Retno sapaan akrabnya mengatakan, anak-anak dengan TB berisiko tinggi terkena stunting, begitu juga dengan anak stunting beresiko terkena TB. Peningkatan penularan TB ini tidak diikuti dengan keberhasilan pengobatan yang mana angkanya baru 70 persen, sementara target keberhasilan pengobatan TB dan TB resisten obat harus mencapai 90 persen.
“Presiden menargetkan eliminasi TB di 2030. Prevalensi sekarang di 354/100 ribu penduduk di tahun 2030 diharapkan bisa turun menjadi 65/100 ribu penduduk. Artinya perlu upaya percepatan eliminasi TB melalui Aksi Geulis yang merupakan inovasi dari Dinkes,” jelasnya.
Ia menjelaskan, Aksi Geulis ini merupakan bagian dari komitmen daerah menuntaskan TB. Pihaknya sudah membuat Rencana Aksi Daerah (RAD) eliminasi TB. Mulai dari membuat tim percepatan eliminasi TB dan membuat aplikasi pemetaan atau sebaran penderita TB sampai menyebar ke geospasial yang gunanya untuk melakukan pelacakan dan pemantauan.
“Kami juga melibatkan masyarakat dengan membentuk RW Siaga untuk bersama-sama bergerak menanggulangi TB, karena prinsip penuntasan TB atau memutus mata rantai penularan harus menemukan segera penderita, memastikan penderita berobat sampai sembuh, tidak putus obat dan menjadi TB resisten obat. Kami tracing juga kontak eratnya dan bagi yang berisiko tinggi seperti balita kita berikan terapi TB,” tuturnya.











