DINEWS.ID – Indonesia dikenal memiliki kekayaan buah tropis yang beragam. Namun, tidak semua buah lokal masih akrab di lidah masyarakat. Di tengah populernya apel, anggur, dan berbagai buah impor, sejumlah buah Nusantara justru semakin jarang dijumpai di pasar maupun dikonsumsi generasi muda.
Beberapa di antaranya adalah kemang, matoa, jamblang, buni, bisbul, menteng, dan gandaria. Buah-buahan ini memiliki ciri khas, mulai dari rasa asam-manis, warna yang mencolok, hingga aroma yang berbeda dari buah yang umum dikonsumsi sehari-hari.
Kementerian Pertanian pernah menampilkan sejumlah buah langka dan eksotis dari berbagai wilayah Indonesia dalam kegiatan Jambore Hortikultura. Buah-buahan seperti kemang, menteng, dan matoa menjadi bagian dari kekayaan hayati Nusantara yang perlu diperkenalkan kembali kepada masyarakat.
Selain menawarkan cita rasa khas, buah lokal juga berpotensi menjadi sumber zat gizi untuk melengkapi pola makan sehari-hari. Karena itu, mengenal buah Nusantara bukan sekadar menambah pengetahuan kuliner, tetapi juga membuka peluang untuk lebih menghargai keanekaragaman pangan Indonesia. Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian.
1. Kemang, Buah Khas yang Mirip Mangga
Kemang merupakan salah satu buah yang dikenal di wilayah Bogor dan sekitarnya. Bentuknya menyerupai mangga, tetapi memiliki kulit berwarna kecokelatan, daging buah putih, serta rasa asam-manis dengan aroma khas.
Kemang juga memiliki potensi gizi yang menarik. Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa buah ini mengandung sejumlah zat gizi, di antaranya fosfor, vitamin A, vitamin B1, vitamin C, protein, karbohidrat, dan kalsium.
Kandungan tersebut membuat kemang layak diperhitungkan sebagai bagian dari variasi pangan lokal. Vitamin A berperan dalam mendukung kesehatan mata, vitamin C membantu fungsi normal sistem kekebalan tubuh, sedangkan kalsium dan fosfor diperlukan untuk menjaga kesehatan tulang.
Meski demikian, manfaat tersebut perlu dipahami sebagai fungsi zat gizi di dalam pola makan yang seimbang, bukan sebagai bukti bahwa kemang dapat mengobati penyakit tertentu.
Keberadaan kemang juga mengingatkan masyarakat bahwa buah lokal memiliki nilai budaya dan potensi pangan yang tidak kalah menarik untuk dikenalkan kepada generasi berikutnya.
2. Matoa, Buah Khas Papua dengan Rasa Unik
Matoa (Pometia pinnata) merupakan buah yang dikenal sebagai tanaman khas Papua. Buahnya memiliki daging berwarna putih bening dengan tekstur yang kerap dibandingkan dengan kelengkeng dan leci.
Berdasarkan informasi Pusat Perpustakaan dan Literasi Pertanian Kementerian Pertanian pada Desember 2025, matoa mempunyai beberapa variasi warna kulit, mulai dari hijau, merah, ungu, hingga cokelat. Berdasarkan tekstur dagingnya, dikenal pula matoa kelapa dan matoa papeda.
Matoa menarik untuk dikenalkan bukan hanya karena rasanya, melainkan juga karena merupakan bagian dari keanekaragaman tanaman buah Indonesia. Buah segar seperti matoa dapat melengkapi konsumsi buah harian, dengan kandungan gizi yang perlu dinilai berdasarkan data komposisi pangan yang terukur.
Pengenalan matoa juga dapat membantu masyarakat memahami bahwa kekayaan buah Indonesia tidak hanya berasal dari wilayah yang selama ini menjadi sentra buah populer, tetapi juga dari kawasan timur Nusantara.
Informasi mengenai karakteristik dan budidaya matoa dapat ditemukan melalui Pusat Perpustakaan dan Literasi Pertanian Kementerian Pertanian.
3. Jamblang, Buah Ungu yang Mulai Terlupakan
Jamblang, yang juga dikenal sebagai duwet, merupakan buah dengan warna kulit ungu tua hingga kehitaman ketika matang. Rasanya khas, mulai dari manis hingga sedikit sepat.
Warna ungu pada sejumlah buah dapat berasal dari antosianin, yaitu kelompok pigmen alami yang juga dikenal memiliki aktivitas antioksidan. Namun, kadar antosianin dan komposisi gizinya dapat berbeda menurut jenis buah, tingkat kematangan, dan kondisi penyimpanan.
Jamblang dapat menjadi alternatif untuk memperkaya variasi buah yang dikonsumsi sehari-hari. Buah ini juga berpotensi diperkenalkan kembali melalui olahan pangan, selama pengolahannya tetap memperhatikan kebersihan dan keamanan pangan.
Meski demikian, klaim bahwa jamblang dapat menurunkan gula darah atau menyembuhkan penyakit tertentu tidak boleh dianggap sebagai kepastian tanpa dukungan bukti klinis yang memadai.
4. Buni, Buah Kecil dengan Warna Menarik
Buni merupakan buah lokal yang tumbuh dalam rangkaian buah kecil. Ketika matang, buah ini dapat berubah menjadi merah tua hingga ungu gelap. Rasanya cenderung asam dengan sedikit rasa sepat.
Buah buni dapat dimanfaatkan sebagai bahan olahan pangan, misalnya untuk campuran rujak atau produk olahan buah. Warna alaminya juga membuat buah ini menarik untuk dikenalkan sebagai bagian dari kekayaan bahan pangan lokal.
Panduan koleksi tanaman dari Balai Standardisasi Instrumen Pertanian Jakarta mencatat buni dengan nama ilmiah Antidesma bunius. Panduan tersebut juga memuat informasi pemanfaatan buah ini dalam pangan lokal.
Sebagai buah, buni dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperluas variasi konsumsi buah. Namun, manfaat spesifik bagi kesehatan tetap perlu didasarkan pada penelitian dan data kandungan gizinya, bukan hanya pada warna atau cerita yang beredar di masyarakat.
5. Bisbul, Buah dengan Kulit Berbulu Halus
Bisbul (Diospyros blancoi) dikenal pula sebagai buah mentega atau velvet apple. Ciri yang paling mudah dikenali adalah kulitnya yang memiliki bulu halus, dengan warna yang dapat terlihat merah kecokelatan ketika matang.
Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta menjelaskan bahwa bisbul termasuk kelompok tanaman yang berkerabat dengan kesemek dan kayu hitam. Pohonnya dapat tumbuh cukup tinggi sehingga juga dikenal sebagai tanaman buah sekaligus tanaman penghijauan.
Dari sisi konsumsi, bisbul dapat menjadi alternatif buah segar untuk menambah keragaman menu. Seperti buah lainnya, kandungan gizi dan manfaat spesifiknya perlu merujuk pada data yang sesuai, termasuk komposisi buah matang yang benar-benar dikonsumsi.
Bisbul juga menarik untuk diperkenalkan sebagai buah yang memiliki karakter fisik berbeda dari kebanyakan buah yang biasa ditemukan di supermarket.
6. Menteng, Buah Lokal dengan Rasa Asam
Menteng merupakan salah satu buah yang pernah dikenal di berbagai wilayah Indonesia, tetapi kini tidak selalu mudah ditemukan di pasar umum. Buah ini berukuran relatif kecil dan memiliki rasa asam yang khas.
Menteng termasuk buah yang menarik untuk dikenalkan kembali melalui cerita tentang pangan lokal dan keanekaragaman tanaman buah. Konsumsi buah dengan jenis yang bervariasi membantu masyarakat tidak hanya bergantung pada beberapa buah yang paling populer.
Untuk mengetahui manfaat gizinya secara lebih terperinci, diperlukan data komposisi yang sesuai dengan spesies dan bagian buah yang dikonsumsi. Karena itu, menteng lebih tepat diperkenalkan sebagai salah satu sumber pangan lokal yang potensial daripada dikaitkan dengan klaim pengobatan tertentu.
7. Gandaria, Buah Tropis yang Bisa Diolah Menjadi Sambal
Gandaria merupakan buah tropis yang dikenal di sejumlah wilayah Indonesia. Buah yang masih muda biasanya memiliki rasa asam dan dapat digunakan sebagai bahan campuran sambal atau olahan makanan. Ketika matang, warnanya berubah dan rasa buahnya menjadi lebih menarik untuk dinikmati.
Gandaria memperlihatkan bahwa buah lokal tidak selalu harus dikonsumsi langsung sebagai buah meja. Sebagian dapat menjadi bahan masakan yang menambah rasa dan memperkaya variasi pangan sehari-hari.
Seperti buah pada umumnya, gandaria dapat berkontribusi terhadap variasi asupan zat gizi. Namun, klaim manfaat khusus perlu didukung penelitian atau data komposisi pangan yang dapat diverifikasi.
Mengapa Buah Lokal Perlu Dikenalkan Kembali?
Buah-buahan Nusantara memiliki nilai lebih dari sekadar rasa. Keberadaannya berkaitan dengan keragaman hayati, pengetahuan masyarakat setempat, dan peluang pengembangan pangan berbasis potensi daerah.
Mengenalkan kembali buah yang jarang dijumpai juga dapat membuka peluang bagi petani, pelaku usaha olahan pangan, dan pengelola wisata berbasis alam untuk mengembangkan produk lokal.
Masyarakat dapat ikut mendukung upaya tersebut dengan mengenali buah yang tumbuh di daerahnya, membeli produk dari sumber yang jelas, serta menanam pohon buah lokal yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Untuk buah yang belum dikenal, penting pula memastikan identitasnya sebelum dikonsumsi.
Pada akhirnya, kekayaan buah Indonesia tidak hanya diukur dari buah yang banyak dijual atau diekspor. Buah yang mulai terlupakan pun merupakan bagian dari keanekaragaman pangan yang patut dipelajari dan dilestarikan.







