Okupansi Hotel di Kota Bogor Selama Libur Sekolah Naik 57 Persen

WhatsApp Image 2026 07 13 at 18.25.21
Ketua PHRI Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay

DINEWS.IDPerhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor mencatat adanya tren peningkatan keterisian kamar (okupansi) hotel selama masa libur sekolah tahun 2026.

Kendati demikian, pencapaian tahun ini dinilai belum mampu menyamai performa periode libur sekolah pada dua hingga tiga tahun yang lalu akibat faktor daya beli masyarakat yang masih lemah.

Ketua PHRI Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay, mengungkapkan bahwa tingkat okupansi hotel di wilayahnya mengalami kenaikan sekitar 25 persen hingga 27 persen jika dibandingkan dengan hari-hari biasa (non-libur sekolah).

​”Jika dihitung secara rata-rata untuk wilayah Kota Bogor, tingkat keterisian kamar hotel pada musim libur sekolah kali ini berada di angka 57 persen. Performa ini tentu bergantung lagi pada tipe dan klasifikasi bintang masing-masing hotel, terlebih saat ini persaingan juga datang dari penginapan non-hotel berbasis aplikasi daring,” ujar Yuno saat diwawancarai, Sabtu (11/07/2026).

​Yuno meyakini melemahnya daya beli menjadi salah satu pemicu utama mengapa pertumbuhan okupansi belum maksimal. Menghadapi situasi tersebut, 68 hotel yang berada di bawah naungan PHRI Kota Bogor terus menggencarkan strategi promosi adaptif, termasuk berkolaborasi dengan pelaku usaha restoran dan destinasi wisata untuk meluncurkan paket wisata terpadu.

​”Kami juga sangat memperhatikan masalah harga. Jangan sampai harga yang ditawarkan justru memberatkan konsumen, sehingga membuat daya beli mereka yang sudah rendah menjadi semakin susah. Faktor harga ini terus kami pantau,” tambahnya.

Kota Bogor Jadi Sentra Kuliner dan Penginapan

​Mengenai tren pergerakan wisatawan, Yuno menjelaskan adanya pembagian zona aktivitas yang unik antara wilayah kota dan kabupaten. Selama liburan, Kebun Raya Bogor tetap menjadi magnet utama di pusat kota. Namun, banyak pula wisatawan yang memanfaatkan Kota Bogor sebagai basis penginapan dan berburu kuliner, sementara destinasi wisatanya mengarah ke wilayah Kabupaten Bogor.

​”Memang sudah menjadi kebiasaan; sentra kulinernya ada di kota, sedangkan destinasi alam atau wisatanya banyak tersebar di kabupaten,” jelas Yuno.

​Mengingat masa libur sekolah akan segera berakhir dan aktivitas belajar mengajar kembali dimulai pada pekan depan, Yuno memperkirakan bahwa akhir pekan ini menjadi puncak sekaligus penutup momen kunjungan wisata.

​Untuk menjaga iklim pariwisata tetap kondusif, PHRI berharap dukungan penuh dari Pemerintah Kota Bogor, terutama dalam mengoptimalkan kenyamanan para pelancong.

“Dukungan tersebut bisa berupa menjaga kelancaran lalu lintas, ketertiban, serta kenyamanan bagi para tamu yang berkunjung,” pungkasnya. (Yis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *