Ancaman Hantavirus Mengintai, Dinkes Pastikan Kota Bogor Masih Nol Kasus

WhatsApp Image 2026 05 14 at 17.12.24
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena

DINEWS.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Hantavirus. Langkah ini diambil menyusul adanya laporan temuan kasus infeksi mematikan tersebut di kapal ekspedisi MV Hondius pada awal Mei 2026 lalu.

Meskipun penyakit yang ditularkan melalui tikus ini telah menjadi perhatian global, Dinkes memastikan hingga 11 Mei 2026 belum ada laporan temuan kasus di wilayah Kota Bogor.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena, menegaskan bahwa hingga saat ini wilayahnya masih terbebas dari Hantavirus. Namun, ia mewanti-wanti warga agar tidak lengah terhadap potensi penularan yang dibawa oleh hewan pengerat.

​”Penyakit ini sudah ada di dunia, tetapi di Kota Bogor sampai saat ini belum ada, tidak terlaporkan, dan mudah-mudahan memang tidak ada. Kewaspadaan sangat diperlukan karena penularannya terjadi melalui perantara hewan, yaitu tikus,” tegas Erna, Senin (11/5/2026).

Rekam Jejak di Jawa Barat

Ancaman Hantavirus di wilayah Jawa Barat sejatinya bukan hal baru. Berdasarkan data surveilans Kemenkes tahun 2025, tercatat ada dua kasus konfirmasi penyakit virus Hanta di Jabar, tepatnya di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Ciamis.

​Kewaspadaan dunia kini kembali meningkat pasca-temuan delapan kasus infeksi di Kapal MV Hondius, di mana tiga pasien dilaporkan meninggal dunia akibat strain Andes virus.

Kenali Gejala dan Bahayanya

Erna menjelaskan, gejala awal penyakit zoonosis ini sekilas menyerupai infeksi virus biasa sehingga sering kali diabaikan.

​”Gejala awal penyakit ini mirip dengan infeksi virus pada umumnya, yaitu demam,” paparnya.

Gejala penyerta lainnya dapat berupa sakit kepala hebat, nyeri otot, lemas, hingga mual dan muntah. ​Namun, Erna menekankan bahaya serius dari fase lanjutan infeksi ini jika tidak segera ditangani secara medis.

“Pada beberapa kasus dampaknya bisa sangat fatal. Penyakit ini dapat memicu gangguan pada organ tubuh, seperti hati dan organ lainnya, yang berisiko menyebabkan kematian,” imbuhnya.

Erna menegaskan sebagai bentuk antisipasi, Dinkes Kota Bogor telah menerbitkan Surat Edaran Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan Terhadap Kejadian Penyakit Hantavirus.

​”Dinas Kesehatan telah meningkatkan surveilans (pengawasan penyakit) serta menjalin kerja sama dengan pihak rumah sakit untuk keperluan deteksi dini,” ungkap Erna.

Erna mengatakan gejala umum dari Hantavirus, umumnya menyebar ke manusia melalui paparan urin, tinja, atau air liur tikus yang terinfeksi, baik lewat udara (aerosol), sentuhan benda tercemar, maupun gigitan. Oleh karena itu, kebersihan lingkungan menjadi kunci utama.

​”Pastikan lingkungan di sekitar kita tetap bersih dan bebas dari tikus. Masyarakat juga harus selalu berhati-hati ketika berkontak dengan sesuatu yang kemungkinan terkontaminasi oleh tikus, seperti genangan air selokan atau ruangan yang tidak higienis,” sarannya.

​Erna juga meminta warga tetap disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta tidak menyebarkan informasi hoaks yang dapat memicu kepanikan massal.

​”Imbauan kami tetap disiplin mencuci tangan pakai sabun dan selalu menjaga kebersihan lingkungan,” pungkasnya.

Yis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *