DINEWS.ID – Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, makna bela negara acap kali dipersempit pada konteks militer dan pertahanan fisik. Namun, bagi Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, semangat bela negara justru harus ditafsirkan lebih luas, sebagai bentuk kecintaan dan tanggung jawab warga terhadap bangsa melalui tindakan-tindakan sederhana namun berdampak nyata.
“Bela negara bukan hanya soal senjata dan perang. Ini tentang bagaimana kita mencintai Indonesia lewat tindakan sehari-hari, menjaga lingkungan, menghormati hukum, berbuat untuk sesama, hingga tidak menyebarkan hoaks,” ujar Dedie di sela pelantikan Forum Bela Negara (FBN) RI DPD Kota Bogor, Sabtu (25/10/2025).
Dedie menilai, tantangan terhadap kedaulatan dan keutuhan bangsa kini tak hanya datang dalam bentuk ancaman militer, tetapi juga melalui disinformasi, intoleransi, krisis moral, hingga ketimpangan sosial. Dalam konteks itu, bela negara mesti hadir dalam bentuk kesadaran kolektif untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan.
Ia mencontohkan bentuk bela negara nonfisik seperti terlibat dalam kegiatan sosial, mendukung ekonomi lokal, mencintai produk dalam negeri, menjaga kelestarian budaya, dan mengembangkan diri secara profesional.
“Kemandirian ekonomi, inovasi, serta semangat gotong royong juga bagian dari bela negara,” tambahnya.
Dedie menggarisbawahi, ketahanan nasional bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Ia melihat peran organisasi seperti FBN sebagai motor penggerak yang mampu menanamkan nilai nasionalisme hingga ke akar komunitas.
“Forum seperti ini harus bisa menjadi ruang edukasi dan kolaborasi lintas generasi. Tantangan ke depan bukan hanya pertahanan fisik, tapi juga mempertahankan moral, identitas, dan keutuhan sosial bangsa,” katanya.
Fenomena globalisasi, kemajuan teknologi, dan derasnya arus informasi membuat batas antarnegara makin kabur. Menurut Dedie, di sinilah pentingnya menanamkan semangat bela negara yang adaptif, bukan dalam bentuk doktrin kaku, melainkan kesadaran untuk berkontribusi sesuai kemampuan dan profesi masing-masing.
“Seorang guru yang menanamkan nilai kebangsaan pada siswanya, pelaku UMKM yang konsisten menjual produk lokal, atau pemuda yang aktif di kegiatan sosial, mereka semua adalah pejuang bela negara,” tegas Dedie.
Dedie berharap, semangat bela negara bisa menjadi gerakan kolektif yang melampaui seremonial dan jargon. Pemerintah, dunia pendidikan, dan komunitas harus bersinergi menumbuhkan nasionalisme yang kontekstual dengan tantangan masa kini.
“Bela negara hari ini bukan lagi soal siap berperang, tapi siap berbuat,” pungkasnya.













