Sampah kini bukan sekadar barang buangan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan dapat diolah menjadi material bangunan baru. Inovasi tersebut hadir melalui Waste Station di Balai Kota Bogor yang menerima berbagai jenis sampah bernilai ekonomis sekaligus menggunakan material daur ulang untuk konstruksi bangunannya.
Fasilitas yang diresmikan pada akhir September 2026 ini menjadi salah satu upaya mendorong masyarakat memilah sampah dari sumbernya. Warga yang menyetorkan sampah terpilah dapat memperoleh poin yang tersimpan dalam dompet digital melalui aplikasi Rekosistem.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Sabtu (10/10/2026), aktivitas penyetoran sampah mulai terlihat. Tumpukan kardus dan sejumlah karung berisi material yang telah dipilah memenuhi bagian dalam area penampungan.
Anggota Rekosistem yang bertugas di lokasi, Raffi, menjelaskan bahwa Waste Station menerima sembilan jenis sampah bernilai ekonomis. Jenis material tersebut meliputi minyak bekas, botol plastik, plastik lunak, plastik keras, elektronik bekas, logam, beling, kertas, dan kardus.
Melalui fasilitas ini, masyarakat memiliki alternatif untuk menyalurkan sampah yang masih dapat dimanfaatkan, alih-alih langsung membuangnya sebagai sampah campuran.
Sembilan Jenis Sampah Bisa Ditukar Poin
Waste Station Balai Kota Bogor menerapkan sistem penghargaan berupa poin bagi masyarakat yang menyetorkan sampah sesuai jenis yang diterima.
Poin tersebut masuk ke dompet digital melalui aplikasi Rekosistem. Sistem ini memberikan nilai ekonomi terhadap material yang sebelumnya kerap dianggap tidak berguna.
Raffi menjelaskan bahwa setiap poin memiliki nilai setara satu rupiah dan tidak dikenakan potongan dalam sistem penukaran yang dijelaskannya.
“Untuk nilai tukarnya, kami tidak ada potongan. Satu poin itu ibaratnya sama dengan satu rupiah. Untuk minimal penukaran atau pencairan saldonya adalah 20 ribu poin,” jelas Raffi.
Dengan ketentuan tersebut, pengguna perlu mengumpulkan minimal 20.000 poin untuk melakukan penukaran atau pencairan saldo.
Kehadiran sistem penghargaan ini diharapkan mendorong kebiasaan memilah sampah sebelum dibuang. Selain membantu mengurangi sampah yang tercampur, material yang terkumpul berpotensi masuk kembali ke rantai pemanfaatan sesuai jenis dan proses pengolahannya.
Meski demikian, nilai setiap material tidak dapat disamakan begitu saja. Masyarakat sebaiknya memeriksa ketentuan penerimaan dan nilai poin yang berlaku melalui petugas atau aplikasi Rekosistem.
Buka Selasa hingga Minggu
Masyarakat yang ingin menyetorkan sampah dapat mendatangi Waste Station di lingkungan Balai Kota Bogor.
Berdasarkan informasi operasional yang disampaikan petugas, fasilitas ini buka enam hari dalam sepekan, yakni Selasa hingga Minggu, mulai pukul 08.00 sampai 16.00 WIB.
Sementara itu, setiap Senin Waste Station tidak beroperasi.
Lokasi di kawasan Balai Kota dipilih untuk mempermudah akses masyarakat yang beraktivitas di pusat Kota Bogor. Keberadaan fasilitas di ruang publik juga diharapkan membuat edukasi pemilahan sampah lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengungkapkan bahwa gagasan menghadirkan fasilitas tersebut bermula dari pertemuannya dengan CEO Rekosistem, Ernest Christian Layman, pada tahun sebelumnya.
Menurut Dedie, kawasan Balai Kota memiliki mobilitas masyarakat yang tinggi sehingga dinilai strategis sebagai tempat memperkenalkan pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga.
“Tujuannya agar masyarakat lebih gampang. Banyak yang beraktivitas di sekitar Balai Kota, jadi ketika mereka datang ke sini, misalnya selesai berlari dan minum menggunakan botol plastik, sampahnya bisa langsung dibawa ke Waste Station,” ungkap Dedie.
Melalui pendekatan tersebut, warga diharapkan lebih mudah membiasakan diri membawa dan menyetorkan sampah yang dapat didaur ulang setelah beraktivitas.
Bangunan Waste Station Terbuat dari Material Daur Ulang
Selain sistem penyetoran sampah yang memberikan imbalan poin, Waste Station Balai Kota Bogor memiliki keunikan pada material konstruksi bangunannya.
CEO Parongpong RAW Lab, Rendy Aditya Wachid, menjelaskan bahwa bangunan tersebut menggunakan oriplast, material yang dibuat dari sampah plastik yang diolah kembali menjadi bahan konstruksi.
Menurut Rendy, proses perakitan bangunan Waste Station berlangsung sekitar enam jam. Material oriplast yang digunakan dikembangkan sebagai alternatif material konvensional dengan fungsi menyerupai kayu.
Ia menyebut material tersebut memiliki kekuatan hingga 15 ton per meter persegi. Pengolahan oriplast juga dilakukan di Indonesia tanpa melalui proses pembakaran dalam tahapan pengolahannya, sebagaimana dijelaskan dalam keterangannya.
“Waste Station ini menjadi contoh bahwa sampah yang tadinya dianggap tidak berguna ternyata bisa diolah menjadi material baru dengan kekuatan 15 ton per meter persegi. Fungsinya sama seperti kayu, namun tidak ada satu batang atau ranting pohon pun yang ditebang untuk membuat bangunan ini,” papar Rendy.
Penggunaan material daur ulang memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan pengumpulan dan pemilahan, tetapi juga dapat menghasilkan bahan yang memiliki fungsi baru.
Inovasi ini sekaligus membuka ruang edukasi bagi masyarakat mengenai potensi pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan baku produk lain.
Rendy berharap keberadaan fasilitas tersebut dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap barang sisa yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai.
“Melalui ini kita mengedukasi bahwa tidak ada yang namanya sampah, yang ada hanyalah material yang belum direvitalisasi,” pungkasnya.
Kolaborasi untuk Pengelolaan Sampah Kota Bogor
Pembangunan Waste Station di Balai Kota Bogor merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Bogor, Rekosistem, Yayasan Materia, Ford Foundation, Parongpong RAWHAUS, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Kolaborasi tersebut menggabungkan pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat dengan inovasi pemanfaatan material daur ulang.
Dedie menyampaikan bahwa langkah ini sejalan dengan upaya Pemkot Bogor membangun sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Pemerintah kota juga tengah memproses rencana pembangunan fasilitas Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik atau Waste to Energy Plant (PSEL) dalam dua tahun ke depan, sebagaimana disampaikan dalam keterangannya.
Kehadiran Waste Station dan rencana pengembangan fasilitas pengolahan sampah tersebut menjadi bagian dari upaya yang diarahkan untuk memperbaiki pengelolaan sampah di Kota Bogor.
Namun, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pembangunan fasilitas. Partisipasi masyarakat dalam memilah sampah, mengikuti ketentuan penyetoran, dan mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan juga menjadi bagian penting.
Melalui Waste Station Balai Kota Bogor, warga kini memiliki pilihan untuk menyetorkan sembilan jenis material yang diterima, memperoleh poin dari sampah yang dikumpulkan, sekaligus mengenal pemanfaatan sampah sebagai bahan konstruksi.
Inovasi tersebut memperlihatkan bahwa perubahan dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: memilah material sejak dari sumbernya dan menyalurkannya melalui fasilitas yang sesuai.


