DINEWS.ID – Tujuh kali menjalani operasi bukanlah perjalanan yang mudah bagi Isnaeni Purnamawati (57), atau yang akrab disapa Bu Nonis. Warga Kelurahan Sempur, Kota Bogor, ini harus melewati perjalanan panjang menghadapi kanker, mulai dari diagnosis kanker payudara ganas hingga munculnya kembali benjolan yang memerlukan pemeriksaan medis.
Di balik perjuangan tersebut, Bu Nonis menyimpan pesan penting bagi masyarakat, terutama mereka yang sedang menghadapi penyakit serupa: jangan kehilangan harapan dan jangan takut memeriksakan kondisi kesehatan sejak dini.
Kisahnya menjadi salah satu pengingat pentingnya deteksi dini kanker. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Kota Bogor pun terus mendorong edukasi kesehatan sekaligus memperkuat pendampingan bagi para pasien.
Pengalaman Bu Nonis menunjukkan bahwa perjalanan menghadapi kanker dapat berlangsung panjang dan membutuhkan ketekunan dalam menjalani pemeriksaan maupun pengobatan.
Perjalanan Panjang Sejak 2010
Perjalanan medis Bu Nonis bermula pada 2010. Saat itu, ia menjalani pemeriksaan rahim dengan hasil patologi anatomi (PA) yang dinyatakan jinak.
Namun, enam tahun kemudian, kondisi kesehatannya menghadapi tantangan berbeda. Pada 2016, Bu Nonis didiagnosis mengidap kanker payudara ganas yang telah menyebar ke kelenjar getah bening di ketiak.
Diagnosis tersebut menjadi awal perjuangan panjang yang harus dijalaninya. Proses pengobatan tidak berhenti pada penanganan awal, sebab pada 2019, benjolan kembali muncul di area punggung dan pundak.
Kondisi itu membuat Bu Nonis harus menjalani tindakan medis lanjutan. Secara keseluruhan, ia telah melewati tujuh kali operasi dalam perjalanan menghadapi penyakitnya.
Perjuangannya kembali berlanjut pada 2026. Bu Nonis memeriksakan benjolan di area kelenjar getah bening, dengan hasil pemeriksaan patologi anatomi yang kali ini dinyatakan jinak.
Rangkaian pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya pemeriksaan medis untuk mengetahui kondisi suatu benjolan. Penilaian dokter dan hasil pemeriksaan diperlukan untuk menentukan apakah suatu kelainan bersifat jinak atau ganas, sehingga masyarakat tidak sebaiknya membuat kesimpulan sendiri hanya berdasarkan bentuk atau keberadaan benjolan.
Bagi Bu Nonis, perjalanan tersebut bukan sekadar rangkaian tindakan medis. Ada keteguhan yang harus terus dijaga ketika menghadapi ketidakpastian dan menjalani pengobatan dalam waktu panjang.
Tetap Beraktivitas, Bu Nonis Tak Ingin Pasien Kehilangan Harapan
Berulang kali menjalani operasi tentu bukan pengalaman ringan. Namun, Bu Nonis berusaha tetap menjalani aktivitasnya, termasuk setelah operasi ketika masih menggunakan selang drainase.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari kisah perjuangannya menghadapi kanker. Ia ingin pasien lain memahami bahwa diagnosis penyakit ganas bukan alasan untuk langsung menyerah pada keadaan.
Dalam peringatan Hari Kanker Payudara Sedunia di Kota Bogor, Senin (19 Oktober 2026), Bu Nonis menyampaikan pesan penyemangat bagi sesama pasien kanker.
“Jangan pesimis. Kita divonis kanker ganas, lantas kita langsung terpuruk. Jangan, kita harus semangat,” ujar Bu Nonis.
Pesan itu lahir dari pengalaman panjang yang telah dilewatinya. Ia mengetahui bahwa perjalanan pengobatan membutuhkan kekuatan untuk menghadapi berbagai tahapan, sekaligus kesediaan untuk terus menjalani penanganan medis.
Meski demikian, setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan pengobatan yang berbeda. Semangat dan dukungan dari lingkungan sekitar perlu berjalan beriringan dengan pemeriksaan serta penanganan yang sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Kisah Bu Nonis juga mengingatkan bahwa pasien kanker membutuhkan ruang untuk mendapatkan dukungan emosional. Perhatian keluarga, lingkungan, dan komunitas dapat membantu pasien merasa tidak sendirian ketika menghadapi proses pengobatan.
Pemkot Bogor Dorong Masyarakat Tidak Takut Periksa
Pengalaman Bu Nonis menjadi salah satu alasan pentingnya memperluas edukasi mengenai deteksi dini kanker di tengah masyarakat.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyoroti tren kasus kanker di Kota Bogor yang disebut cenderung meningkat setiap tahun. Sejumlah faktor risiko yang perlu diwaspadai antara lain faktor genetik, pola hidup tidak sehat, serta penggunaan obat-obatan dalam jangka panjang tanpa pengawasan dokter.
Pemkot Bogor mengajak masyarakat mengurangi rasa takut terhadap pemeriksaan medis, terutama pemeriksaan yang berkaitan dengan kanker payudara dan kanker serviks.
“Jangan sampai masyarakat takut ketika ada pemeriksaan kanker serviks atau kanker payudara. Justru kita ingin mendeteksi lebih awal,” tegas Dedie.
Deteksi dini menjadi perhatian karena pemeriksaan yang dilakukan sesuai kebutuhan medis dapat membantu menemukan kelainan lebih awal. Dengan begitu, tenaga kesehatan dapat melakukan evaluasi dan menentukan langkah penanganan yang tepat berdasarkan kondisi pasien.
Masyarakat yang menemukan benjolan atau perubahan pada payudara maupun bagian tubuh lainnya sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Tidak semua benjolan merupakan kanker, tetapi pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Pemkot Bogor juga mendorong warga memanfaatkan program CKG Smart atau Cek Kesehatan Gratis Smart sebagai bagian dari upaya pemeriksaan kesehatan berkala.
Program tersebut diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan dan tidak menunggu sampai keluhan semakin berat sebelum mencari pertolongan medis. Untuk kebutuhan skrining khusus kanker, masyarakat tetap perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai jenis pemeriksaan yang sesuai.
YKI Bogor Siapkan Pendampingan untuk Enam Pasien
Selain mendorong deteksi dini, dukungan bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan juga menjadi perhatian YKI Cabang Kota Bogor.
Ketua YKI Cabang Kota Bogor, Yantie Rachim, menjadwalkan kunjungan langsung kepada enam pasien kanker payudara yang tersebar di enam kecamatan di Kota Bogor.
Kunjungan tersebut ditujukan untuk memberikan dukungan moral sekaligus memperkuat pendampingan bagi pasien yang sedang menghadapi perjalanan pengobatan.
“Kami akan membersamai mereka, memberikan semangat, mendampingi mereka, dan mengatakan bahwa mereka tidak sendiri. Kami dari YKI Kota Bogor akan terus mendampingi perjuangan mereka,” kata Yantie.
Pendampingan ini menjadi bagian dari kepedulian sosial terhadap pasien kanker. Sebab, menghadapi penyakit bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga dapat menjadi tantangan emosional bagi pasien dan keluarga.
Kehadiran pendamping diharapkan dapat memberikan semangat sekaligus menunjukkan bahwa pasien tetap mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnya.
Melalui edukasi kesehatan dan pendampingan berkelanjutan, Pemkot Bogor bersama YKI ingin memperkuat kesadaran bahwa pencegahan, pemeriksaan, dan dukungan terhadap pasien perlu berjalan bersama.
Jangan Menunda Pemeriksaan, Jangan Biarkan Pasien Berjuang Sendiri
Perjalanan Bu Nonis menghadapi tujuh kali operasi memberikan gambaran tentang panjangnya perjuangan yang dapat dijalani pasien kanker. Namun, kisahnya tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan menjadi pengingat agar kesehatan tidak diabaikan.
Masyarakat perlu mengenali perubahan pada tubuh, mencari informasi dari sumber tepercaya, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika menemukan keluhan yang perlu diperiksa.
Pada saat yang sama, pasien yang telah mendapatkan diagnosis kanker membutuhkan dukungan untuk menjalani proses pengobatan sesuai arahan tenaga medis.
Semangat Bu Nonis menjadi pesan sederhana tetapi bermakna: jangan kehilangan harapan ketika menghadapi penyakit, dan jangan biarkan rasa takut menghalangi langkah untuk memeriksakan kesehatan.
Bagi masyarakat Kota Bogor, penguatan edukasi deteksi dini dan pendampingan pasien diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian yang lebih besar terhadap kesehatan, baik untuk diri sendiri maupun orang-orang di sekitar.











