DINEWS.ID – Anak yang sering membantah orang tua kerap dianggap nakal, keras kepala, atau tidak patuh. Namun, para ahli menilai perilaku tersebut tidak selalu menunjukkan kenakalan, melainkan dapat menjadi bagian dari proses perkembangan psikologis dan emosional anak.
Dalam dunia kesehatan mental anak, perilaku membantah dapat muncul karena berbagai faktor, mulai dari keinginan untuk menunjukkan kemandirian, kesulitan mengelola emosi, hingga kondisi psikologis tertentu yang memerlukan perhatian khusus.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anak yang mulai beranjak besar cenderung mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keinginan untuk memiliki pendapat sendiri. Pada fase ini, anak tidak lagi menerima aturan secara pasif, melainkan mulai mempertanyakan alasan di balik suatu aturan.
Selain itu, perkembangan emosi yang belum matang juga menjadi salah satu penyebab anak lebih mudah membantah. Saat merasa lelah, lapar, stres, kecewa, atau tidak dipahami, anak sering kali mengekspresikan ketidaknyamanan melalui penolakan atau perdebatan dengan orang tua.
Psikolog anak menjelaskan bahwa kemampuan mengatur emosi pada anak masih berkembang hingga masa remaja. Karena itu, respons yang dianggap sebagai pembangkangan sering kali sebenarnya merupakan bentuk komunikasi atas kebutuhan emosional yang belum mampu diungkapkan dengan baik.
Faktor lingkungan juga berperan penting. Anak yang merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat atau selalu menerima perintah tanpa penjelasan cenderung menunjukkan perilaku menentang sebagai bentuk pencarian kendali atas dirinya.
Di sisi lain, orang tua juga perlu memperhatikan kondisi fisik anak. Kurang tidur, terlalu lama menggunakan gawai, kelelahan, atau paparan rangsangan berlebihan dapat memengaruhi suasana hati dan meningkatkan risiko munculnya perilaku membantah.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa perilaku membantah yang terjadi terus-menerus, sangat intens, dan mengganggu aktivitas sehari-hari perlu mendapatkan evaluasi lebih lanjut. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan perilaku seperti Oppositional Defiant Disorder (ODD).
ODD merupakan gangguan perilaku yang ditandai dengan pola menentang, mudah marah, sering berdebat, dan menolak aturan dalam jangka waktu yang berkepanjangan. Diagnosis kondisi ini harus dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional melalui pemeriksaan yang komprehensif.
Para orang tua diimbau untuk tidak langsung memberi label negatif kepada anak yang sering membantah. Memahami kondisi emosional dan psikologis anak sejak dini dinilai lebih efektif dalam membangun komunikasi yang sehat sekaligus mendukung tumbuh kembang mental anak secara optimal. (Red)







