Ini Alasan Pemkot Bogor Pilih Teknologi Insinerator untuk Proyek PSEL

IMG 20260526 WA0022 scaled
Wali Kota Bogor Dedie Rachim saat melakukan sosialisasi PSEL di Kantor PWI Kota Bogor, Selasa 26 Mei 2026.

DINEWS.ID – Pemerintah Kota Bogor membeberkan alasan teknis pemilihan teknologi Waste to Energy berbasis insinerator dalam proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Teknologi ini dipilih sebagai solusi paling rasional untuk memangkas volume sampah residu di tengah krisis keterbatasan lahan TPA.

Dalam sosialisasi di Kantor PWI Kota Bogor, Selasa (26/5/2026), Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menegaskan kondisi darurat sampah memerlukan tindakan cepat, terukur, dan tidak bisa lagi mengandalkan metode konvensional.

Director Project and Stakeholder Management Danantara Waste Energy, Maulana Muhammad, menjelaskan keunggulan utama insinerator adalah kemampuannya mereduksi volume sampah secara instan dan masif dalam ruang bakar bersuhu tinggi.

“Teknologi insinerator yang digunakan mampu mengurangi volume sampah hingga 90 sampai 100 persen tanpa menyisakan limbah dalam jumlah besar,” ujar Maulana.

Selain kecepatan reduksi, pemilihan teknologi ini juga didasari pemenuhan standar regulasi lingkungan yang ketat. Pemkot Bogor memastikan operasionalnya tidak menimbulkan dampak buruk bagi warga di sekitar lokasi pembangunan di Galuga dan Kayu Manis.

Sistem insinerator yang digunakan mengusung konsep zero emission dan zero odor. Panas dari pembakaran sampah residu dikonversi menjadi energi listrik untuk disalurkan ke PLN. Sisa abu pembakaran berupa fly ash dan bottom ash akan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri konstruksi, sehingga tidak mencemari lingkungan.

Teknologi ini juga dinilai fleksibel dan tidak mengganggu rantai ekonomi sirkular yang sudah berjalan di masyarakat. Dedie meluruskan kekhawatiran publik bahwa insinerator akan membakar semua jenis sampah.

“Konsepnya adalah membakar sampah yang sama sekali tidak punya nilai ekonomi lagi. Jadi yang masih bernilai tetap dikelola melalui TPS 3R dan bank sampah,” tegas Dedie.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, Denni Wismanto, menambahkan operasional PSEL berkapasitas 1.000 ton per hari dapat mengurangi sekitar 180 ribu ton emisi CO₂ per tahun sekaligus menekan penggunaan batu bara.

“Dengan kapasitas 1.000 ton per hari, kita bisa mengurangi sekitar 180 ribu ton emisi CO₂. Selain itu, penggunaan batu bara juga bisa ditekan,” ungkap Denni. (Yis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *