DINEWS.ID – Industri komponen otomotif Indonesia dinilai semakin kokoh dan kompetitif dalam rantai pasok global, ditopang oleh kinerja ekspor yang terus meningkat, kapasitas produksi yang stabil, serta dukungan kebijakan pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) mencatat, sepanjang 2025 industri komponen otomotif nasional telah mengekspor produk ke lebih dari 100 negara dengan nilai lebih dari 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp124,4 triliun. Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN menjadi pasar utama ekspor.
Sekretaris Jenderal GIAMM, Rachmat Basuki, mengatakan industri komponen Indonesia saat ini telah memasuki fase ekspansi dan semakin terintegrasi dalam rantai pasok global.
“Industri komponen otomotif fase lagi bisa ekspor ke mana-mana, jadi sebagai global supply chain,” ujar Rachmat.
Menurut GIAMM, kekuatan industri juga ditopang oleh pasar domestik yang solid. Stimulus pemerintah terhadap industri kendaraan bermotor dinilai menjaga permintaan dalam negeri, yang menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan produksi komponen.
“Sehingga industri roda empat kan naik. Dengan naiknya industri roda empat ini, otomatis supply komponennya akan tetap jalan,” katanya.
Data GIAMM menunjukkan hingga kuartal I 2026, industri otomotif roda empat tumbuh 14 persen secara tahunan (year on year). Pertumbuhan ini turut menjaga utilisasi industri komponen, yang juga didukung stabilnya pasar kendaraan roda dua.
Di sisi kebijakan, pemerintah terus mendorong transformasi industri melalui program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang mencakup seluruh teknologi, mulai dari internal combustion engine (ICE) hingga battery electric vehicle (BEV).
Program ini juga diarahkan untuk memperkuat struktur industri nasional melalui peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) secara bertahap hingga 80 persen, serta memperluas integrasi industri komponen Indonesia dalam rantai pasok global.
“Pemerintah selalu nge-trigger kita dengan peraturan-peraturan supaya kita bisa masuk ke arah global supply chain,” ujar Rachmat.
Selain itu, dukungan Kemenperin melalui implementasi Industri 4.0 dan berbagai program pelatihan dinilai turut meningkatkan produktivitas manufaktur nasional, sehingga industri lebih adaptif terhadap standar produksi global.
GIAMM juga menilai ketahanan industri komponen terbukti kuat saat pandemi COVID-19, ketika sektor manufaktur tetap beroperasi dengan penerapan protokol kesehatan ketat demi menjaga kontinuitas pasokan global.
Dengan kombinasi ekspor yang kuat, pasar domestik yang stabil, serta percepatan transisi menuju kendaraan rendah emisi, industri komponen otomotif Indonesia dinilai berada pada jalur positif untuk memperkuat posisi sebagai salah satu basis manufaktur otomotif penting di kawasan. (Red)













