Peneliti Penn State Kembangkan Sensor Napas untuk Deteksi Diabetes

peneliti Penn State
Ilustrasi.

DINEWS.ID – Para peneliti Penn State mengembangkan sensor berbasis napas yang dapat mendeteksi diabetes secara cepat, mudah, dan tanpa rasa sakit. Sensor ini dibuat dengan teknik “memanggang” polimer hingga berubah menjadi graphene berpori.

Menurut Centers for Disease Control (CDC), dikutip New Atlas, Senin (1/9/2025), dari 38 juta orang yang menderita diabetes, sekitar satu dari lima orang tidak menyadari kondisinya. Sementara itu, dari mereka yang memiliki prediabetes, delapan dari sepuluh orang tidak mengetahuinya.

Kebutuhan akan metode tes yang praktis semakin mendesak agar orang dapat mengambil langkah pencegahan atau pengobatan.

Saat ini, tes diabetes biasanya dilakukan melalui darah di laboratorium atau klinik, yang umumnya memerlukan puasa semalam dan pemeriksaan lanjutan yang bisa memakan waktu beberapa hari.

Upaya deteksi melalui keringat sebelumnya dinilai kurang praktis karena membutuhkan olahraga atau sauna.

Tim Penn State menargetkan penanda diabetes dalam napas, khususnya asetona, produk samping pembakaran lemak. Kandungan asetona di atas 1,8 bagian per juta (ppm) bisa menjadi indikasi diabetes.

“Sensor lain yang mendeteksi glukosa lewat keringat memerlukan olahraga, bahan kimia, atau sauna, yang tidak selalu praktis,” kata peneliti utama Huanyu ‘Larry’ Cheng.

 “Sensor kami hanya perlu hembusan napas ke dalam kantong, celupkan sensor, dan tunggu beberapa menit untuk hasilnya.”

Sensor dibuat dengan membakar lembaran film polyimide menggunakan laser karbon dioksida, mengubahnya menjadi graphene berpori. Lubang-lubang pada graphene menangkap molekul asetona, yang kemudian difilter dengan saringan zinc oxide dan membran penahan molekul air untuk meningkatkan selektivitas.

Hasilnya adalah strip tipis yang sensitif, dapat mendeteksi diabetes maupun prediabetes, dan bisa digunakan ulang setelah 23 detik istirahat.

Ke depan, peneliti berencana mengembangkan sensor yang dapat dipasang di bawah hidung atau di masker, sehingga tes menjadi lebih mudah. Sensor ini juga berpotensi digunakan untuk diagnosis kesehatan lain.

“Jika kita bisa memahami bagaimana kadar asetona dalam napas berubah sesuai diet dan olahraga, ini membuka peluang menarik untuk aplikasi kesehatan selain diagnosis diabetes,” tutup Cheng. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *