Ilmuwan China Kembangkan Robot Humanoid, Picu Pro-Kontra Etika

robot humanoid
Ilmuwan China kembangkan robot hamil berteknologi rahim buatan. Menuai pro-kontra etika, namun dianggap solusi bagi infertilitas yang meningkat. Foto : Dailymail.com

DINEWS.ID – China tengah mengembangkan robot humanoid yang dirancang mampu mengandung janin hingga proses kelahiran melalui teknologi rahim buatan. Robot tersebut diperkirakan akan meluncur pada 2026 dengan harga sekitar 100.000 yuan atau setara Rp200 juta.

Pengembang dari Kaiwa Technology, Dr. Zhang Qifeng, menjelaskan robot hamil bukan sekadar inkubator, melainkan humanoid yang mereplikasi seluruh proses kehamilan, mulai dari pembuahan hingga persalinan.

“Rahim buatan sudah berada pada tahap matang dan kini perlu ditanamkan ke dalam robot, sehingga manusia sungguhan dapat berinteraksi dengan robot untuk mencapai kehamilan,” kata Zhang dikutip Daily Mail, Selasa (19/8/2025).

Kehadiran prototipe robot hamil itu langsung menimbulkan pro dan kontra di media sosial China. Sebagian warganet menilai teknologi tersebut bermasalah secara etika karena memutus hubungan alami antara ibu dan anak.

Sebaliknya, ada pula yang mendukung dengan alasan dapat membantu keluarga yang gagal menjalani inseminasi buatan.

Teknologi rahim buatan sendiri bukan hal baru. Sebelumnya, ilmuwan di Philadelphia pernah menjaga anak domba prematur tetap hidup dalam kantong plastik biobag. Bedanya, biobag hanya berfungsi seperti inkubator, sementara robot hamil ditargetkan mampu mendukung janin sejak pembuahan hingga lahir.

Meski dianggap menjanjikan, sejumlah pihak menilai teknologi ini bisa merendahkan makna kehamilan bahkan berpotensi menimbulkan implikasi sosial. Aktivis feminis menyebutnya berisiko menjadi “akhir bagi perempuan”.

Namun survei terbaru menunjukkan generasi muda lebih terbuka, dengan 42 persen responden usia 18–24 tahun mendukung gagasan janin tumbuh di luar tubuh manusia.

Jika terealisasi, robot hamil disebut berpotensi menjadi solusi bagi China yang tengah menghadapi angka infertilitas tinggi. Data mencatat, tingkat infertilitas di negara itu meningkat dari 11,9 persen pada 2007 menjadi 18 persen pada 2020.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *