DINEWS.ID — Film yang menarik tidak hanya bergantung pada aktor, visual, atau efek khusus. Di balik cerita yang mampu membuat penonton tertawa, menangis, hingga memikirkan kembali kehidupan, ada naskah yang menjadi fondasi utama produksi film.
Naskah film atau skenario berfungsi sebagai panduan bagi sutradara, pemain, dan kru produksi dalam menerjemahkan cerita menjadi gambar dan suara. Karena itu, menulis skenario membutuhkan lebih dari sekadar ide menarik. Penulis juga perlu memahami karakter, konflik, alur cerita, dialog, serta cara menyampaikan pesan melalui adegan.
Pengembangan kemampuan menulis skenario menjadi bagian penting dalam pertumbuhan industri kreatif Indonesia. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), bersama Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) pada periode sebelumnya, pernah menjalankan program SCENE untuk mendukung pengembangan skenario film, televisi, dan layanan over-the-top (OTT).
Berdasarkan dokumen resmi pemerintah mengenai kegiatan ekonomi kreatif tahun 2023, program SCENE yang telah berjalan sejak 2020 berfokus pada pengembangan skenario yang menarik dan autentik. Pada 2023, program tersebut memfasilitasi dan membina 10 produk skenario film, televisi, dan OTT yang mengangkat potensi wisata serta budaya lokal.
Program tersebut menunjukkan bahwa pengembangan cerita dan kualitas naskah merupakan salah satu bagian penting dalam ekosistem perfilman Indonesia.
Lantas, bagaimana cara memulai menulis naskah film bagi pemula? Berikut tujuh langkah dasar yang dapat dipelajari.
1. Temukan Ide Cerita yang Memiliki Daya Tarik
Setiap naskah film berawal dari sebuah gagasan. Ide tersebut bisa muncul dari pengalaman sehari-hari, peristiwa sejarah, hubungan keluarga, kehidupan masyarakat, legenda daerah, atau persoalan sosial yang menarik untuk diangkat.
Namun, ide yang menarik belum tentu langsung menjadi cerita film yang kuat.
Penulis perlu menentukan apa yang membuat ceritanya berbeda dan mengapa penonton perlu mengikuti perjalanan tokoh di dalamnya.
Sebagai contoh, ide tentang seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya masih sangat luas. Cerita bisa menjadi lebih menarik ketika anak tersebut harus memilih antara mengejar cita-cita di kota lain atau tinggal untuk merawat orang tuanya yang sakit.
Dari satu gagasan sederhana, muncul konflik, pilihan sulit, dan kemungkinan perubahan karakter.
Penulis pemula dapat memulai dengan merangkum cerita dalam satu atau dua kalimat. Ringkasan singkat ini membantu menjaga fokus sebelum cerita dikembangkan menjadi skenario lengkap.
2. Tentukan Tokoh Utama dan Tujuannya
Tokoh merupakan salah satu unsur penting dalam cerita film. Penonton biasanya mengikuti perjalanan tokoh utama untuk melihat bagaimana ia menghadapi masalah, mengambil keputusan, dan mengalami perubahan.
Karena itu, penulis perlu memahami siapa tokoh utamanya, apa yang ingin dicapai, apa yang menghalanginya, serta apa yang dipertaruhkan jika ia gagal.
Tokoh yang menarik tidak harus selalu menjadi pahlawan yang sempurna. Ia dapat memiliki ketakutan, kebiasaan buruk, kekurangan, atau keyakinan yang keliru.
Justru, kelemahan tersebut dapat menjadi sumber konflik yang membuat perjalanan tokoh terasa manusiawi.
Misalnya, tokoh yang ingin menjadi pembuat film terkenal mungkin memiliki kreativitas tinggi, tetapi takut memperlihatkan karyanya karena khawatir ditolak. Konflik tidak hanya datang dari persaingan dengan orang lain, tetapi juga dari pergulatan dalam dirinya sendiri.
3. Bangun Konflik yang Menggerakkan Cerita
Cerita membutuhkan konflik agar perjalanan tokoh tidak terasa datar.
Konflik dapat berupa pertentangan dengan tokoh lain, keadaan ekonomi, tekanan keluarga, persoalan sosial, atau pergulatan batin. Yang terpenting, konflik harus berkaitan dengan tujuan tokoh utama.
Penulis dapat mengembangkan konflik secara bertahap. Pada awal cerita, penonton diperkenalkan dengan kehidupan tokoh. Kemudian, sebuah peristiwa mengganggu keadaan tersebut dan memaksanya mengambil tindakan.
Seiring berjalannya cerita, masalah menjadi semakin rumit hingga tokoh harus membuat keputusan penting.
Konflik tidak selalu harus berupa pertengkaran atau adegan penuh ketegangan. Percakapan sederhana antara anak dan orang tua pun dapat menjadi konflik kuat apabila keduanya memiliki keinginan yang berbeda.
Dengan konflik yang jelas, penonton memiliki alasan untuk terus mengikuti cerita sampai akhir.
4. Susun Alur dari Awal, Tengah, hingga Akhir
Setelah memiliki ide, tokoh, dan konflik, penulis dapat menyusun kerangka cerita.
Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah membagi cerita menjadi tiga bagian.
Bagian awal memperkenalkan tokoh, latar, dan keadaan sebelum konflik utama berkembang. Bagian ini juga perlu memberi alasan kepada penonton untuk tertarik pada cerita.
Bagian tengah memperlihatkan upaya tokoh menyelesaikan masalah. Hambatan bertambah, hubungan antartokoh berkembang, dan keputusan yang diambil mulai membawa konsekuensi.
Bagian akhir menghadirkan penyelesaian konflik utama. Tokoh dapat berhasil, gagal, atau memperoleh hasil yang tidak sepenuhnya sesuai harapan. Akhir cerita sebaiknya tetap terasa berkaitan dengan pilihan dan perjalanan tokoh sebelumnya.
Pembagian tersebut bukan aturan mutlak. Penulis dapat menggunakan struktur lain sesuai kebutuhan cerita. Namun, kerangka awal membantu menghindari alur yang berputar-putar atau konflik yang muncul tanpa alasan jelas.
5. Tulis Dialog yang Alami dan Sesuai Karakter
Dialog dalam film bukan sekadar sarana untuk menyampaikan informasi. Percakapan juga dapat memperlihatkan kepribadian, hubungan, emosi, dan konflik antartokoh.
Setiap tokoh sebaiknya memiliki cara berbicara yang sesuai dengan latar belakang, usia, lingkungan, serta situasi yang dihadapinya.
Dialog seorang remaja, misalnya, tidak harus terdengar sama dengan dialog seorang guru atau pedagang yang telah puluhan tahun bekerja di pasar.
Penulis juga tidak perlu menjelaskan semua hal melalui percakapan. Informasi dapat disampaikan melalui tindakan, ekspresi, suasana, atau benda yang muncul dalam adegan.
Jika seorang tokoh sedang marah, ia tidak selalu harus mengatakan, “Aku sangat marah.” Sikap diam, tatapan, atau tindakan menghindari seseorang dapat menyampaikan emosi dengan lebih kuat, bergantung pada konteks cerita.
Dialog yang efektif membantu cerita bergerak sekaligus memberi ruang bagi penonton untuk memahami makna di balik perkataan tokoh.
6. Gunakan Format Skenario yang Mudah Dipahami
Naskah film berbeda dari cerpen atau novel. Skenario perlu disusun agar dapat diterjemahkan menjadi adegan audiovisual oleh tim produksi.
Secara umum, skenario memuat penanda adegan, keterangan tempat dan waktu, deskripsi tindakan yang terlihat atau terdengar, nama tokoh yang berbicara, serta dialog.
Contoh sederhana:
INT. RUANG TAMU – MALAM
Rina duduk di sofa sambil memegang surat yang belum dibuka. Suara hujan terdengar dari luar rumah.
RINA
(pelan)
Kalau aku baca sekarang, semuanya mungkin berubah.
Rina menarik napas panjang, lalu membuka surat itu perlahan.
Contoh tersebut memperlihatkan bagaimana lokasi, waktu, tindakan, dan dialog disusun agar adegan dapat dibayangkan secara visual.
Penulis pemula tidak harus langsung menguasai seluruh istilah teknis produksi. Hal terpenting adalah menjaga kejelasan adegan dan menulis tindakan yang dapat diwujudkan di layar.
7. Revisi Naskah dan Minta Masukan
Draf pertama belum tentu menjadi naskah terbaik. Setelah menyelesaikan cerita, penulis perlu membacanya kembali untuk menilai apakah konflik berkembang secara masuk akal, karakter memiliki tujuan yang jelas, dan dialog terdengar alami.
Periksa juga apakah ada adegan yang tidak memberikan kontribusi terhadap cerita. Jika sebuah adegan tidak memperkuat karakter, mengembangkan konflik, atau memberikan informasi penting, pertimbangkan untuk memperbaiki atau menghapusnya.
Meminta masukan dari pembaca lain juga dapat membantu. Orang yang tidak terlibat dalam proses penulisan mungkin menemukan bagian yang membingungkan atau kurang meyakinkan.
Penulis dapat bergabung dengan komunitas penulisan, mengikuti pelatihan, atau mempelajari program pengembangan skenario yang diselenggarakan oleh lembaga terkait apabila tersedia.
Program SCENE yang pernah dijalankan Kemenparekraf/Baparekraf merupakan salah satu contoh upaya pemerintah dalam mendorong kualitas skenario. Namun, calon peserta perlu memeriksa pengumuman resmi untuk mengetahui apakah program serupa sedang dibuka, termasuk syarat dan jadwalnya.
Cerita Lokal Bisa Menjadi Kekuatan Film Indonesia
Indonesia memiliki kekayaan budaya, bahasa, sejarah, tradisi, dan pengalaman masyarakat yang dapat menjadi sumber cerita film. Kisah tentang kehidupan di desa, perubahan kota, perjuangan keluarga, hingga tradisi daerah dapat dikembangkan menjadi cerita yang relevan bagi penonton.
Mengangkat unsur lokal bukan berarti cerita hanya dapat dipahami oleh masyarakat dari daerah tersebut. Jika karakter dan konfliknya dibangun dengan baik, pengalaman yang sangat lokal pun dapat menyentuh penonton dari latar belakang berbeda.
Dokumen pemerintah mengenai program SCENE pada 2023 juga mencatat fokus pada pengembangan skenario yang mengangkat potensi wisata dan budaya lokal. Hal ini memperlihatkan salah satu jalur yang pernah ditempuh pemerintah untuk menghubungkan kreativitas penulis dengan kekayaan daerah Indonesia.
Pada akhirnya, menulis naskah film adalah proses belajar yang membutuhkan latihan, pengamatan, dan keberanian untuk memperbaiki karya sendiri.
Penulis pemula tidak harus menunggu sampai memiliki ide yang sempurna. Mulailah dengan cerita sederhana, kenali tokohnya, bangun konflik, lalu susun adegan secara bertahap.
Sebab, film yang berkesan tidak selalu berawal dari cerita yang rumit. Sering kali, cerita yang kuat justru lahir dari pengalaman manusia yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.








