DINEWS.ID – Manchester United kembali membuat pendukungnya kecewa. Klub yang pernah mendominasi sepak bola Inggris itu harus pulang dengan kekalahan telak 1-4 dari Como 1907 dalam pertandingan Liga Champions, Rabu, 21 Oktober 2026. Hasil ini semakin menyita perhatian karena Como merupakan klub Italia yang berada di bawah kepemilikan keluarga Hartono, pengusaha Indonesia di balik Grup Djarum.
Bermain di Stadion Giuseppe Sinigaglia, markas Como di Italia, Manchester United kesulitan mengimbangi permainan tuan rumah. Nico Paz menjadi salah satu sosok paling menentukan setelah mencetak dua gol, sedangkan Anastasios Douvikas dan Jacobo Ramon masing-masing menyumbang satu gol. United hanya mampu membalas melalui Joshua Zirkzee pada masa tambahan waktu babak kedua.
Kekalahan tersebut memperpanjang rentetan hasil buruk Manchester United yang belum meraih kemenangan dalam tujuh pertandingan terakhir di semua kompetisi. Catatan ini menimbulkan pertanyaan besar: apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Setan Merah?
Apakah masalahnya terletak pada pertahanan, taktik pelatih, kondisi pemain, atau kombinasi berbagai persoalan yang belum terselesaikan?
Como Langsung Menghukum MU Sejak Menit Ketiga
Manchester United sebenarnya sempat mengancam pada awal pertandingan. Diogo Dalot melepaskan tembakan melengkung dengan kaki kiri ketika laga belum berjalan dua menit, tetapi bola masih melebar dari sasaran.
Peluang tersebut tidak berujung gol. Justru Como yang lebih dahulu memanfaatkan kesempatan.
Pada menit ketiga, Nico Paz mendapatkan ruang di luar kotak penalti sebelum melepaskan tembakan melengkung ke sudut gawang. Kiper Senne Lammens gagal menghentikan bola, membuat tuan rumah unggul 1-0.
Gol cepat itu memberikan kepercayaan diri kepada Como. Tim asuhan Cesc Fabregas tersebut mampu mengendalikan tempo permainan, sementara Manchester United kesulitan membangun serangan secara konsisten.
United bukannya tanpa peluang. Harry Maguire sempat menyambut umpan silang Bryan Mbeumo melalui sundulan, tetapi bola melebar tipis. Matheus Cunha juga melepaskan tembakan dari sisi kiri kotak penalti, tetapi belum mampu menyamakan kedudukan.
Di sisi lain, Como terus memberikan tekanan. Lammens beberapa kali harus bekerja keras untuk menghalau tembakan Douvikas dan Martin Baturina. Manchester United akhirnya memasuki ruang ganti dengan tertinggal satu gol.
Babak Kedua Menjadi Mimpi Buruk Setan Merah
Michael Carrick mencoba mengubah keadaan dengan memasukkan Carlos Baleba dan Amad pada awal babak kedua. Namun, pergantian tersebut belum mampu menghentikan laju Como.
Pada menit ke-49, Douvikas memperbesar keunggulan tuan rumah setelah memanfaatkan umpan Nico Paz. Tembakannya yang keras membuat Lammens kembali memungut bola dari dalam gawang.
Delapan menit kemudian, Paz kembali mencatatkan namanya di papan skor. Pemain asal Argentina itu masuk ke kotak penalti dan mengarahkan bola ke sudut jauh, membawa Como unggul 3-0 pada menit ke-57.
Manchester United berusaha membalas. Youri Tielemans menguji kiper Como, Jean Butez, sementara Amad juga melepaskan tembakan yang berhasil ditepis. Namun, upaya tersebut belum cukup untuk mengubah jalannya pertandingan.
Pada menit ke-76, Como menambah penderitaan tim tamu. Jacobo Ramon menyambut umpan silang Kaiki Bruno dari sisi kiri dengan sundulan jarak dekat yang mengubah skor menjadi 4-0.
United baru mencetak gol pada menit ke-90+1. Zirkzee mengontrol umpan silang Amad sebelum melepaskan penyelesaian yang melewati kaki Butez. Gol tersebut sempat diperiksa melalui VAR sebelum akhirnya disahkan.
Gol itu hanya menjadi hiburan di tengah malam yang mengecewakan bagi Manchester United. Skor akhir 4-1 memastikan Como meraih kemenangan meyakinkan.
Tujuh Laga Tanpa Menang, Bukan Tujuh Kali Kalah
Rentetan hasil buruk Manchester United perlu dipahami secara tepat. Istilah tujuh laga tanpa kemenangan tidak berarti mereka selalu kalah dalam tujuh pertandingan tersebut.
Namun, ketika sebuah klub sebesar MU berulang kali gagal meraih hasil maksimal, persoalannya tidak bisa hanya dilihat sebagai nasib buruk dalam satu pertandingan.
Kekalahan dari Como memperlihatkan beberapa kelemahan yang patut menjadi perhatian. United kebobolan empat gol, kesulitan mengendalikan permainan, dan tidak cukup efektif memanfaatkan peluang yang tersedia.
Meski demikian, satu pertandingan tidak cukup untuk memastikan seluruh akar masalah klub. Untuk menilai krisis secara menyeluruh, catatan pertandingan sebelumnya, kondisi skuad, serta perubahan strategi juga perlu diperiksa.
Hal yang jelas, kekalahan telak ini menjadi tekanan tambahan bagi tim yang membutuhkan hasil positif untuk mengembalikan kepercayaan diri.
Apa yang Salah dengan Permainan MU?
Ada beberapa hal yang dapat dicermati dari pertandingan melawan Como. Pertama, pertahanan United terlihat kesulitan mengantisipasi pergerakan pemain lawan. Nico Paz mendapatkan ruang untuk menembak, Douvikas mampu menyelesaikan peluang, dan Ramon tidak terkawal dengan baik ketika menyambut umpan silang.
Kedua, United kesulitan mengimbangi tekanan Como. Tuan rumah tampil agresif dan mampu memanfaatkan situasi ketika pemain MU kehilangan bola atau terlambat menutup ruang.
Ketiga, perubahan yang dilakukan pada babak kedua belum memberikan dampak yang cukup besar. Masuknya Baleba dan Amad tidak menghentikan Como mencetak tiga gol tambahan setelah turun minum.
Ketiga hal tersebut merupakan gambaran dari pertandingan ini, bukan bukti bahwa satu faktor tertentu menjadi penyebab tunggal krisis Manchester United. Permainan sepak bola dipengaruhi banyak unsur, mulai dari organisasi tim hingga kemampuan pemain menjalankan strategi di lapangan.
Kembalinya De Ligt Belum Cukup Membantu
Di tengah kekalahan besar, Manchester United mendapat kabar positif dari kembalinya Matthijs de Ligt. Bek asal Belanda itu kembali bermain setelah sekitar 11 bulan absen, menyusul pemulihan dari operasi punggung.
De Ligt menjadi starter dan tampil selama 79 menit sebelum digantikan Harry Amass. Kembalinya pemain tersebut penting bagi United yang sedang menghadapi keterbatasan pilihan akibat cedera, sakit, dan skorsing.
Menurut laporan resmi Manchester United, klub tidak dapat menurunkan sejumlah pemain, termasuk Lisandro Martinez, Kobbie Mainoo, Luke Shaw, Ayden Heaven, dan Marcus Rashford karena cedera atau sakit. Leny Yoro juga absen akibat skorsing.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang patut dipertimbangkan ketika menilai performa tim. Namun, keterbatasan pemain tidak serta-merta menghapus persoalan yang terlihat sepanjang pertandingan.
United tetap membutuhkan organisasi pertahanan yang lebih baik, pengambilan keputusan yang tepat, dan kemampuan menjaga konsentrasi ketika menghadapi tekanan lawan.
Como dan Kebanggaan Sepak Bola Indonesia
Kemenangan Como atas Manchester United juga memiliki daya tarik tersendiri bagi publik Indonesia. Klub ini terkait dengan keluarga Hartono, pengusaha di balik Grup Djarum yang berinvestasi dalam pengembangan Como 1907.
Como bukan klub yang selalu berada di panggung utama sepak bola Eropa. Klub tersebut pernah bermain di Serie D, kasta keempat sepak bola Italia, sebelum kembali ke Serie A pada 2024.
Perjalanan itu membuat perkembangan Como menarik untuk diikuti. Klub ini membangun kembali kekuatan tim dan berusaha bersaing di level tertinggi sepak bola Italia.
Di bawah Cesc Fabregas, Como tampil berani menghadapi Manchester United. Mereka tidak sekadar menunggu serangan, tetapi mampu menekan, mengendalikan tempo, dan memaksimalkan peluang.
Nico Paz menjadi pemain yang paling menonjol melalui dua gol dan kontribusinya dalam gol Douvikas. Efektivitas Como memperlihatkan bahwa reputasi besar lawan tidak otomatis menjamin kemenangan.
Meski begitu, kemenangan klub yang dimiliki investor Indonesia tidak berarti Como merupakan tim nasional Indonesia. Hubungan tersebut terletak pada kepemilikan dan investasi, bukan identitas negara dalam kompetisi.
Apa Selanjutnya bagi Manchester United?
Setelah kekalahan dari Como, Manchester United dijadwalkan menghadapi Bournemouth di Old Trafford pada Minggu, 25 Oktober 2026, dalam lanjutan Premier League.
Pertandingan itu menjadi kesempatan bagi United untuk merespons hasil mengecewakan. Namun, tantangannya bukan hanya mengejar kemenangan, melainkan juga memperlihatkan perubahan nyata dalam permainan.
Carrick perlu mencari cara agar timnya lebih solid ketika bertahan, lebih terorganisasi saat menekan, dan lebih efektif saat menyerang. Kembalinya pemain yang sempat absen juga diharapkan dapat menambah pilihan bagi tim.
Bagi pendukung Manchester United, yang dibutuhkan bukan sekadar janji untuk bangkit, tetapi bukti di lapangan. Kekalahan 1-4 dari Como menjadi pengingat bahwa nama besar dan sejarah panjang tidak cukup untuk memenangkan pertandingan.
Setan Merah harus segera menemukan kembali konsistensinya. Sebab, selama persoalan mendasar belum teratasi, setiap pertandingan berisiko menjadi pengulangan dari masalah yang sama.













