DINEWS.ID – Penutupan seluruh jalur pendakian Gunung Rinjani oleh pemerintah pasca serangkaian insiden pendaki asing jatuh, termasuk tewasnya pendaki asal Brasil, memicu protes dari para pelaku wisata lokal.
Sejumlah pelaku wisata seperti tracking organizer (TO), pemandu, dan porter yang terdampak langsung akibat kebijakan ini, kini mengambil inisiatif memperbaiki jalur pendakian secara mandiri. Melalui grup WhatsApp Forum TO Rinjani, mereka menggalang dana sukarela untuk memperkuat jalur Plawangan menuju Danau Segara Anak, yang disebut sebagai titik paling berisiko.
“Kami sudah pasang pipa besi di titik-titik berbahaya, khususnya jalur dari Plawangan ke Danau. Perbaikan ini dilakukan murni secara gotong royong,” ujar Rozak, salah satu pengelola TO di wilayah Sembalun, Selasa (22/7/2025).
Upaya gotong royong ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas agar jalur pendakian dapat segera dibuka kembali secara bertahap. Pelaku wisata berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi di lapangan dan tidak menerapkan penutupan total.
Sejak seluruh jalur ditutup, perekonomian masyarakat sekitar Gunung Rinjani ikut terpukul. Menurut Rozak, lebih dari 200 TO berhenti beroperasi, berdampak langsung terhadap ribuan pemandu dan porter yang kehilangan mata pencaharian.
“Bayangkan, guide, porter, pemilik penginapan, tukang ojek, hingga pedagang di kaki Rinjani semuanya terdampak. Penutupan ini membuat kami seperti kehilangan napas,” kata Rozak.
Meski terdampak, pelaku wisata menyatakan tidak menolak sepenuhnya kebijakan pemerintah. Mereka mendukung upaya peningkatan aspek keselamatan, namun menolak penutupan total yang dianggap tidak adil karena menyamaratakan semua jalur pendakian.
“Kami mendukung penataan dan keselamatan, tetapi kami tolak apabila semua jalur ditutup. Masih banyak jalur yang aman dan bisa dilalui dengan pengawasan ketat,” tegasnya.
Rozak menambahkan, jalur seperti Timbanuh, Aik Berik, dan sebagian Senaru dinilai masih layak digunakan dengan standar keamanan memadai. Ia mendesak agar pemerintah mengevaluasi penutupan secara lebih proporsional. ***







