Kepala PSLH UGM Sebut Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia Dipicu Posisi Matahari dan Efek Perkotaan

PSLH
Ilustrasi freepik.com

DINEWS.ID – Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Djati Mardiatno, menyoroti fenomena cuaca panas ekstrem yang melanda berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Menurut dia, selain posisi gerak semu matahari, aktivitas manusia dan kondisi perkotaan turut memperparah panas yang dirasakan masyarakat.

Fenomena ini menyebabkan suhu udara mencapai 37,6 derajat celsius di sejumlah daerah, termasuk Jawa, Kalimantan, Papua, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). BMKG memperkirakan gelombang panas ini akan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025.

Djati menjelaskan, peningkatan suhu udara dipengaruhi oleh angin timuran, efek lokal seperti heat island effect perkotaan, serta perubahan penggunaan lahan.

“Adanya pembangunan yang masif dan semakin banyak bangunan menyebabkan panas lebih ekstrem,” kata Djati, seperti dikutip dari beritasatu.com, Minggu (26/10/2025).

Meski sebagian wilayah sudah memasuki musim hujan, udara panas tetap terasa karena radiasi matahari yang dipantulkan kembali ke bumi tertahan oleh awan. Selain itu, penggunaan pendingin ruangan seperti AC dan kipas angin justru memperburuk kondisi panas di lingkungan sekitar.

Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, Djati mendorong pemerintah dan masyarakat menambah ruang terbuka hijau (RTH) dan menanam pohon di kawasan perkotaan. Vegetasi hijau, menurutnya, mampu menurunkan suhu lingkungan dan meningkatkan kenyamanan udara.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan antara pukul 10.00–15.00 WIB, ketika radiasi matahari mencapai puncaknya.

“Jika terpaksa keluar, lindungi tubuh dari paparan sinar matahari langsung,” ujarnya.

Dengan kesadaran terhadap penyebab dan dampak cuaca panas ekstrem, masyarakat diharapkan dapat beradaptasi sekaligus ikut berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan melalui langkah sederhana seperti menanam pohon dan mengurangi konsumsi energi berlebih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *