DINEWS.ID – Pernah bertanya-tanya mengapa huruf pada keyboard komputer dan ponsel tidak disusun sesuai urutan alfabet A sampai Z? Alih-alih dimulai dari A, B, dan C, deretan huruf pada keyboard yang umum digunakan justru diawali dengan Q, W, E, R, T, dan Y.
Susunan tersebut dikenal sebagai QWERTY, diambil dari enam huruf pertama pada baris teratas keyboard. Meski terlihat tidak berurutan, susunan ini memiliki sejarah panjang yang bermula dari perkembangan mesin tik pada abad ke-19.
Menariknya, alasan di balik lahirnya QWERTY ternyata tidak sesederhana anggapan bahwa huruf-huruf sengaja diacak agar orang mengetik lebih lambat. Sejumlah teori berkembang mengenai proses pembentukannya, termasuk persoalan mekanis mesin tik dan kebutuhan operator telegraf.
Lantas, bagaimana sejarah keyboard QWERTY hingga menjadi susunan huruf yang masih digunakan pada komputer, laptop, dan ponsel saat ini?
Berawal dari Penemuan Mesin Tik
Sejarah QWERTY berkaitan erat dengan Christopher Latham Sholes, seorang editor surat kabar sekaligus penemu asal Amerika Serikat. Pada 1860-an, Sholes bersama sejumlah rekannya mengembangkan mesin yang dapat digunakan untuk mengetik tulisan secara mekanis.
Menurut Smithsonian Institution, Sholes dan Carlos Glidden mulai bekerja mengembangkan mesin tik setelah Glidden mengusulkan agar mesin yang semula dirancang untuk pekerjaan penomoran juga dapat mencetak huruf.
Pada tahap awal pengembangannya, susunan tombol mesin tik belum seperti keyboard modern. Salah satu prototipe bahkan menggunakan susunan huruf yang relatif berurutan.
Namun, pengembangan mesin tersebut tidak berhenti pada satu bentuk. Sholes dan rekan-rekannya melakukan berbagai percobaan untuk menghasilkan mesin tik yang dapat bekerja dengan lebih baik.
Perubahan pada susunan tombol kemudian menjadi bagian dari proses pengembangan tersebut. Setelah melalui sejumlah percobaan, susunan QWERTY akhirnya digunakan pada mesin tik yang dipasarkan secara komersial oleh Remington pada 1874.
Mesin tik Sholes dan Glidden menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah teknologi pengetikan. Keberhasilan komersialnya membantu memperluas penggunaan mesin tik di kantor dan berbagai bidang pekerjaan.
Mengapa Huruf Keyboard Tidak Disusun Alfabetis?
Ada beberapa penjelasan yang kerap dikaitkan dengan lahirnya QWERTY. Namun, penting untuk memahami bahwa alasan pasti pemilihan setiap posisi huruf masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti sejarah teknologi.
1. Berkaitan dengan Mekanisme Mesin Tik
Salah satu teori yang paling dikenal menyebutkan bahwa susunan QWERTY dikembangkan untuk mengurangi masalah mekanis pada mesin tik generasi awal.
Mesin tik mekanis menggunakan batang-batang logam dengan karakter huruf di ujungnya. Ketika tombol ditekan, batang yang sesuai bergerak untuk memukul pita tinta dan meninggalkan karakter pada kertas.
Dalam kondisi tertentu, dua batang huruf yang bergerak berdekatan secara berurutan dengan cepat dapat saling berbenturan atau tersangkut. Hal tersebut dapat mengganggu proses pengetikan.
Karena itu, muncul penjelasan bahwa penempatan sejumlah huruf pada keyboard diubah untuk membantu mengurangi kemungkinan benturan mekanis.
Meski teori ini banyak dikenal, Smithsonian menegaskan bahwa sejarah pembentukan QWERTY tidak sesederhana cerita bahwa seluruh huruf yang sering digunakan sengaja dijauhkan satu sama lain. Susunan akhirnya tidak sepenuhnya mengikuti aturan tersebut.
Dengan kata lain, masalah mekanis merupakan salah satu penjelasan penting, tetapi tidak cukup untuk memastikan seluruh alasan di balik desain QWERTY.
2. Diduga Dipengaruhi Kebutuhan Operator Telegraf
Teori lain menghubungkan perkembangan QWERTY dengan operator telegraf pada abad ke-19.
Pada masa itu, operator telegraf harus menerima pesan dalam bentuk kode Morse dan menerjemahkannya menjadi tulisan. Proses tersebut menuntut ketepatan dalam mengenali rangkaian kode serta mengubahnya menjadi huruf.
Sejumlah peneliti berpendapat bahwa susunan alfabetis pada rancangan awal mesin tik tidak selalu sesuai dengan kebutuhan operator telegraf. Penempatan huruf tertentu yang sering muncul dalam proses penerjemahan kode Morse diduga turut memengaruhi perubahan susunan keyboard.
Teori ini menjelaskan bahwa QWERTY mungkin tidak hanya berkaitan dengan mekanisme mesin tik, tetapi juga dengan masukan dari orang-orang yang akan menggunakan mesin tersebut untuk bekerja.
Namun, pengaruh operator telegraf terhadap susunan akhir QWERTY masih menjadi bagian dari perdebatan sejarah. Karena itu, tidak tepat jika menyebut teori ini sebagai satu-satunya alasan yang sudah terbukti.
3. Terbentuk Melalui Perubahan Bertahap
Hal lain yang sering terlewat adalah bahwa QWERTY tidak muncul begitu saja dalam satu kali perancangan.
Sholes dan rekan-rekannya mengembangkan sejumlah prototipe sebelum susunan keyboard yang dikenal saat ini digunakan secara luas. Perubahan desain dilakukan seiring pengembangan mesin dan kebutuhan penggunanya.
Karena proses tersebut berlangsung bertahap, susunan QWERTY lebih tepat dipahami sebagai hasil perkembangan teknologi dan praktik penggunaan pada masa itu, bukan sekadar susunan huruf yang sengaja dibuat tanpa pola.
Bagaimana QWERTY Menjadi Standar?
Setelah Remington memasarkan mesin tik Sholes dan Glidden pada 1874, penggunaan mesin tik semakin berkembang. Perangkat ini membantu pekerjaan yang sebelumnya mengandalkan tulisan tangan, khususnya dalam kegiatan administrasi, korespondensi, dan pencatatan.
Pada 1878, model Remington berikutnya mendukung pengetikan huruf besar dan kecil. Pengembangan tersebut ikut memperluas kegunaan mesin tik dalam pekerjaan sehari-hari.
Seiring bertambahnya jumlah mesin tik yang digunakan, susunan keyboard QWERTY semakin dikenal. Produsen dan pengguna kemudian terbiasa dengan tata letak tersebut.
Perkembangan ini menghasilkan efek berantai. Ketika semakin banyak orang mempelajari QWERTY, kebutuhan untuk menggunakan susunan yang sama di tempat kerja dan pada perangkat baru ikut meningkat.
Pada akhirnya, QWERTY menjadi tata letak yang sudah dikenal luas. Pengguna yang terbiasa mengetik pada mesin tik dapat menerapkan keterampilan mereka ketika teknologi berkembang ke perangkat elektronik.
Saat komputer pribadi mulai digunakan secara luas, keyboard fisik tetap mempertahankan susunan yang familier bagi banyak orang. Ketika ponsel pintar dan layar sentuh berkembang, QWERTY juga diadaptasi menjadi keyboard virtual.
Artinya, keberlanjutan QWERTY bukan hanya berkaitan dengan desain awalnya, melainkan juga dengan kebiasaan pengguna, sistem pendidikan, kebutuhan pekerjaan, dan kompatibilitas perangkat.
Apakah Ada Keyboard yang Lebih Efisien daripada QWERTY?
QWERTY bukan satu-satunya tata letak keyboard yang pernah dikembangkan. Ada alternatif seperti Dvorak yang dirancang dengan pendekatan berbeda terhadap penempatan huruf.
Selain itu, terdapat KALQ, tata letak yang dikembangkan untuk mengetik menggunakan ibu jari pada perangkat layar sentuh.
Keberadaan alternatif tersebut menunjukkan bahwa susunan tombol dapat dirancang dengan berbagai pertimbangan, seperti kenyamanan, ergonomi, jenis perangkat, dan pola penggunaan bahasa.
Namun, tata letak alternatif tidak otomatis menjadi standar baru. Pengguna yang telah terbiasa dengan QWERTY mungkin perlu beradaptasi dan berlatih kembali jika beralih ke susunan berbeda.
Karena QWERTY sudah digunakan secara luas, perubahan ke tata letak baru juga memerlukan dukungan perangkat, perangkat lunak, dan kebiasaan pengguna.
Bukan Sekadar Susunan Huruf
Keyboard QWERTY yang digunakan saat ini merupakan bagian dari sejarah panjang perkembangan teknologi pengetikan. Susunannya berakar pada eksperimen mesin tik abad ke-19 dan bertahan seiring perubahan teknologi dari mesin mekanis hingga perangkat digital.
Meski alasan pasti di balik penempatan setiap huruf masih diperdebatkan, sejarah QWERTY memperlihatkan bahwa desain teknologi tidak selalu dipilih semata-mata berdasarkan urutan alfabet atau efisiensi teoretis. Faktor teknis, kebutuhan pengguna, dan kebiasaan yang terbentuk juga berperan dalam menentukan desain yang bertahan.
Jadi, ketika mengetik menggunakan keyboard komputer atau ponsel, susunan huruf yang dimulai dengan QWERTY sebenarnya menghubungkan pengguna modern dengan sejarah mesin tik yang telah berkembang lebih dari satu abad lalu.









