Tugu Malahasa, Saksi Bisu Kejayaan Kopra dari Ujung Utara Nusantara

Tugu Malahasa
Tugu Malahasa. Foto : Dok. adycandra.com.

DINEWS.ID – Berjalan menyusuri Jalan Raya Boulevard di Kota Tahuna, pandangan akan segera tertuju pada sebuah bangunan menjulang di tepi laut, Tugu Malahasa. Mercusuar tua yang kini berdiri anggun di kawasan Pelabuhan Tua itu bukan sekadar penanda arah bagi kapal, melainkan saksi bisu kejayaan perdagangan masyarakat Sangihe di masa lampau.

Dulunya, Pelabuhan Tua Tahuna dikenal sebagai jalur perdagangan antarnegeri yang ramai. Dari tempat inilah kapal-kapal pengangkut kopra berlayar, membawa hasil bumi Sangihe menuju berbagai wilayah Nusantara. Kopra menjadi nadi ekonomi yang menghidupi banyak keluarga di pulau perbatasan ini.

Untuk mengenang masa kejayaan tersebut, pemerintah daerah pada 2018 mempercantik tugu dengan lukisan proses pembuatan kopra dan motif batik khas Sangihe. Sentuhan artistik itu menjadikan Tugu Malahasa bukan hanya monumen sejarah, tetapi juga karya seni yang sarat makna budaya.

“Bangunan ini harus dijaga dan dilestarikan sebagai ikon daerah Sangihe,” ujar Sekretaris Bidang Kebudayaan Kabupaten Sangihe, Dharma Abast, dikutip dari beritasatu.com,  Selasa (28/10/2025). Ia menegaskan, tugu yang kini ditetapkan sebagai Menara Suar Malahasa telah masuk dalam daftar cagar budaya berdasarkan kajian tim ahli daerah.

Dengan status tersebut, Tugu Malahasa dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Segala bentuk perusakan atau perubahan terhadapnya dilarang keras.

Kini, setiap sore, kawasan di sekitar tugu menjadi tempat favorit bagi warga lokal dan wisatawan. Suara ombak yang berkejaran di tepian pantai berpadu dengan cahaya senja yang memantul di permukaan laut, menciptakan suasana damai. Banyak yang datang sekadar untuk duduk bersantai, menikmati panorama laut, atau berfoto dengan latar tugu yang menawan.

Tugu Malahasa kini bukan hanya simbol masa lalu, tetapi juga lambang kebanggaan baru bagi masyarakat Sangihe, sebuah pengingat bahwa kejayaan tak selalu harus dikenang dalam sejarah, tetapi juga bisa dihidupkan kembali lewat pelestarian dan cinta pada warisan budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *