Indonesia Perkuat Hubungan Ekonomi dengan AS Lewat Kerja Sama Strategis

hubungan ekonomi
MoU PT Kilang Pertamina Internasional and ExxonMobil.

DINEWS.ID – Pemerintah Indonesia memperkuat hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat (AS) melalui berbagai kerja sama strategis. Pada Senin (7/7/2025), berlangsung pertemuan bisnis tingkat tinggi di Washington DC yang dihadiri sejumlah pejabat dan pelaku usaha dari kedua negara.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemitraan strategis komprehensif Indonesia-AS, khususnya di bidang perdagangan dan investasi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan bahwa Indonesia berkomitmen menjaga hubungan ekonomi yang selama ini telah terjalin baik dengan AS. Salah satunya melalui pembelian produk unggulan AS di sektor pertanian dan energi senilai total US$ 34 miliar atau sekitar Rp 550 triliun.

“Hubungan ekonomi antara Indonesia dan AS selama ini selalu baik dan perlu terus dijaga. Salah satu langkah untuk memperkuat hubungan ini adalah melalui komitmen para pelaku usaha Indonesia untuk membeli produk-produk unggulan AS,” ujar Airlangga.

Pertemuan ini difasilitasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama Kedutaan Besar RI di Washington DC. Sejumlah pemimpin industri strategis Indonesia turut hadir, antara lain dari PT Pertamina (Persero), PT Busana Apparel Group (mewakili Asosiasi Pertekstilan Indonesia), FKS Group, Sorini Agro Asia Corporindo, serta Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, para pelaku usaha Indonesia berdialog dengan mitra bisnis dari AS yang merupakan pemain utama di sektor energi dan pertanian global. Sejumlah nota kesepahaman (MoU) ditandatangani sebagai bentuk komitmen kerja sama lanjutan.

Wakil Duta Besar RI untuk AS, Sade Bimantara menyampaikan bahwa kerja sama ini tidak hanya memperkuat hubungan diplomatik, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat Indonesia.

“Kami meyakini, kemitraan ini dapat menciptakan ribuan lapangan kerja yang berkualitas, mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta meningkatkan pertukaran pengetahuan dan teknologi di kedua negara,” ujar Sade.

Pemerintah menekankan bahwa kerja sama ini dibangun atas dasar saling menghormati dan tujuan bersama untuk kemajuan. Nilai kesepakatan yang mencapai US$ 34 miliar diharapkan dapat berkontribusi pada kemakmuran bilateral, regional, maupun global. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *