DINEWS.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat peningkatan signifikan jumlah kasus infeksi menular seksual (IMS) pada kelompok usia 15–24 tahun dalam tiga tahun terakhir. Data tahun 2024 menunjukkan lebih dari 4.500 kasus IMS terjadi pada remaja usia 15–19 tahun, di mana sekitar 48 persen atau 2.191 kasus merupakan penyakit sifilis.
Menanggapi lonjakan tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher menyatakan keprihatinannya. Ia menilai tingginya kasus sifilis di kalangan generasi Z mencerminkan lemahnya perlindungan negara terhadap generasi muda.
“Lonjakan kasus sifilis bukan hanya menjadi isu medis, tapi juga sinyal lemahnya perlindungan negara terhadap generasi bangsa,” ujar Netty dikutip dari beritasatu.com
Netty menekankan bahwa penanggulangan IMS tidak cukup hanya melalui imbauan moral, melainkan perlu pendekatan menyeluruh, sistematis, dan berbasis budaya bangsa. Ia mendesak pemerintah memperkuat edukasi kesehatan reproduksi di sekolah maupun masyarakat.
Lebih lanjut, ia mendorong agar layanan deteksi sifilis disediakan secara gratis di puskesmas untuk memudahkan Gen Z melakukan pemeriksaan tanpa rasa takut.
Netty juga mengusulkan sinergi lintas kementerian dan tokoh masyarakat dalam membangun gerakan sosial yang menekankan pendekatan preventif dan kultural guna mencegah penyebaran penyakit menular seksual.
“Pemerintah harus hadir tidak hanya saat penyakit meledak, tetapi lebih penting lagi saat anak-anak kita butuh panduan hidup sehat dan bermartabat,” pungkasnya. ***







