Pemerintah Jepang pun angkat bicara. Kantor Kabinet menyampaikan bahwa teknologi saat ini belum bisa meramal gempa secara akurat. Gubernur Prefektur Miyagi, Yoshihiro Murai, juga menyayangkan penyebaran rumor yang memengaruhi industri pariwisata.
Namun kekhawatiran itu tak sepenuhnya menghalangi arus turis. Statistik menunjukkan Jepang mencetak rekor kunjungan wisata sebanyak 10,5 juta orang hanya dalam tiga bulan pertama 2025. Wisatawan dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia juga tetap berdatangan.
Sementara sebagian orang menunda liburan karena takut tsunami raksasa, ada juga yang memilih tetap berangkat. Salah satunya adalah Vic Shing dari Hong Kong yang tetap berencana liburan ke Tokyo dan Osaka pada Juni 2025.
“Prediksi gempa tidak pernah akurat. Jepang sudah sangat berpengalaman menangani bencana,” ujarnya.
Terlepas dari benar atau tidaknya ramalan tersebut, para ahli mengingatkan bahwa kesiapsiagaan tetap lebih penting daripada ketakutan berlebihan. Karena meskipun tsunami raksasa bisa jadi hanya bagian dari imajinasi dalam komik, Jepang tetap berada di wilayah rawan gempa dan harus selalu waspada.










