DINEWS.ID – Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah berdampak langsung pada kenaikan harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama industri tempe. Kondisi ini dirasakan para pengrajin tempe rumahan di Kota Bogor yang harus mencari berbagai cara agar usahanya tetap bertahan tanpa membebani konsumen dengan kenaikan harga jual.
Salah satu pengrajin tempe, Rohmat (57), pemilik usaha Tempe Super Mas Jono di kawasan Cimanggu Barat, Kecamatan Tanah Sareal, mengaku harga kedelai impor saat ini telah mencapai Rp11.000 hingga Rp12.000 per kilogram. Padahal, sekitar tiga hingga empat bulan lalu harga kedelai masih berada di kisaran Rp8.700 hingga Rp9.000 per kilogram.
“Ketika dolar naik, harga kedelai otomatis ikut naik. Dengan kondisi kurs saat ini, tentu cukup berat bagi para pengrajin untuk membeli bahan baku,” ujar Rohmat, Jumat (5/6/2026).
Tidak hanya kedelai, kenaikan harga juga terjadi pada bahan penunjang produksi seperti plastik kemasan. Harga plastik yang sebelumnya sekitar Rp17.000 per ikat kini melonjak menjadi Rp26.000 per ikat.
Meski menghadapi lonjakan biaya produksi, Rohmat memilih untuk tetap menjalankan usahanya dan tidak mengikuti wacana penghentian produksi yang sempat muncul di kalangan pengrajin tempe.
Menurutnya, menghentikan produksi justru akan berdampak pada keberlangsungan usaha serta kebutuhan ekonomi keluarga. Sebagai langkah penyesuaian, ia mengurangi kapasitas produksi harian dari sekitar 80 kilogram kedelai menjadi 50 hingga 60 kilogram per hari.
Selain itu, ukuran tempe yang dipasarkan juga dibuat sedikit lebih kecil agar harga jual tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Kami berusaha mempertahankan harga jual karena daya beli masyarakat saat ini belum sepenuhnya pulih. Jadi yang disesuaikan adalah ukuran dan jumlah produksi, bukan harga jualnya,” jelasnya.
Saat ini, tempe produksinya masih dijual dengan harga mulai dari Rp4.000 untuk ukuran kecil hingga Rp12.000 untuk ukuran terbesar.
Di tengah pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rohmat mengaku belum tertarik menjadi pemasok karena harga yang ditawarkan dinilai belum sesuai dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan pengrajin.
Ia mencontohkan, produk tempe yang biasa dijual seharga Rp10.000 per potong dengan berat sekitar 800 gram kerap ditawar pada kisaran Rp2.000 hingga Rp4.000 per potong melalui skema pengadaan katering.
Menurutnya, harga tersebut tidak sebanding dengan biaya bahan baku, tenaga kerja, dan operasional yang terus meningkat.
“Kalau harga yang ditawarkan terlalu rendah, tentu akan merugikan pengrajin. Kami harus tetap memperhitungkan biaya produksi agar usaha bisa terus berjalan,” katanya.
Rohmat yang telah menjalankan usaha tempe sejak 1982 berharap pemerintah dapat mengambil langkah nyata dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku, khususnya kedelai impor yang sangat bergantung pada kondisi pasar global dan nilai tukar rupiah.
Ia menilai dukungan terhadap pelaku usaha mikro dan industri pangan rakyat menjadi penting agar mereka tetap mampu bertahan dan terus menyediakan kebutuhan pangan masyarakat di tengah tantangan ekonomi yang dinamis. (Yis)








