DINEWS.ID – Komite Banding FIFA (FAC) menolak banding yang diajukan Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) terkait sanksi terhadap tujuh pemain naturalisasi karena penggunaan dokumen palsu. Dengan keputusan ini, hukuman yang dijatuhkan Komite Disiplin FIFA (FDC) pada 26 September 2025 tetap berlaku.
FAC mengumumkan hasil sidang pada Minggu (2/11/2025) pukul 21.00 WIB. “Setelah analisis dan sidang, FAC memutuskan untuk menolak banding tersebut,” bunyi pernyataan resmi FIFA.
Sebagai konsekuensi, FAM didenda 350.000 franc Swiss (sekitar Rp 11,5 miliar), sedangkan tujuh pemain—Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Jon Irazabal, Gabriel Palmero, Hector Hevel, dan Joao Figueiredo—mendapat denda 2.000 franc Swiss masing-masing dan larangan bermain selama 12 bulan.
Sanksi diberikan karena dugaan pemalsuan akta kelahiran yang digunakan FAM dalam proses naturalisasi. Dokumen yang diajukan FAM menyebut kakek atau nenek para pemain lahir di Malaysia, namun investigasi FIFA menunjukkan leluhur mereka lahir di Argentina, Belanda, dan Spanyol.
Komite Disiplin FIFA menilai FAM lalai dan terlibat pemalsuan dokumen agar para pemain bisa tampil di tim nasional. FAM membantah tuduhan tersebut dan menegaskan semua dokumen telah diverifikasi sesuai prosedur.
“Kami bertindak dengan itikad baik dan mengikuti semua ketentuan FIFA,” kata FAM dalam pernyataan resmi.
FAM memiliki waktu 10 hari untuk meminta laporan banding lengkap dari FAC dan 21 hari untuk mengajukan banding lanjutan ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
Kasus ini berpotensi memengaruhi kelanjutan Malaysia di Kualifikasi Piala Asia 2027. Meski kini memimpin klasemen dengan 12 poin dari empat laga, tim nasional Malaysia bisa kalah WO 0-3 atau didiskualifikasi jika terbukti memainkan pemain tidak sah melawan Nepal dan Vietnam.
Keputusan akhir akan ditentukan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) setelah seluruh proses hukum tuntas. Sekretaris Jenderal AFC, John Paul Windsor, menyatakan keputusan akhir akan keluar paling lambat 31 Maret 2026, bersamaan dengan berakhirnya babak kualifikasi.
Kasus ini menjadi peringatan bagi semua federasi sepak bola nasional untuk mematuhi aturan FIFA dan memastikan keabsahan dokumen pemain naturalisasi.








