The 5th ICTB 2026 di Bogor, Ratusan Peneliti Bahas Biodiversitas

The 5th ICTB 2026 di Bogor membahas biodiversitas kawasan tropis
The 5th ICTB 2026 di Bogor membahas biodiversitas kawasan tropis. Dok: Istimewa

DINEWS.ID – The 5th ICTB 2026 digelar di IPB International Convention Center (IICC), Kota Bogor, Senin, 5 Oktober 2026. Konferensi internasional ini mempertemukan sekitar 200 peserta dari sembilan negara untuk membahas tantangan ekosistem dan pelestarian keanekaragaman hayati atau biodiversitas di kawasan tropis.

Peserta yang hadir terdiri atas peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi dari Aljazair, Austria, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Polandia, Thailand, dan Timor-Leste.

WhatsApp Image 2026 10 05 at 15.55.07

Mengusung tema “Biodiversity Beyond Boundaries, Advancing Global Education, Bioscience and Sustainable Landscapes”, The 5th International Conference on Tropical Biology (ICTB) 2026 menjadi wadah lintas negara untuk mempertemukan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan kesejahteraan masyarakat.

Konferensi tersebut tidak hanya membahas kekayaan biodiversitas di kawasan tropis, tetapi juga mendorong kolaborasi dalam menghadapi tantangan yang muncul terhadap ekosistem.

Koordinator The 5th ICTB 2026, Dewi Suryani, mengatakan kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta dari sembilan negara. Selain jumlah peserta, konferensi ini juga menghadirkan puluhan abstrak yang dipersiapkan untuk dipresentasikan.

“Terdapat total 51 abstrak yang dipersiapkan untuk dipresentasikan, terdiri dari 43 presentasi oral dan delapan presentasi poster. Keberagaman partisipasi ini menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi tantangan kompleks yang dihadapi ekosistem tropis,” jelas Dewi.

The 5th ICTB 2026 Bahas Tantangan Biodiversitas Tropis

Pembahasan mengenai biodiversitas menjadi salah satu perhatian utama dalam konferensi tersebut. Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof. Edi Santosa, menyoroti posisi strategis Asia yang menguasai hampir 20 persen kekayaan biodiversitas dunia.

Kawasan Asia juga memiliki belasan negara megabiodiversitas. Namun, kekayaan alam tersebut menghadapi ancaman dari ekspansi lahan dan eksploitasi.

Kondisi itu, menurut Prof. Edi, memunculkan apa yang disebut sebagai “paradoks biodiversitas”. Kekayaan biodiversitas yang besar tidak selalu berjalan seiring dengan tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah yang memiliki kekayaan tersebut.

“Dalam situasi tersebut terdapat paradoks biodiversitas. Negara-negara yang kaya akan biodiversitas di sebagian besar wilayah dunia pada saat yang sama masih memiliki masyarakat yang hidup dalam kondisi kesejahteraan yang rendah,” tegas Prof. Edi.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu negara atau satu institusi. Penyelesaiannya membutuhkan kolaborasi karena tantangan yang dihadapi ekosistem tropis bersifat kompleks.

SEAMEO BIOTROP terus mendorong kolaborasi regional melalui empat program utama. Upaya tersebut termasuk pengembangan ekonomi sirkular dan optimalisasi lahan suboptimal.

Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan kekayaan alam tidak hanya menjadi bagian dari upaya pelestarian biodiversitas, tetapi juga dapat memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan manusia.

Bogor Didorong Jadi Ruang Pertemuan Sains dan Masyarakat

Perhelatan The 5th ICTB 2026 juga mendapat sambutan dari Pemerintah Kota Bogor. Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyambut antusias penyelenggaraan konferensi berskala global tersebut.

Menurut Dedie, terpilihnya Kota Bogor sebagai lokasi konferensi internasional semakin mengukuhkan identitas Bogor sebagai Kota Sains.

“Ini merupakan kesempatan untuk menegaskan kembali Bogor sebagai Kota Sains, tempat pengetahuan bertemu dengan inovasi dan ilmu pengetahuan terhubung dengan masyarakat,” ujar Dedie.

Dedie juga menyoroti persoalan krisis iklim dan degradasi lahan yang tidak mengenal batas wilayah administratif. Karena itu, penanganannya membutuhkan sinergi antara hasil riset dan tindakan nyata masyarakat.

Ia menilai ilmu pengetahuan memiliki peran dalam membantu memahami berbagai tantangan yang dihadapi. Pendidikan diperlukan untuk membangun kesadaran, sementara inovasi berperan dalam menciptakan solusi.

Kolaborasi kemudian menjadi bagian penting agar pengetahuan yang dihasilkan tidak berhenti sebagai hasil riset, tetapi dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang bermakna.

“Sebagai pemerintah daerah, kami percaya bahwa ilmu pengetahuan membantu kita memahami tantangan, pendidikan membangun kesadaran, inovasi menciptakan solusi, dan kolaborasi mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang bermakna.

“Masyarakat lokal merupakan mitra yang sangat penting untuk memastikan inisiatif keberlanjutan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan,” pungkasnya.

Dengan tema biodiversitas yang melibatkan peserta dari berbagai negara, The 5th ICTB 2026 menjadi ruang pertemuan bagi peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi untuk membahas tantangan ekosistem tropis.

Konferensi yang digelar di Kota Bogor tersebut juga mempertemukan perspektif ilmu pengetahuan dengan kebutuhan kebijakan dan kondisi masyarakat. Berbagai gagasan yang dibahas mencakup biodiversitas, pendidikan, biosains, lanskap berkelanjutan, hingga upaya memastikan kekayaan alam dapat berkaitan dengan kesejahteraan manusia.*(Yis)*

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *