DINEWS.ID – Setelah lebih dari dua dkade sejak perilisan film horor ikonik 28 Days Years Later (2002), sutradara Danny Boyle dan penulis naskah Alex Garland kembali bekerja sama dalam proyek lanjutan bertajuk 28 Years Later. Film ini menghadirkan pendekatan baru terhadap genre zombie dengan nuansa emosional, psikologis, dan elemen drama keluarga.
Film ini berfokus pada karakter Spike (Alfie Williams), seorang anak berusia 12 tahun yang tinggal di sebuah pulau kecil terisolasi di Inggris, negara yang telah sepenuhnya dikarantina akibat wabah Rage Virus.
Dalam tradisi lokal, setiap anak yang menginjak usia remaja diwajibkan memburu satu orang yang terinfeksi sebagai bagian dari ritual kedewasaan. Spike memulai misi tersebut bersama ayahnya, Jamie (Aaron Taylor-Johnson).
Konflik berkembang saat ibu Spike, Isla (Jodie Comer), jatuh sakit karena penyakit misterius. Spike kemudian membawa ibunya ke hutan untuk mencari pertolongan dari Kelson (Ralph Fiennes), seorang pertapa eksentrik dengan gaya hidup nyentrik.
Film ini mengusung visual bergaya gritty yang menggabungkan format sinematik rasio 2.76:1 dengan footage digital, termasuk beberapa adegan yang direkam menggunakan kamera ponsel. Unsur sinematik diperkuat dengan penggunaan arsip sejarah Inggris, musik yang menghentak, serta atmosfer surealis yang intens.
Penampilan Alfie Williams disebut sebagai pusat kekuatan emosional film, sementara Ralph Fiennes, Jodie Comer, dan Aaron Taylor-Johnson turut menambah kedalaman karakter dalam dinamika keluarga di tengah krisis global. Meski demikian, kritik muncul terkait ritme babak tengah film yang melambat serta penyelesaian karakter Jamie yang dinilai kurang tuntas.
28 Years Later merupakan bagian pertama dari trilogi terbaru, dengan sekuel The Bone Temple dijadwalkan tayang tahun depan. Film ini disebut sebagai gebrakan baru dalam genre horor yang menggabungkan tema psikologis dan sosial, dan menjadi sorotan di kalangan penggemar film eksperimental. ***







