Pada tahun 1971, mereka memutuskan untuk mulai memproduksi sepatu mereka sendiri dengan merek Nike, yang diambil dari nama dewi kemenangan Yunani. Merek sepatu baru ini mulai dikenal luas saat empat dari tujuh pelari maraton terbaik Olimpiade 1972 mengenakan sepatu mereka, meskipun peraih medali emas, perak, dan perunggu saat itu mengenakan sepatu Adidas.
Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1980, Nike akhirnya melantai di bursa saham AS. Namun sayangnya, pada tahun 1984, perusahaan tersebut mengalami kerugian, dan harga sahamnya terus turun.
Namun, Knight memiliki visi untuk mengembangkan Nike dari produsen sepatu lari menjadi pemain utama di pasar sepatu basket. Salah satu salesman Nike saat itu, Vaccaro, merekomendasikan untuk bermitra dengan Michael Jordan, seorang atlet basket pemula pada saat itu.
Knight turun langsung untuk menjalin kerjasama dengan Jordan, dan usahanya berhasil. Nike kemudian meluncurkan produk sepatu legendarisnya, Air Jordan. Dengan meningkatnya karier Jordan sebagai bintang NBA pada saat itu, nama Nike ikut terangkat.
Penjualan produk Air Jordan, yang awalnya hanya ditargetkan untuk mencetak keuntungan sebesar $3 juta (sekitar Rp 45,9 miliar) dalam tiga tahun pertama, ternyata berhasil menghasilkan $126 juta (sekitar Rp 1,92 triliun) hanya dalam satu tahun.
Kesuksesan ini terus dipertahankan oleh Knight dan Nike hingga merek ini akhirnya mendunia. Meski begitu, Knight akhirnya memutuskan untuk pensiun dan meninggalkan perusahaan pada tahun 2016. Setelah itu, dia hanya menikmati masa tuanya sebagai salah satu orang terkaya di dunia.








