DINEWS.ID – Perempuan tidak harus mengikuti satu pola kehidupan untuk bisa disebut sukses. Pendidikan, keberanian menentukan pilihan, serta dukungan lingkungan menjadi bekal penting agar perempuan mampu membangun jalan hidupnya sendiri. Pesan tersebut mengemuka dalam talkshow Indonesia Youth Summit 2026 yang menghadirkan penulis dan konten kreator Xaviera Putri bersama dokter spesialis gizi klinik, dr. Nadhira Afifa.
Talkshow bertajuk Redefining What It Means to Be a Woman Today itu berlangsung di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026. Sesi tersebut dipandu Adinda Cresheilla, Puteri Indonesia Pariwisata 2022.
Diskusi ini mengangkat kembali makna menjadi perempuan di tengah berbagai tuntutan sosial. Mulai dari kesempatan memperoleh pendidikan, keberanian menyuarakan pendapat, hingga menjalani beragam peran dalam kehidupan, perempuan dihadapkan pada pilihan yang tidak selalu sederhana.
Keduanya berbagi perspektif berdasarkan pengalaman dan bidang masing-masing. Meski memiliki latar belakang berbeda, Xaviera dan dr. Nadhira sama-sama menempatkan pendidikan sebagai fondasi penting untuk membuka peluang dan menentukan arah hidup.
Xaviera Putri: Perempuan Bisa Membangun Jalannya Sendiri
Dalam sesi bertema Breaking the Status Quo: Mengukir Jalan Sendiri, Xaviera Putri mengajak peserta memahami bahwa kesempatan untuk berkembang belum selalu setara bagi semua orang.
Menurutnya, bias gender masih menjadi tantangan global yang hadir di berbagai bidang, mulai dari politik, pendidikan, ekonomi, hingga integritas fisik.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan perempuan tidak cukup hanya dibicarakan melalui pencapaian individu. Kesempatan untuk memperoleh akses, dukungan, dan ruang untuk berkembang juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih setara.
Xaviera menekankan bahwa keberanian untuk bersuara tidak muncul begitu saja. Keberanian tersebut dibangun melalui proses, sementara pendidikan dan pengalaman dapat memperkuat keyakinan diri seseorang.
Ia pun menyampaikan pesan kepada perempuan agar tidak merasa harus mengikuti satu jalur tertentu untuk memberikan pengaruh.
“Untuk perempuan di luar sana, kalian bisa membangun jalan kalian sendiri, bisa membuat pengaruh dengan jalan yang berbeda-beda,” ujarnya.
Pesan itu menegaskan bahwa setiap perempuan memiliki kesempatan untuk menentukan pilihan dan mengembangkan potensinya dengan cara masing-masing.
Namun, kebebasan memilih juga perlu didukung oleh akses dan dukungan nyata. Perempuan tidak cukup hanya didorong agar berani bermimpi apabila lingkungan di sekitarnya belum memberikan ruang yang memadai untuk bertumbuh.
Xaviera juga mengajak sesama perempuan untuk membangun dukungan satu sama lain di tengah berbagai tantangan.
“Alangkah baiknya kita sesama perempuan saling membantu di dunia yang keras ini,” kata Xaviera.
Bagi Xaviera, dukungan antarsesama perempuan menjadi hal penting agar setiap individu dapat mengembangkan kemampuan dan menjalani pilihannya tanpa harus merasa sendirian.
Ia juga membagikan pengalamannya sebagai seseorang yang berada dalam beberapa kelompok minoritas, yakni perempuan, pelajar internasional, serta Muslim yang mengenakan hijab.
Alih-alih menjadikan keadaan tersebut sebagai penghalang, Xaviera memilih untuk menikmati situasinya dan tetap berfokus pada pengembangan kompetensi diri.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perspektifnya dalam melihat identitas dan kesempatan. Latar belakang seseorang tidak semestinya membatasi upaya untuk terus belajar, bertumbuh, dan menentukan jalan hidupnya sendiri.
dr. Nadhira Afifa Soroti Tantangan Perempuan dengan Banyak Peran
Dari sudut pandang berbeda, dr. Nadhira Afifa menyoroti bagaimana pendidikan berperan dalam membuka berbagai kesempatan dalam kehidupannya.
Sebagai dokter spesialis gizi klinik sekaligus Co-Founder Fyn Longevity Center, ia menyampaikan bahwa peluang yang diperolehnya saat ini berawal dari pendidikan.
Namun, perjalanan perempuan tidak berhenti pada kesempatan untuk belajar dan membangun karier. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan juga sering menjalani beberapa peran sekaligus.
Seorang perempuan bisa menjadi anak, istri, dan ibu, sekaligus mahasiswi atau karyawati. Setiap peran membawa tanggung jawab dan tuntutan yang berbeda, sementara waktu dan energi yang tersedia tetap terbatas.
Menurut dr. Nadhira, perempuan tidak mungkin mengerahkan usaha 100 persen untuk seluruh peran tersebut secara bersamaan.
Karena itu, ia menekankan pentingnya memahami the art of letting go, atau seni untuk melepaskan sesuatu ketika tidak semua hal dapat dijalankan secara maksimal dalam waktu yang sama.
Gagasan tersebut bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Sebaliknya, perempuan perlu memahami bahwa prioritas dapat berubah sesuai dengan fase kehidupan yang sedang dijalani.
Dr. Nadhira mencontohkan perubahan prioritas yang dialaminya setelah menjadi ibu. Pada fase tersebut, keluarga menjadi prioritas yang lebih utama dibandingkan karier.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa seorang ibu tidak perlu merasa bersalah ketika tetap ingin mengejar karier.
Anak juga belajar dengan mengamati orang tuanya. Dengan demikian, pilihan seorang ibu untuk tetap mengembangkan diri melalui pekerjaan tidak harus selalu dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan perannya di dalam keluarga.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa perjalanan perempuan tidak selalu berjalan dengan pola yang sama. Ada fase ketika keluarga menjadi perhatian utama, tetapi ada pula ruang untuk terus belajar, bekerja, dan mengembangkan potensi diri.
Yang terpenting, perempuan memiliki kesempatan untuk menentukan prioritas berdasarkan keadaan dan nilai yang dianggap penting dalam kehidupannya.
Laki-Laki Juga Punya Peran Menciptakan Ruang bagi Perempuan
Dalam diskusi tersebut, dr. Nadhira turut menyoroti pentingnya keterlibatan laki-laki untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan.
Menurutnya, upaya membuka ruang bagi perempuan tidak bisa hanya dibebankan kepada perempuan itu sendiri. Laki-laki juga perlu berusaha memahami sudut pandang perempuan, berhenti meremehkan kompetensi mereka, serta memperbanyak kolaborasi antargender.
Pendekatan tersebut diperlukan agar kesempatan berkembang tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi hadir dalam hubungan sosial dan lingkungan kerja sehari-hari.
Ketika kemampuan perempuan dihargai dan kolaborasi dibangun secara setara, ruang untuk belajar, bekerja, serta berkontribusi dapat terbuka lebih luas.
Pembahasan ini sekaligus memperlihatkan bahwa kesetaraan bukan hanya persoalan pilihan individu. Lingkungan juga memiliki peran dalam menentukan apakah seseorang mendapatkan kesempatan yang memadai untuk mengembangkan kemampuannya.
Perempuan perlu memiliki keberanian untuk menentukan arah hidup, tetapi dukungan dari orang-orang di sekitarnya juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Pendidikan dan Keberanian Menjadi Pesan Penutup
Adinda Cresheilla melihat adanya kesamaan dari kedua narasumber, yaitu keteguhan mereka dalam menempatkan pendidikan sebagai hal utama.
Menutup sesi, Adinda menyimpulkan bahwa perempuan juga perlu memiliki keberanian untuk berusaha, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, serta menghadapi berbagai tantangan lainnya.
“Please keep it in mind,” ujarnya.
Pesan yang muncul dari diskusi tersebut tidak menempatkan perempuan dalam satu definisi kesuksesan. Sebaliknya, perempuan didorong untuk memahami potensinya, membangun kompetensi, dan mengambil keputusan sesuai dengan jalan hidup yang ingin ditempuh.
Pendidikan menjadi fondasi untuk membuka peluang, sedangkan keberanian membantu perempuan melangkah dan menghadapi berbagai tantangan. Di saat yang sama, dukungan antarsesama perempuan, pemahaman terhadap perubahan prioritas, serta kolaborasi dengan laki-laki turut membentuk lingkungan yang lebih mendukung.
Melalui Indonesia Youth Summit 2026, pembahasan tentang makna menjadi perempuan hari ini kembali menegaskan bahwa setiap perempuan memiliki perjalanan yang berbeda. Tidak semua harus memilih jalan yang sama, dan tidak semua keberhasilan harus diwujudkan dengan cara serupa.








