PLTS Atap Makin Dilirik, Hemat Listrik Sekaligus Tekan Emisi

Panel surya PLTS Atap terpasang di atas bangunan untuk memanfaatkan energi matahari dan mengurangi penggunaan listrik dari sumber energi fosil.
Panel surya PLTS Atap terpasang di atas bangunan untuk memanfaatkan energi matahari dan mengurangi penggunaan listrik dari sumber energi fosil. Dok: Ilustrasi

DINEWS.ID – Atap rumah yang selama ini hanya melindungi penghuni dari panas dan hujan kini bisa memiliki fungsi tambahan: menghasilkan listrik. Melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap, sinar matahari dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan energi rumah tangga, perkantoran, hingga bangunan usaha.

Ketertarikan terhadap teknologi ini tidak lepas dari dua hal yang semakin penting bagi masyarakat, yakni efisiensi biaya listrik dan kepedulian terhadap lingkungan. Di tengah dorongan transisi energi, PLTS Atap menawarkan cara bagi konsumen untuk ikut memanfaatkan sumber energi terbarukan tanpa harus memiliki pembangkit listrik berskala besar.

Namun, memasang panel surya bukan berarti tagihan listrik otomatis hilang atau seluruh kebutuhan listrik bisa selalu dipenuhi dari matahari. Hasilnya bergantung pada kapasitas sistem, kondisi atap, intensitas sinar matahari, pola penggunaan listrik, serta ketentuan teknis dan regulasi yang berlaku.

Lantas, apa yang membuat PLTS Atap menarik, seberapa besar potensi efisiensinya, dan apa saja yang perlu dipahami sebelum memasangnya?

890

Dari Sinar Matahari Menjadi Listrik

PLTS Atap memanfaatkan panel fotovoltaik untuk mengubah energi matahari menjadi energi listrik. Listrik yang dihasilkan kemudian diatur melalui perangkat pendukung, termasuk inverter, agar dapat digunakan oleh peralatan listrik di bangunan sesuai desain sistemnya.

Pada siang hari, ketika sinar matahari tersedia, panel dapat menghasilkan listrik. Energi ini bisa membantu menyuplai berbagai kebutuhan, seperti penerangan, komputer, peralatan elektronik, atau mesin yang beroperasi pada waktu tersebut.

Karena itu, PLTS Atap berpotensi memberi manfaat lebih besar bagi rumah, kantor, dan tempat usaha yang memiliki konsumsi listrik cukup tinggi pada siang hari. Sebaliknya, bangunan yang sebagian besar menggunakan listrik pada malam hari perlu memperhitungkan pola konsumsi dan pilihan sistem yang sesuai.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dalam siaran pers pada 5 Maret 2024, mendorong pemanfaatan PLTS Atap sebagai bagian dari pengembangan energi baru dan terbarukan sekaligus upaya meningkatkan efisiensi energi, terutama pada siang hari. Informasi tersebut dimuat dalam laman resmi Kementerian ESDM mengenai aturan terbaru PLTS Atap.

Dengan demikian, manfaat panel surya bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak listrik yang dapat dihasilkan, tetapi juga seberapa tepat listrik itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan bangunan.

Efisiensi Bukan Sekadar Tagihan Turun

Salah satu alasan konsumen mempertimbangkan PLTS Atap adalah peluang mengurangi pembelian listrik dari jaringan. Ketika panel menghasilkan listrik dan bangunan menggunakannya secara langsung, sebagian kebutuhan energi dapat dipenuhi dari sumber tersebut.

Akan tetapi, besarnya penghematan tidak sama untuk setiap pengguna. Perhitungannya perlu mempertimbangkan konsumsi listrik harian, kapasitas panel, kondisi lokasi, biaya pemasangan, kebutuhan perawatan, umur peralatan, serta kemungkinan penggantian komponen.

Misalnya, bangunan yang menggunakan banyak peralatan listrik pada siang hari berpeluang memanfaatkan produksi panel secara langsung. Jika produksi listrik tidak sesuai dengan waktu pemakaian, manfaat ekonominya bisa berbeda. Oleh sebab itu, calon pengguna perlu melihat data pemakaian listrik dan meminta perhitungan teknis yang sesuai dengan kondisi bangunan, bukan hanya mengandalkan klaim penghematan dalam materi promosi.

Perlu pula dibedakan antara penghematan energi dan penghematan uang. Sistem dapat menghasilkan listrik dari matahari, tetapi biaya awal pemasangan tetap harus diperhitungkan. Waktu yang dibutuhkan untuk menutup biaya investasi melalui penghematan juga tidak dapat disamaratakan karena dipengaruhi harga perangkat, kapasitas sistem, pola pemakaian, dan kondisi operasional.

Artinya, PLTS Atap dapat menjadi investasi energi yang menarik, tetapi keputusan pemasangan sebaiknya dibuat berdasarkan perhitungan yang realistis.

Aturan Berubah, Calon Pengguna Perlu Memahami Ketentuannya

Aspek regulasi menjadi bagian penting sebelum seseorang memasang PLTS Atap yang terhubung dengan jaringan listrik umum.

Dalam siaran pers 5 Maret 2024, Kementerian ESDM menjelaskan bahwa Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024 mengatur PLTS Atap yang terhubung pada jaringan tenaga listrik pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum. Aturan tersebut mulai berlaku pada 31 Januari 2024 dan menggantikan Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 Tahun 2021.

Salah satu ketentuan penting dalam regulasi baru tersebut adalah kapasitas pemasangan PLTS Atap tidak lagi dibatasi sebesar 100 persen dari daya terpasang pelanggan, melainkan mengikuti kuota pengembangan yang tersedia. Kuota ditetapkan untuk wilayah atau klaster tertentu dan dipublikasikan oleh PLN melalui kanal resminya.

Perubahan penting lainnya adalah penghapusan mekanisme ekspor-impor listrik bagi pelanggan yang masuk dalam ketentuan regulasi tersebut. Artinya, kelebihan listrik yang dihasilkan PLTS Atap dan disalurkan ke jaringan tidak diperhitungkan sebagai pengurang tagihan listrik pelanggan.

Ketentuan ini perlu dipahami sejak awal. Calon pengguna tidak seharusnya menghitung keuntungan berdasarkan asumsi bahwa seluruh kelebihan listrik siang hari dapat menjadi kredit untuk pemakaian malam hari.

Karena kuota dan prosedur dapat memengaruhi rencana pemasangan, calon pelanggan perlu memeriksa informasi terbaru melalui kanal resmi Kementerian ESDM dan PLN sebelum membeli perangkat atau memulai instalasi.

Dampak Lingkungan: Mengurangi Ketergantungan pada Energi Fosil

Keuntungan PLTS Atap tidak berhenti pada urusan biaya. Pemanfaatan energi matahari juga berpotensi membantu mengurangi kebutuhan listrik yang berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil, bergantung pada kondisi sistem kelistrikan dan energi yang digantikannya.

Berbeda dengan pembangkit yang membakar bahan bakar untuk menghasilkan listrik, panel surya menghasilkan listrik dari cahaya matahari saat beroperasi tanpa proses pembakaran bahan bakar di lokasi panel. Karena itu, penggunaan energi surya dapat mendukung upaya menekan emisi gas rumah kaca dalam sistem energi.

Kementerian ESDM, dalam penjelasan mengenai regulasi PLTS Atap, mencantumkan penghematan tagihan listrik, pemanfaatan sumber energi terbarukan, dan kontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca sebagai tujuan penggunaan sistem tersebut.

Meski demikian, dampak lingkungan perlu dilihat secara menyeluruh. Produksi panel dan komponen elektronik membutuhkan bahan baku serta energi. Pada akhir masa pakainya, panel juga perlu dikelola agar tidak menimbulkan persoalan limbah.

International Renewable Energy Agency (IRENA) bersama International Energy Agency Photovoltaic Power Systems Programme pernah menerbitkan kajian mengenai pengelolaan panel fotovoltaik pada akhir masa pakainya. Kajian itu menyoroti potensi pemanfaatan kembali dan daur ulang panel untuk mengambil material yang masih bernilai.

Dengan kata lain, energi surya menawarkan peluang mengurangi emisi saat pembangkitan listrik, tetapi manfaat lingkungannya akan lebih baik jika perangkat dipasang secara tepat, dirawat dengan benar, dan dikelola secara bertanggung jawab setelah tidak lagi digunakan.

Tidak Semua Atap Cocok Dipasangi Panel

Sebelum mengambil keputusan, pemilik bangunan perlu memastikan kondisi atap mampu mendukung pemasangan. Luas bidang yang tersedia, kekuatan struktur, arah dan kemiringan atap, bayangan dari pohon atau bangunan lain, serta akses untuk perawatan dapat memengaruhi rancangan sistem.

Pemeriksaan teknis juga penting untuk menjaga keselamatan instalasi. Kementerian ESDM dalam siaran pers 24 Juli 2023 menegaskan bahwa pemasangan PLTS Atap perlu memenuhi kaidah keselamatan ketenagalistrikan.

Calon pengguna sebaiknya meminta penjelasan mengenai kapasitas yang direncanakan, perangkat yang digunakan, skema pengoperasian, kebutuhan perawatan, garansi, dan prosedur pemasangan sesuai aturan. Hindari memilih sistem hanya karena harga awalnya paling murah atau karena dijanjikan dapat menghilangkan seluruh tagihan listrik.

Jika kebutuhan listrik lebih banyak terjadi malam hari, calon pengguna perlu membahas pilihan teknis yang sesuai dengan pola pemakaian. Baterai dapat menjadi bagian dari rancangan tertentu, tetapi menambah kebutuhan biaya dan perhitungan sistem. Ketersediaan serta kelayakan teknisnya harus dinilai sesuai kebutuhan masing-masing bangunan.

PLTS Atap Perlu Perhitungan, Bukan Sekadar Tren

Meningkatnya perhatian terhadap energi bersih membuat PLTS Atap menjadi salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan. Teknologi ini memungkinkan pemilik rumah dan bangunan memanfaatkan sinar matahari untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik, sekaligus berkontribusi pada upaya mengurangi emisi.

Namun, keputusan memasang panel surya sebaiknya tidak didasarkan pada tren atau janji penghematan semata. Calon pengguna perlu menghitung kebutuhan energi, menilai kelayakan atap, memahami biaya investasi, memeriksa ketentuan kuota, dan memastikan pemasangan memenuhi persyaratan keselamatan.

Jika direncanakan secara tepat, PLTS Atap dapat menjadi bagian dari pengelolaan energi yang lebih efisien. Manfaatnya bukan hanya soal kemungkinan mengurangi pembelian listrik, tetapi juga tentang memanfaatkan sumber energi terbarukan secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, energi bersih tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Perencanaan yang matang, pemahaman regulasi, dan kebiasaan menggunakan listrik secara bijak tetap menjadi bagian penting agar manfaat PLTS Atap dapat dirasakan secara optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *