5 Film Indonesia yang Pernah Tayang di Festival Film Cannes

Film Indonesia
Tjoet Nja' Dhien (1988)

DINEWS.ID – Para pelaku industri film Indonesia berbondong-bondong hadir di Festival Film Cannes 2025 untuk mempromosikan kekayaan sinema tanah air ke kancah global. Mereka membawa sejumlah film untuk ambil bagian dalam berbagai program di ajang film bergengsi dunia ini.

Sebagian besar proyek yang dibawa sebagai delegasi Indonesia akan mengikuti Cannes Film Market atau Marché du Film de Cannes. Di antaranya adalah Jumbo, Ikatan Darah, Pangku, Monster Pabrik Rambut, serta proyek biopik Rose Pandanwangi.

Namun, jauh sebelum itu, sejumlah film panjang karya sineas Indonesia telah lebih dulu mencuri perhatian di berbagai program dan sub-festival Cannes selama lebih dari tiga dekade terakhir.

Banyak dari film-film tersebut melibatkan nama Garin Nugroho, seperti Daun di Atas Bantal yang ia sutradarai dan tulis, dengan Christine Hakim sebagai pemeran utama. Selain itu, ada juga Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly Surya, serta film dokumenter Serambi.

Berikut adalah lima film Indonesia yang pernah diputar di Festival Film Cannes:

1. Tjoet Nja’ Dhien (1988)
Film karya Eros Djarot ini ditayangkan dalam program La Semaine de la Critique pada Cannes 1989. Program ini berfokus pada pengenalan bakat baru lewat film panjang perdana atau kedua dari para sineas.

Tjoet Nja’ Dhien mengisahkan perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajahan Belanda, dengan tokoh utama Cut Nyak Dhien yang meneruskan perjuangan suaminya, Teuku Umar. Meskipun dalam kondisi kesehatan yang menurun, ia tetap memimpin perlawanan hingga akhirnya ditangkap akibat pengkhianatan letnannya sendiri.

2. Daun di Atas Bantal (1998)
Diputar di seksi Un Certain Regard Cannes 1998, film ini menampilkan kehidupan tiga anak jalanan di Yogyakarta yang tetap memiliki harapan di tengah kemiskinan. Digarap Garin Nugroho, film ini menggambarkan dinamika kerasnya hidup di jalanan, dengan sentuhan kemanusiaan melalui karakter Asih, seorang perempuan yang memberi mereka tempat tinggal.

3. Serambi (2005)
Film dokumenter ini lolos seleksi Un Certain Regard di Cannes 2006. Serambi menyoroti kehidupan masyarakat Aceh pascatsunami, menampilkan kisah dari tiga generasi yang mencoba bangkit dari trauma dan membangun kembali kehidupan mereka.

4. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2016)
Film ini masuk seleksi L’Atelier du Festival Cannes, sebuah program untuk menghubungkan proyek-proyek film dengan mitra produksi dan distribusi global. Marlina juga diputar perdana dalam Director’s Fortnight Cannes 2017, sebuah acara independen di Cannes yang menampilkan karya-karya sinematik paling unik.

Film ini mengisahkan Marlina, seorang janda yang membalas dendam terhadap kelompok perampok yang mengancam dirinya. Kisahnya menjadi simbol perlawanan perempuan dengan gaya sinema yang kuat dan berani.

5. Lewat Djam Malam (1954)
Karya klasik Usmar Ismail ini ditayangkan dalam Cannes Classics 2012 setelah direstorasi. Film ini mengangkat tema kekecewaan seorang veteran perang terhadap kondisi sosial-politik Indonesia setelah kemerdekaan. Dengan naskah dari Asrul Sani, film ini dianggap sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah perfilman nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *