DINEWS.ID – Lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang diperkenalkan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein, menuai kontroversi di media sosial. Sejumlah pihak menilai lirik lagu tersebut mengandung stereotip terhadap perempuan dan tidak mencerminkan nilai penghormatan yang dijunjung dalam budaya Sunda.
Lagu tersebut pertama kali diperdengarkan dalam rangkaian acara Hajat Bumi di Lingga Mukti sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur. Namun, setelah potongan liriknya beredar luas di berbagai platform media sosial, muncul beragam tanggapan dari masyarakat.
Sejumlah warganet menilai beberapa bagian lirik menyinggung pengalaman biologis perempuan, seperti menstruasi dan kehamilan, serta menjadikannya sebagai materi humor. Hal itu memicu perdebatan mengenai batas antara kebebasan berekspresi dalam karya seni dengan sensitivitas terhadap isu gender.
Salah satu kritik datang dari Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia mengaku kecewa dengan isi lagu tersebut karena dinilai tidak menunjukkan penghormatan terhadap perempuan.
“Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia.
Menurut Atalia, persoalan tersebut tidak semata berkaitan dengan selera seni atau kebebasan berekspresi, melainkan menyangkut pilihan diksi yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai budaya Sunda.
Ia menilai budaya Sunda dibangun di atas filosofi silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi, yang mengedepankan sikap saling menghormati, menyayangi, dan memuliakan sesama.
“Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah, mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih? Saya percaya budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan,” tulisnya.
Atalia juga menyoroti pentingnya upaya menghapus budaya patriarki yang masih menjadi tantangan dalam mewujudkan kesetaraan gender. Menurutnya, narasi yang dinilai merendahkan perempuan seharusnya tidak muncul dari seorang pejabat publik yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat.
“Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?” tulisnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein terkait kritik yang muncul terhadap lagu tersebut. Redaksi masih berupaya meminta klarifikasi guna memperoleh penjelasan dan tanggapan atas polemik yang berkembang di ruang publik. (Red)
Berikut lirik lagu dengan judul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat”
Nuhun Gusti
(Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)
Cacak mun jadi awewe
(Andai saja jadi perempuan)
ES-Em-Pe kelas tilu
(SMP kelas tiga)
Tos Karuron tujuh kali
(Sudah keguguran tujuh kali)
Nuhun Gusti
(Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)
Teu Kudu Meuli Kutang
(Tidak usah membeli bra)
Nu busana leuwih gede batan susu
(Yang busanya lebih besar daripada payudara)
Nuhun Gusti
(Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek
(Tidak usah keluyuran mencari apotek)
Alatan telat bulan
(Karena telat bulan (datang bulan)
Nuhun Gusti
(Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)
Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata
(Tidak usah melukis alis dan bulu mata)
Sakalina ngiceup hese beunta
(Yang sekali berkedip susah melek)
Lalaki langit (Lelaki langit)
Lalanang bejad (Lelaki bejat)







