Keduanya diketahui mendaki Gunung Pangrango sekira tahun 1701, dalam rangka melaksanakan tugas perintah dari Willem van Outhoorn, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu.
Ram en Coops, diperintahkan untuk memeriksa kondisi alam termasuk kondisi sungai-sungai yang hulunya berada di daerah pegunungan. Karena terdapat kerusakan lingkungan di muara sungai Ciliwung dan Cisadane, setelah terjadi letusan Gunung Salak disertai gempa pada tahun 1699.
“Sedikit lebih jauh ke hulu, kami melewati sungai kecil bernama Jambu Lawak (Jambu Luwuk sekarang) dan tiba sekira pukul 10 pagi di desa Serang, yang merupakan desa tertinggi dan terjauh yang kami kunjungi,” tulis Ram en Coops dalam catatannya.
Setelah menetap sementara, timnya mengukur jarak gunung Pangrango di tenggara hingga selatan-tenggara, dan Gunung Salak di barat-barat daya dari posisinya. Tim melanjutkan perjalanan sekira pukul 7 pagi tanpa menggunakan kuda beserta sebagian besar barang bawaan, karena medan yang sulit.
“Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melintasi pegunungan yang terjal dan tinggi hingga mencapai Sungai Besar Batavia (Ciliwung), di mana sungai kecil Ci Esse (Ciesek) bermuara ke sungai tersebut,” sambung catatan Ram en Coops.
Perjalanan timnya pun mulai disulitkan sekira pukul 3 sore, dengan menyusuri anak sungai Ciesek dan tiba di kaki Gunung Pangrango, di sebuah dataran yang diberi nama Pondok Alon-alon. Dikarenakan timnya sudah sangat kelelahan, maka diputuskan untuk bermalam di sana.







