DINEWS.ID — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan anak-anak. Mulai dari mencari jawaban tugas sekolah, merangkum buku, membuat tulisan, hingga membantu menyelesaikan soal yang sulit, semuanya bisa dilakukan hanya dengan beberapa ketukan di layar.
Teknologi ini menawarkan kemudahan yang sulit diabaikan. Namun, di balik jawaban instan yang diberikan, ada pertanyaan penting yang perlu direnungkan orang tua dan pendidik: apakah anak benar-benar sedang belajar, atau justru mulai menyerahkan proses berpikirnya kepada mesin?
Peringatan mengenai persoalan tersebut disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria pada Jumat, 16 Oktober 2026. Dalam peluncuran Kelas Pengasuhan Digital di Jakarta Selatan, ia mengingatkan risiko ketergantungan anak terhadap AI yang dapat mengancam kemandirian dan kemampuan berpikir kritis.
“Jangan sampai anak kita menjadi tergantung dengan artificial intelligence sehingga mereka kehilangan kepribadiannya sendiri, mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis. Ini yang saya kira paling berisiko buat generasi kita ke depan,” ujar Nezar, dikutip dari ANTARA News.
Peringatan ini bukan berarti anak-anak harus dijauhkan sepenuhnya dari teknologi. Sebaliknya, tantangannya adalah memastikan AI tetap menjadi alat bantu yang memperkuat kemampuan manusia, bukan mengambil alih peran manusia dalam belajar dan mengambil keputusan.
Ketika Jawaban Instan Menggantikan Proses Belajar
Bayangkan seorang anak mendapatkan tugas menulis esai tentang pahlawan nasional. Alih-alih membaca materi, menentukan gagasan, dan menyusun kalimat sendiri, ia langsung meminta AI menyelesaikan seluruh tugasnya.
Dalam hitungan detik, sebuah esai lengkap bisa tersedia. Bahasanya rapi, strukturnya teratur, bahkan dilengkapi kesimpulan yang terlihat meyakinkan.
Tugas selesai. Namun, apakah anak tersebut memahami isi tulisannya? Bisakah ia menjelaskan kembali gagasannya tanpa bantuan AI? Apakah ia mampu membedakan informasi yang benar dan keliru?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sering luput ketika keberhasilan belajar hanya diukur dari hasil akhir.
Proses belajar bukan semata-mata menghasilkan jawaban yang benar. Anak juga perlu berlatih menghadapi kebingungan, mencari informasi, membandingkan pendapat, melakukan kesalahan, lalu memperbaiki pemahamannya.
Jika seluruh proses tersebut terus-menerus diserahkan kepada AI, anak berisiko kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan yang justru dibutuhkan ketika menghadapi persoalan nyata.
AI dapat membantu menyelesaikan tugas, tetapi hasil yang cepat tidak selalu berarti pemahaman yang mendalam.
AI Sebaiknya Menjadi Asisten, Bukan Bos
Perbedaan antara AI sebagai asisten dan AI sebagai bos sebenarnya terletak pada siapa yang memegang kendali.
Ketika AI menjadi bos, manusia cenderung menerima hasilnya tanpa banyak bertanya. Anak cukup mengetik perintah, menyalin jawaban, lalu menganggap pekerjaannya selesai.
Sebaliknya, ketika AI menjadi asisten, anak tetap memegang kendali atas proses berpikirnya. Ia menentukan apa yang ingin dipelajari, mengajukan pertanyaan, memeriksa jawaban, dan memutuskan apakah informasi yang diperoleh masuk akal.
Misalnya, ketika mengerjakan tugas sejarah, anak bisa meminta AI menjelaskan latar belakang suatu peristiwa dengan bahasa sederhana. Setelah itu, ia membaca sumber lain, membandingkan informasi, lalu menuliskan pemahamannya sendiri.
Dalam situasi ini, AI membantu membuka jalan menuju pengetahuan. Namun, anak tetap menjadi pihak yang belajar, menilai, dan mengambil kesimpulan.
Prinsip serupa disampaikan Nezar Patria dalam pemberitaan ANTARA pada 4 Februari 2026. Ia menekankan bahwa AI dapat digunakan untuk membantu riset dan memecahkan persoalan, tetapi analisis akhir serta proses berpikir harus tetap dilakukan manusia.
Pernyataan tersebut dapat dibaca melalui ANTARA News.
Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak boleh menggunakan AI. Yang lebih penting adalah apakah penggunaan teknologi tersebut membuat seseorang semakin mampu berpikir atau justru semakin bergantung.
Penelitian Microsoft dan Carnegie Mellon Mengingatkan Risiko Ketergantungan
Kekhawatiran mengenai penggunaan AI dan kemampuan berpikir kritis juga menjadi perhatian peneliti.
Pada 2025, peneliti dari Microsoft Research dan Carnegie Mellon University memublikasikan studi berjudul The Impact of Generative AI on Critical Thinking: Self-Reported Reductions in Cognitive Effort and Confidence Effects From a Survey of Knowledge Workers.
Penelitian yang dipublikasikan dalam konferensi CHI 2025 tersebut melibatkan 319 pekerja profesional yang menggunakan AI generatif. Para peneliti menganalisis 936 contoh penggunaan AI dalam pekerjaan dan meminta peserta menjelaskan bagaimana mereka melakukan proses berpikir kritis ketika menggunakan teknologi tersebut.
Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara tingkat kepercayaan terhadap kemampuan AI dan upaya berpikir kritis. Peserta yang lebih percaya pada AI cenderung melaporkan upaya berpikir kritis yang lebih rendah, sedangkan mereka yang lebih percaya pada kemampuan sendiri cenderung melaporkan keterlibatan berpikir kritis yang lebih tinggi.
Temuan ini tidak berarti bahwa semua penggunaan AI pasti menurunkan kemampuan berpikir. Penelitian tersebut mengandalkan laporan peserta mengenai pengalaman mereka dan dilakukan terhadap pekerja profesional, bukan anak sekolah.
Namun, hasilnya memberikan pelajaran penting: semakin besar kecenderungan seseorang menerima hasil AI tanpa pemeriksaan, semakin besar pula risiko ia melewatkan proses evaluasi yang seharusnya dilakukan.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa berpikir kritis ketika menggunakan AI tidak harus berarti menolak teknologi. Aktivitas seperti memverifikasi informasi, mengintegrasikan jawaban dengan pengetahuan sendiri, dan mengevaluasi hasil justru menjadi bagian penting dari penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Studi lengkapnya tersedia melalui Microsoft Research.
Orang Tua Tidak Bisa Menyerahkan Semuanya kepada Teknologi
Di tengah perkembangan AI, peran orang tua menjadi semakin penting. Anak tidak cukup hanya diajari cara menggunakan aplikasi atau membuat perintah yang tepat. Mereka juga perlu memahami kapan AI dapat membantu dan kapan mereka harus berusaha menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Pendampingan tidak harus selalu dilakukan dengan melarang atau mengawasi setiap gerakan anak di depan layar. Orang tua dapat memulainya melalui percakapan sederhana.
Ketika anak menunjukkan jawaban dari AI, misalnya, orang tua bisa bertanya, “Menurut kamu, apakah jawaban ini benar? Apa alasannya? Kalau kamu mencari sumber lain, apakah hasilnya sama?”
Pertanyaan semacam itu mendorong anak untuk tidak langsung menerima informasi. Ia belajar mempertanyakan, membandingkan, dan menyusun alasan berdasarkan pemahamannya sendiri.
Orang tua juga dapat membuat kesepakatan mengenai penggunaan AI untuk tugas sekolah. Anak bisa diminta mencoba mengerjakan soal terlebih dahulu sebelum meminta bantuan teknologi. Setelah memperoleh jawaban dari AI, ia perlu menjelaskan kembali dengan bahasanya sendiri.
Cara ini membantu anak memahami bahwa AI bukan jalan pintas untuk menghindari proses belajar, melainkan alat yang dapat digunakan setelah ia berusaha.
Komdigi juga menekankan pentingnya pengasuhan digital untuk membantu anak menghadapi lingkungan teknologi yang semakin kompleks. Informasi tersebut dapat dibaca melalui siaran pers resmi Komdigi.
Mengajarkan Anak Menggunakan AI dengan Bijak
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan agar AI membantu perkembangan kemampuan anak, bukan menggantikannya.
Pertama, biasakan anak mencoba berpikir sendiri sebelum meminta jawaban dari AI. Usaha awal ini memberi kesempatan bagi otak untuk memproses informasi dan membangun pemahaman.
Kedua, gunakan AI untuk menjelaskan konsep yang sulit, bukan sekadar menghasilkan jawaban akhir. Anak dapat meminta contoh tambahan, penjelasan dengan bahasa sederhana, atau pertanyaan latihan untuk menguji pemahamannya.
Ketiga, ajarkan pentingnya memeriksa fakta. AI dapat memberikan jawaban yang keliru atau tidak lengkap meskipun disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan. Karena itu, informasi penting tetap perlu dibandingkan dengan buku, sumber resmi, atau referensi tepercaya.
Keempat, dorong anak menyampaikan pendapatnya sendiri. Setelah menggunakan AI, mintalah ia menjelaskan apa yang dipahami, bagian mana yang disetujui, dan bagian mana yang masih diragukan.
Terakhir, jangan abaikan kegiatan belajar tanpa perangkat digital. Membaca buku, berdiskusi, menulis dengan tangan, bermain, dan mengamati lingkungan tetap memberikan pengalaman yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh interaksi dengan layar.
Tujuannya bukan membuat anak takut terhadap teknologi, melainkan membangun kebiasaan agar ia mampu menggunakannya secara sadar dan bertanggung jawab.
Masa Depan AI Tetap Membutuhkan Manusia yang Mampu Berpikir
AI akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang tumbuh saat ini kemungkinan akan menggunakannya dalam pendidikan, pekerjaan, dan berbagai aktivitas pada masa depan.
Karena itu, menolak seluruh perkembangan teknologi bukanlah satu-satunya jawaban. Yang lebih mendesak adalah memastikan anak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kemandirian.
Kecerdasan bukan hanya kemampuan menemukan jawaban tercepat. Ada proses memahami, mempertanyakan, mempertimbangkan akibat, dan mengambil keputusan yang membutuhkan keterlibatan manusia.
AI bisa membantu anak menulis lebih terstruktur, memahami konsep yang rumit, atau menemukan sudut pandang baru. Namun, anak tetap perlu belajar menentukan apa yang penting, menilai kebenaran informasi, dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa pintar AI menjawab pertanyaan anak kita, melainkan seberapa baik anak kita belajar dari jawaban tersebut.
Jadikan AI sebagai asisten yang membantu anak berkembang, bukan bos yang mengambil alih pikirannya. Sebab, teknologi seharusnya memperluas kemampuan manusia, bukan membuat manusia lupa menggunakan kemampuannya sendiri.













