untuk usaha makanan dan minuman, pengendalian porsi juga dapat membantu menjaga konsistensi biaya. Takaran bahan perlu dibuat terukur agar setiap produk menggunakan jumlah bahan yang sesuai standar.

Namun, pengendalian porsi bukan berarti mengurangi isi secara diam-diam atau menurunkan kualitas tanpa pemberitahuan. Jika ukuran produk, komposisi, atau kemasan berubah, informasi kepada pelanggan perlu disampaikan dengan jelas.

Pilihan lain adalah menawarkan beberapa ukuran produk atau membuat variasi kemasan yang sesuai dengan kebutuhan dan daya beli pelanggan. Strategi tersebut dapat memberikan pilihan tanpa memaksa seluruh konsumen membeli produk dengan harga yang sama.

Keputusan akhir tetap perlu mempertimbangkan karakteristik pasar, harga pesaing, dan nilai produk yang ditawarkan. Harga yang sehat bukan sekadar harga tertinggi, melainkan harga yang mampu menutup biaya secara wajar sekaligus tetap sesuai dengan nilai yang diterima pelanggan.

4. Bangun Dana Cadangan untuk Menjaga Arus Kas

Dana cadangan membantu usaha menghadapi pengeluaran tak terduga, termasuk kenaikan harga bahan baku atau penurunan penjualan sementara.

Tanpa cadangan kas, pelaku UMKM bisa kesulitan membeli bahan untuk produksi berikutnya meskipun masih memiliki pelanggan. Masalahnya, uang hasil penjualan mungkin sudah digunakan untuk kebutuhan lain atau masih tertahan dalam bentuk piutang dan persediaan.

Karena itu, pemilik usaha perlu menyusun perkiraan arus kas dengan melihat pemasukan dan pengeluaran yang diperkirakan terjadi dalam periode tertentu. Catatan ini dapat membantu menentukan berapa dana yang harus tersedia untuk kebutuhan operasional rutin.

Sebagian laba dapat dialokasikan secara bertahap ke rekening cadangan sesuai kemampuan usaha. Besarnya alokasi tidak harus sama bagi setiap bisnis karena kebutuhan modal kerja, pola penjualan, dan tingkat risiko berbeda-beda.

Sebelum menentukan jumlah dana cadangan, prioritaskan kebutuhan pokok usaha seperti pembelian bahan baku, pembayaran kewajiban, dan biaya operasional yang tidak dapat ditunda. Hindari menetapkan persentase simpanan secara kaku apabila kondisi kas belum memungkinkan.

Dana cadangan juga sebaiknya dipisahkan dari uang yang digunakan untuk transaksi sehari-hari. Pemisahan ini memudahkan pemilik memantau apakah bisnis benar-benar memiliki penyangga keuangan ketika menghadapi tekanan biaya.

Dengan perencanaan yang teratur, pelaku UMKM dapat mengambil keputusan dengan lebih tenang tanpa harus langsung mengandalkan utang setiap kali harga bahan baku meningkat.

Kelola Keuangan agar UMKM Tetap Bertumbuh

Fluktuasi harga merupakan salah satu tantangan yang perlu diperhitungkan dalam menjalankan usaha. Pelaku UMKM tidak selalu dapat mengendalikan harga pasar, tetapi masih memiliki ruang untuk memperbaiki pencatatan keuangan, memilih pemasok, mengatur biaya produksi, dan menyiapkan cadangan kas.

Keempat strategi tersebut akan lebih efektif apabila dilakukan secara beriringan. Pencatatan keuangan membantu pemilik memahami kondisi bisnis, pemasok alternatif memberi pilihan dalam pengadaan bahan, perhitungan harga menjaga margin, sedangkan dana cadangan membantu memenuhi kebutuhan operasional.

Yang tidak kalah penting, evaluasi perlu dilakukan secara berkala. Ketika harga bahan baku berubah, pemilik usaha sebaiknya segera memperbarui perhitungan biaya dan menilai dampaknya terhadap harga jual serta keuntungan.

Dengan pengelolaan keuangan yang disiplin dan keputusan berdasarkan data, UMKM memiliki dasar yang lebih kuat untuk menghadapi perubahan biaya tanpa terburu-buru mengorbankan kualitas produk maupun kepercayaan pelanggan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *