Sejarah Angklung, Alat Musik Bambu Indonesia yang Diakui UNESCO Sejak 2010

Dinews foto 20261017 221621 0000 1 scaled

DINEWS.ID — Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional Indonesia yang dikenal melalui bunyi khas bambu ketika digoyangkan. Alat musik ini bukan sekadar sarana hiburan, tetapi juga bagian dari tradisi, identitas budaya, dan kehidupan masyarakat, terutama di Jawa Barat dan Banten.

Keberadaan angklung mendapat pengakuan internasional setelah UNESCO memasukkannya ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity atau Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2010.

Dalam laman resminya, UNESCO mencatat angklung Indonesia sebagai warisan budaya yang berkaitan erat dengan tradisi masyarakat. Pengakuan tersebut juga menyoroti nilai kerja sama, saling menghormati, dan keharmonisan sosial yang tumbuh melalui permainan angklung.

Lantas, bagaimana sejarah angklung, bagaimana alat musik ini dimainkan, dan mengapa keberadaannya penting untuk terus dilestarikan?

1. Mengenal Angklung, Alat Musik dari Bambu

Angklung merupakan alat musik yang dibuat dari tabung-tabung bambu yang dipasang pada sebuah rangka dan diikat menggunakan tali rotan. Berdasarkan penjelasan UNESCO, angklung umumnya terdiri atas dua hingga empat tabung bambu yang dipotong dan dibentuk secara khusus agar menghasilkan nada tertentu.

Bunyi angklung muncul ketika rangkanya digoyangkan atau diketukkan. Setiap angklung menghasilkan satu nada atau akor tertentu sehingga permainan melodi membutuhkan beberapa pemain yang bekerja bersama.

Karakteristik tersebut membuat angklung berbeda dari alat musik yang dapat memainkan seluruh rangkaian melodi seorang diri. Pemain perlu memperhatikan irama, giliran, dan keselarasan dengan pemain lainnya agar menghasilkan musik yang utuh.

Bahan bambu juga menjadi unsur penting dalam pembuatan angklung. Pemilihan dan pengolahan bambu membutuhkan keterampilan perajin agar tabung dapat menghasilkan bunyi sesuai nada yang diinginkan.

2. Sejarah Angklung Berkaitan dengan Tradisi Masyarakat

Dalam catatan UNESCO, angklung memiliki hubungan erat dengan adat istiadat, seni, dan identitas budaya masyarakat Indonesia, khususnya komunitas di Jawa Barat dan Banten.

Alat musik ini digunakan dalam sejumlah kegiatan tradisional, termasuk upacara yang berkaitan dengan penanaman padi, panen, dan khitanan. Penggunaannya menunjukkan bahwa angklung tidak hanya hadir sebagai instrumen musik, tetapi juga memiliki tempat dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Meski demikian, sejarah awal kemunculan angklung tidak dapat disederhanakan menjadi satu tanggal atau satu tokoh pencipta. Catatan UNESCO yang menjadi rujukan pengakuan internasionalnya lebih menekankan bentuk alat musik, penggunaan dalam tradisi, perkembangan tangga nada, serta upaya pewarisan budaya.

Karena itu, ketika membahas sejarah angklung, penting untuk melihatnya sebagai tradisi yang tumbuh dan diwariskan antargenerasi, bukan hanya sebagai benda musik yang berdiri sendiri.

3. Perkembangan Angklung dari Tangga Nada Tradisional

Salah satu perkembangan penting dalam sejarah angklung terjadi pada 1938. UNESCO mencatat bahwa musisi Daeng Soetigna memperkenalkan angklung dengan tangga nada diatonis. Jenis ini kemudian dikenal sebagai angklung padaeng.

Sebelumnya, angklung tradisional menggunakan tangga nada pentatonis, yaitu sistem nada yang terdiri atas lima nada pokok dalam satu oktaf. Sementara itu, tangga nada diatonis menggunakan tujuh nada pokok.

Perkembangan tersebut memperluas kemungkinan penggunaan angklung dalam memainkan berbagai jenis lagu. Angklung diatonis dapat dimainkan bersama instrumen musik lain dan digunakan untuk membawakan repertoar yang lebih beragam.

Meski mengalami perkembangan, angklung tetap mempertahankan karakter utama berupa bunyi bambu dan permainan kolektif. Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat beradaptasi tanpa kehilangan ciri khasnya.

4. Mengapa Angklung Diakui UNESCO?

UNESCO memasukkan angklung Indonesia ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2010. Keputusan tersebut tercatat dalam sidang Komite Antarpemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Salah satu pertimbangannya adalah kedudukan angklung dan musiknya sebagai bagian penting dari identitas budaya masyarakat di Jawa Barat dan Banten.

UNESCO juga menyoroti nilai yang terkandung dalam permainan angklung, seperti kerja sama, saling menghormati, disiplin, dan keharmonisan sosial. Nilai-nilai tersebut muncul karena pemain harus menyelaraskan nada masing-masing untuk membentuk melodi bersama.

Pengakuan UNESCO bukan berarti angklung baru menjadi warisan budaya Indonesia pada 2010. Pencatatan tersebut merupakan pengakuan internasional terhadap tradisi yang telah hidup dan diwariskan dalam masyarakat, sekaligus mendorong upaya pelindungannya.

Informasi mengenai penetapan ini dapat diperiksa langsung melalui laman resmi UNESCO.

5. Angklung Mengajarkan Kerja Sama dan Saling Menghormati

Permainan angklung membutuhkan koordinasi. Setiap pemain memegang alat musik dengan nada tertentu dan harus membunyikannya pada waktu yang tepat.

Jika seorang pemain terlambat atau membunyikan nada yang tidak sesuai, rangkaian musik dapat terdengar kurang selaras. Sebaliknya, ketika semua pemain mengikuti irama dan menjalankan perannya, berbagai nada dapat membentuk melodi yang harmonis.

Karena itu, UNESCO menilai permainan angklung turut mendorong kerja sama, rasa saling menghormati, disiplin, tanggung jawab, konsentrasi, serta pengembangan daya ingat dan imajinasi.

Nilai tersebut membuat angklung dapat dimanfaatkan dalam pendidikan seni dan pengenalan budaya. Anak-anak maupun orang dewasa tidak hanya belajar menghasilkan bunyi, tetapi juga memahami pentingnya mendengarkan dan bekerja bersama orang lain.

6. Pewarisan Angklung dari Generasi ke Generasi

Menurut UNESCO, pengetahuan mengenai angklung diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pendidikan angklung juga semakin berkembang melalui lembaga pendidikan.

Pewarisan ini mencakup lebih dari sekadar cara menggoyangkan alat musik. Keterampilan membuat angklung, memilih bambu, membentuk tabung, menyetel nada, hingga memainkan musik bersama merupakan bagian dari pengetahuan budaya yang perlu dijaga.

UNESCO juga menyoroti pentingnya mendukung keterampilan para perajin dan menjaga keberlanjutan tanaman bambu yang menjadi bahan baku angklung. Dengan demikian, pelestarian tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan, tetapi juga dengan keberlangsungan bahan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuat instrumen tersebut.

Keterlibatan komunitas, perajin, pelatih, seniman, sekolah, dan pemerintah dapat membantu memastikan tradisi angklung tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

7. Melestarikan Angklung, Menjaga Warisan Budaya Indonesia

Pengakuan UNESCO terhadap angklung Indonesia pada 2010 menjadi pengingat bahwa warisan budaya membutuhkan upaya pelestarian yang berkelanjutan.

Angklung dapat terus diperkenalkan melalui pembelajaran di sekolah, pertunjukan seni, kegiatan komunitas, serta pengenalan kepada masyarakat luas. Di saat yang sama, keterampilan perajin dan pengetahuan tradisional mengenai pembuatan angklung juga perlu mendapat perhatian.

Sejarah angklung memperlihatkan bahwa alat musik tradisional dapat berkembang mengikuti kebutuhan zaman tanpa harus melepaskan akar budayanya. Dari penggunaannya dalam berbagai tradisi masyarakat hingga perkembangannya menjadi instrumen dengan tangga nada diatonis, angklung menunjukkan kemampuan budaya untuk terus hidup dan beradaptasi.

Pada akhirnya, angklung bukan hanya tentang bunyi bambu yang merdu. Di dalamnya terdapat pengetahuan, identitas, dan nilai kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan terus mempelajari, memainkan, dan mendukung pelestariannya, masyarakat dapat ikut menjaga agar angklung tetap menjadi bagian hidup dari kekayaan budaya Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *